MATARAM – Para da’i yang bergabung dalam Ikatan Da’i Indonesia (Ikadi) idealnya tidak hanya sebagai penceramah atau komunikator ulung. Mereka juga diharap dapat menjadi sosok yang berfungsi sebagai konselor, problem solver (penyelesai masalah), dan motivator.
“Yang utama, para da’i harus bisa menjadi inspirator bagi jamaah untuk mengibarkan panji-panji Islam Rahmatan Lil Alamin,” pinta Sekda NTB, HL Gita Ariadi, yang mewakili Gubernur Zulkieflimansyah saat menutup Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Ikadi, Selasa (24/1/2023) malam.
Menurut Gita, penyebaran syiar Islam Wasathiyah yang di dalamnya mengajarkan kesejukan dan kerukunan di tengah umat Islam, harus terus disuarakan. Terlebih menjaga keutuhan NKRI agar tetap rukun dan damai di tahun politik dalam waktu dekat ini, juga menjadi tanggung jawab para dai. Umat Islam butuh kesejukan dan kedamaian, dan poin ini dia tekankan.
“Sebab, di depan mata kita, saat ini hingga tahun depan sudah mulai masuk agenda politik. Maka ceramah yang sejuk harus terus disuarakan untuk menjaga keutuhan NKRI,” lugas Gita di hadapan 400 pengurus Ikadi seluruh Indonesia.
Dalam kesempatan itu, Gita bersama Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid, menyerahkan piala kepada pemenang Grand Ikadi Award 2022. Provinsi NTB menerima beberapa kategori penghargaan, yakni Zulkieflimansyah sebagai Pemerintah Peduli Dakwah Islam Universal, PT Bank NTB Syariah sebagai BPD Syariah Peduli Dakwah Terfavorit, TGH Muhammad Taisir Al Azhar sebagai Dai Pelopor Moderasi Dakwah Daerah, dan Ustadz Abu Bakar sebagai penerima anugerah Dai Difabel Kreatif dan Inspiratif.
Para penerima Award lainnya yakni Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai Kementerian Peduli Dakwah dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Amany Burhanuddin Umar, sebagai Tokoh Muslimah Cendekiawan Nasional; artis-ustadzah Okky Setiana Dewi sebagai Dai Influencer dan Inovatif; serta KH Abdus Somad sebagai Dai Sejuta Umat. rul






















