HIV/AIDS di Jembrana Naik Lagi, Penderita Terbanyak Kelompok Umur 31 – 40 Tahun

BALIHO peringatan Hari HIV/AIDS Sedunia di Jembaran. Kasus HIV/AIDS di Jembrana tercatat kembali mengalami kenaikan. Foto: ist

JEMBRANA – Angka kasus HIV/AIDS di Kabupaten Jembrana dari tahun 2017 tahun 2022 sempat terjadi penurunan. Akan tetapi, dari tahun 2021 hingga tahun 2022 terjadi peningkatan sebanyak 78 orang. Jumlah tersebut tidak menutup kemungkinan bisa bertambah, lantaran masyarakat tidak berani mengecek kesehatannya di rumah sakit.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Jembrana, kasus baru HIV/AIDS di Jembrana mulai dari tahun 2014 sampai November 2022, estimasi ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) senjumlah 824 orang dan yang tercatat positif sebanyak 768 orang.

Read More

Sedangkan yang pernah mendapatkan ARV sebanyak 596 orang dan sampai saat ini yang tercatat masih mengkonsumsi ARV sebanyak 449 orang. Sehingga jika dirata-ratakan peningkatan setiap bulan di tahun 2022 sebanyak 7-10 orang.

Namun pada bulan November mengalami lonjakan hingga 15 orang, didominasi dengan usia produktif. Sehingga ada sebanyak 28 anak dengan HIV serta 10 orang ibu hamil. Sedangkan yang sudah meninggal dunia sebanyak 73 orang dan tanpa keterangan mungkin pindah perawatan sebanyak 27 orang.

Adapun usia yang tercatat untuk anak yang terjangkit umur dibawah 5 tahun sebanyak 10 orang, umur 5 sampai 10 tahun sebanyak 4 orang, umur 11 sampai 20 tahun sebanyak 21 orang. Lonjakan terjadi dari umur 21 sampai 30 tahun sebanyak 161 orang.

Yang mendominasi usia produktif umur 31 sampai 40 tahun sebanyak 177 orang, sedangkan dari umur 41 sampai 50 tahun sebanyak 106 orang.Usia yang memasuki lanjut kisaran diatas 50 tahun sebanyak 62 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Jembrana, Dr. Made Dwipayana, Kamis (1/12/2022) mengatakan, pihaknya di Hari AIDS Sedunia, melakukan sosialisasi dan meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kemandirian masyarakat, khususnya perempuan, anak, dan remaja dalam mencegah infeksi dan penularan HIV/AIDS. “Dalam hal ini, lebih banyak sosialisasi kepada remaja dan kelompok rentan,” ujarnya.

Selain memaksimalkan tes secara suka rela, pihaknya juga melakukan penguatan internal untuk mendorong pasien-pasien yang diduga menderita HIV untuk menjalani tes. “Kita fokus pencegahan dan pendampingan sesama agar sebanyak mungkin mau berobat,” pungkas Dwipayana. man

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.