Imbas Kemarau Panjang, Debit Air Bendungan Gerokgak dan Titab Menyusut Drastis

BENDUNGAN Gerokgak, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, mengalami penurunan debit air terjadi sejak dua bulan belakangan atau sejak Agustus 2023. Foto: ist
BENDUNGAN Gerokgak, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, mengalami penurunan debit air terjadi sejak dua bulan belakangan atau sejak Agustus 2023. Foto: ist

POSMERDEKA.COM, BULELENG – Bendungan Gerokgak, Kecamatan Gerokgak, dan Bendungan Titab, Kecamatan Busungbiu, menyusut. Penyusutan air itu disebabkan lantaran musim kemarau yang panjang melanda wilayah Buleleng. Bahkan, penurunan debit air terjadi sejak dua bulan belakangan atau sejak Agustus 2023.

Kepala Pelaksana BPBD Buleleng, Putu Ariadi Pribadi Rabu (11/10/2023) mengatakan, penyusutan kedua bendungan itu diketahui setelah pihaknya melakukan asesmen. Hasil asesmen, diketahui debit air di kedua bendungan tersebut mengalami penurunan signifikan.

Read More

Dari data , pada Januari awal 2023, debit air di Bendungan Gerokgak tercatat 1,2 juta kubik dan meningkat hingga 2,3 juta kubik pada Februari. Pada puncak El Nino yang terjadi pada Agustus dan September, debit air di bendungan tersebut menyusut drastis, yakni hanya 653 ribu dan 459 ribu. ‘’Ini karena musim kemarau. Selain itu karena tidak ada hujan,’’ jelas Ariadi Pribadi.

Atas kondisi itu, bendungan Gerokgak pada awal Oktober 2023 bahkan sudah tidak mengalirkan irigasi karena tinggi muka air (TMA) sudah diambang dasar permukaan air bendungan. Dalam kondisi normal debit air 2,8 juta kubik di Bendungan Gerokgak dapat mengairi hingga 414 hektare sawah milik 12 kelompok subak.

‘’Dengan kondisi debit air mengecil warga otomatis beralih dari menanam padi ke tanaman yang lebih sedikit membutuhkan air seperti palawija atau kacang, jagung,’’ sambung dia.

Untuk kondisi Bendungan Titab Ariadi menyebut juga mengalami penurunan debit air. Pada Januari 2023 debit air di bendungan tersebut tercatat sebanyak 10 juta kubik. Jumlah itu terus mengalami penurunan hingga 7 juta kubik air pada Agustus dan 4,9 juta pada September 2023. Namun, BPBD menyebutkan kondisi debit air di bendungan itu masih di ambang batas normal.

Ariadi Pribadi menambahkan, hasil asesmen kedua bendungan tersebut sudah dikoordinasikan ke Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali – Penida. Pihaknya juga akan meneruskan hasil asesmen ke ke Dinas Pertanian untuk ditindaklanjuti. edy

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.