Ancaman Polarisasi Politik Jadi Tantangan Pascapemilu

KORDIV Penanganan Pelanggaran dan Data Informasi Bawaslu Bali, I Wayan Wirka. Foto: ist
KORDIV Penanganan Pelanggaran dan Data Informasi Bawaslu Bali, I Wayan Wirka. Foto: ist

POSMERDEKA.COM, BULELENG – Perbedaan pilihan politik merupakan hal yang wajar dalam demokrasi, tapi harus tetap ditempatkan dalam kerangka persatuan dan kepentingan kebangsaan. Di sisi lain, stabilitas demokrasi pascapemilu sangat ditentukan oleh kemampuan seluruh elemen masyarakat, dalam merespons hasil pemilu secara dewasa dan konstitusional. Demikian pandangan Kordiv Penanganan Pelanggaran dan Data Informasi Bawaslu Bali, I Wayan Wirka, Senin (22/6/2026).

“Hasil pemilu merupakan manifestasi dari kedaulatan rakyat yang disalurkan melalui mekanisme demokratis yang sah. Karena itu, penerimaan terhadap hasil tersebut menjadi bagian dari komitmen bersama dalam menjaga keberlanjutan kehidupan demokrasi yang tertib dan stabil,” ujarnya usai rapat koordinasi di Bawaslu Buleleng.

Read More

Wirka menyampaikan, berakhirnya seluruh tahapan pemilu tidak serta merta mengakhiri tanggung jawab publik dalam menjaga kualitas demokrasi. Pada fase ini, sambungnya, seluruh elemen bangsa tetap memiliki peran untuk memastikan situasi politik tetap kondusif. Pula mendukung keberlanjutan agenda pembangunan nasional sesuai mandat rakyat.

“Pemerintahan yang terbentuk melalui proses demokrasi perlu diberi ruang untuk menjalankan program, visi, dan misi yang disampaikan kepada masyarakat selama masa kampanye. Hal tersebut merupakan bagian dari siklus akuntabilitas dalam sistem demokrasi yang sehat,” ucapnya.

Meski demikian, Wirka mengingatkan bahwa demokrasi tidak berhenti pada proses pemungutan suara. Partisipasi publik tetap menjadi elemen penting, terutama dalam bentuk pengawasan, kritik, dan masukan yang disampaikan secara konstruktif terhadap jalannya pemerintahan. Demokrasi dinilai membutuhkan keterlibatan warga secara aktif. Kritik yang membangun justru menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas kebijakan dan tata kelola pemerintahan.

Lebih jauh dia mengajak masyarakat untuk menjaga ruang publik tetap sehat, dan tidak terjebak dalam polarisasi yang berkepanjangan. Menurutnya, solidaritas sosial merupakan modal penting dalam merawat kehidupan demokrasi yang stabil dan berkelanjutan. Tantangan utama pascapemilu, ulasnya, bukan terletak pada perbedaan politik itu sendiri, melainkan pada kemampuan kolektif dalam mengelola perbedaan agar tidak mengganggu kohesi sosial. Pun arah pembangunan nasional.

“Pada akhirnya, demokrasi harus ditempatkan sebagai sarana bersama untuk memperkuat persatuan sekaligus mendorong kemajuan bangsa, dengan tetap membuka ruang bagi kritik yang bertanggung jawab terhadap jalannya pemerintahan,” pesannya memungkasi. hen

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.