Imbas Pandemi Covid-19, Perajin Kendang Mulai Mengeluh Sepi Order

PERAJIN kendang I Nyoman Weka dan Wiguna di Banjar Getas Kawan, Desa Buruan, Blahbatuh. Foto: adi

GIANYAR – Semua sektor terdampak dengan pandemi Covid-19, termasuk perajin. Salah satunya, perajin kendang dan kulkul juga terdampak, karena nyaris tidak ada order.

Perajin kendang dan asesorisnya, I Made Wiguna (37); mendampingi ayahnya, I Nyoman Weka (64) di Banjar Getas Kawan, Desa Buruan, Blahbatuh, mengatakan, ia meneruskan usaha kerajinan kendang leluhurnya. Usaha kendang mulai Kakek Made Geger, Kakek Gento. ‘’Kami membuat kendang secara turun temurun,’’ ujar Wiguna.

Bacaan Lainnya

Selain membuat kendang, juga panggul, saput kendang, dan tas kendang. ‘’Bahan kayu nangka itu didatangkan dari Petang, Badung; Karangasem, dan Bangli,’’ ujarnya.

Bahan baku dikirim dalam bentuk gelondongan. Panjang kendang gong gede mencapai 75 cm diameter 34/35 lanang wadon. Sedangkan gong kebyar panjang 72 cm lebar 32/33 cm. Bebarongan panjang 63 cm dengan lebar 27 cm.

Kata Wiguna, ia juga menjual kendang isi ukiran. Kendang untuk gong gede ukir harganya Rp7,5 juta. Sementara kendang biasa harganya Rp2,5 juta.

Selain menjual kendang, juga menjual panggul kayu, panggul dari tanduk misa, tanduk kebo, tanduk sapi. ‘’Kami juga menjual tas kendang kendang, saput kendang,’’ ungkapnya.

Baca juga :  Kajian Perda Desa Adat, Pekan Ini, Golkar Pastikan Kirim ke DPRD Bali

Selain itu, ia juga menjual kendang angklung lanang wadon, panjang 41 cm, lebar 19/20 cm dengan harga Rp1,8 sepasang. Wiguna dan Weka mengakui pandemi Covid-19 saat ini berpengaruh pada menurunnya daya beli masyarakat.

Sebelum Covid-19 melanda, kerajinan kendang mereka laris manis. Ia mengaku banyak mendapat oderan dan pembelian kendang dari kelompok atau sekaa gong, karena adanya bansos- bansos. Namun sekarang oderan sepi.

Sebelum Covid-19, per bulannya bisa laku 10 pasang atau 20 biji kendang. Sejak Covid-19 mewabah permintaan menurun drastis. Saat ini permintaan paling banyak nyervis kendang mulai ganti kulit, ganti menukub, ganti tali jangat dan lainnya.

Sementara bahan baku kulit sapi sangat melimpah. Weka mengaku mendapat bahan baku kulit sapi dari Darmasaba, Badung, dan dibawakan langsung. ‘’Saya tinggal ngoder kulit sapi dan langsung dibawain kesini,’’ tandasnya. adi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.