HGN 2022 dan HUT Ke-77 PGRI, Kurikulum Merdeka untuk Perbaiki Kualitas SDM

PENGURUS PGRI Kota Denpasar melaksanakan tabur bunga di Taman Pujaan Bangsa Margarana, Tabanan, Kamis (24/11/2022) serangkaian Hari Guru Nasional (HGN) 2022 dan HUT ke-77 PGRI. Foto: ist
PENGURUS PGRI Kota Denpasar melaksanakan tabur bunga di Taman Pujaan Bangsa Margarana, Tabanan, Kamis (24/11/2022) serangkaian Hari Guru Nasional (HGN) 2022 dan HUT ke-77 PGRI. Foto: ist

DENPASAR – Hari Guru Nasional (HGN) 2022 sekaligus HUT ke-77 PGRI diperingati, Jumat (25/11/2022). HGN tahun ini mengusung tema “Serentak Berinovasi, Wujudkan Merdeka Belajar”. Sedangkan HUT PGRI bertemakan “Guru Bangkit, Pulihkan Pendidikan: Indonesia Kuat, Indonesia Maju”.

Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar, AA Gede Wiratama, Kamis (24/11/2022), mengucapkan selamat memperingati Hari Guru Nasional 2022 dan HUT ke-77 PGRI. Profesi guru adalah mulia dan terhormat. Menjadi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan dengan panggilan jiwa, panggilan hidup, untuk mengabdi secara tulus demi kemajuan anak bangsa.

Read More

Untuk itu, momentum Hari Guru Nasional ini, hendakanya dapat dijadikan refleksirefleksi,  tentang profesiolitasme guru, apresiasi kepada guru. Di sisi lain, Kadisdikpora juga mengajak para guru senantiasa meningkatkan kualitas diri, etos kerja, dan profesionalisme.

Di tempat terpisah, Ketua PGRI Kota Denpasar, I Ketut Suarya, menyebut implementasi Kurikulum Merdeka yang didorong oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) dibuat untuk memperbaiki kualitas SDM masyarakat. ‘’Tidak ada pemerintah yang mendesain kurikulum tanpa niat baik memperbaiki kualitas SDM masyarakatnya, hanya saja konsep yang bagus tidak akan berhasil tanpa implementasi yang baik,’’ katanya.

Menurutnya, implementasi yang baik harus ada kerja sama antara guru dan siswa yang perlu terus dikembangkan, sehingga terjadi komunikasi yang efektif dan berjalan seimbang sesuai dengan perannya masing-masing. ‘’Tidak hanya guru yang harus dibantu, tetapi adalah relasi antara guru dan siswa yang perlu terus dikembangkan sehingga komunikasi efektif dalam rangka knowledge dan karakter berjalan seimbang sesuai dengan peran masing-masing,” tambah dia.

Suarya juga mengatakan, kurikulum ini akan menjawab tantangan SDM di masa mendatang apabila guru mampu mengidentifikasi kebutuhan dan kemampuan masing-masing siswanya. ‘’Tidak menyeragamkan capaian kompetensi dasar tetapi disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing siswa,’’ lanjutnya.

Suarya berharap penerapan kurikulum baru ini dapat teraplikasi dengan baik di lapangan serta dapat tersosialisasikan dengan baik. ‘’Baik memang merdeka dalam mengajar tetapi lebih baik lagi kebebasan mengajar yang berketeraturan,’’ katanya.

Sementara itu, mengutip pidato Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim, pada peringatan Hari Guru Nasional 2022, mengungkapkan, tiga tahun yang lalu, Kemendikbudristek telah melepas jangkar dan membentangkan layar kapal besar bernama Merdeka Belajar. Ribuan pulau dari Sabang hingga Merauke sudah dilewati, laut dengan ombak tinggi dan angin kencang sudah dihadapi.

Ketangguhan ini didorong oleh kemauan untuk berubah, meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama yang tidak lagi sesuai dengan tantangan dan kebutuhan zaman. Hal ini juga didorong oleh semangat  untuk terus berinovasi, menciptakan perubahan dan kebaruan yang membawa kita melompat ke masa depan.

Diakui Menteri Nadiem, masih ada yang ragu untuk melakukan perubahan dalam proses pembelajaran di kelas atau dalam menjalankan tugas sebagai pemimpin satuan pendidikan. Memang, pada dasarnya tidak ada perubahan yang membuat kita nyaman. ‘’Jika masih nyaman, itu artinya kita tidak berubah,’’ ucap Menteri Nadiem.

Sebenarnya, bukan hanya guru yang terus didorong untuk berubah. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) juga memacu diri untuk berinovasi, mengubah cara pandang dan cara kerja kami dalam memberikan layanan terbaik bagi pendidik dan peserta didik. Platform Merdeka Mengajar yang diluncurkan pada awal tahun ini, sepenuhnya dirancang untuk memenuhi kebutuhan guru akan ruang untuk belajar, berkarya, dan berkolaborasi.

Platform tersebut dibuat berdasarkan kebutuhan yang ada di lapangan. ‘’Bukan berdasarkan keinginan kami. Ini adalah perubahan besar cara kerja pemerintahan dalam melayani masyarakat,’’ lugas Mendikbudristek.

Dalam Platform Merdeka Mengajar, guru bisa mengakses modul pembelajaran dengan gratis, mengunggah dan membagikan konten-konten praktik baik pembelajaran, dan terkoneksi dengan rekan sesama guru dari daerah lain. Guru di Aceh sekarang bisa belajar dari guru di Papua. Guru di Kalimantan bisa menginspirasi guru-guru yang ada di Jawa.

‘’Saya berterima kasih kepada lebih dari 1,6 juta pengguna Platform Merdeka Mengajar, yakni para guru yang mau mencoba hal-hal baru, yang tidak takut untuk berinovasi, yang sadar dan  paham bahwa sudah tiba waktunya untuk bertransformasi,’’ ucap Mendikbudristek.

Kemendikbudristek juga terus membuka kesempatan bagi para guru untuk mengikuti program Guru Penggerak yang berbeda dengan program pendidikan yang ada selama ini. Program Guru Penggerak bertujuan untuk menghasilkan generasi baru kepemimpinan pendidikan Indonesia.

Mereka adalah guru yang menomorsatukan murid dalam setiap keputusannya, yang mampu menjadi mentor bagi guru-guru lainnya, dan berani melakukan terobosan-terobosan dalam l memperjuangkan yang terbaik bagi muridnya. Inilah generasi baru kepala sekolah dan pengawas.

Disebutkan, sekarang sudah ada 50.000 Guru l Penggerak, dan tentunya masih akan terus mendorong agar makin banyak guru di seluruh penjuru Nusantara menjadi Guru Penggerak untuk memimpin roda perubahan pendidikan Indonesia. ‘’Saya sangat berharap agar seluruh kepala daerah dapat segera mengangkat para Guru Penggerak untuk bisa menjadi kepala sekolah dan pengawas sekolah, para inovator di sekolah dan di lingkungan sekitar,’’ harap Mendikbudristek.

Begitu pula dengan program persiapan calon guru masa depan, khususnya melalui transformasi program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan yang kini berorientasi pada praktik pengalaman lapangan, mengedepankan metode inkuiri, dan membiasakan guru melakukan refleksi. Inovasi lainnya adalah kini perkuliahan PPG jauh lebih terintegrasi dengan sekolah, kampus, dan masyarakat melalui sistem digital. Semua ini bertujuan untuk melahirkan para pendidik sejati yang profesional dan adaptif, yang terus memprioritaskan kebutuhan peserta didik, dan yang selalu bersemangat untuk berkolaborasi dalam berinovasi.

Mendikbudristek selalu yakin bahwa ide-ide brilian perlu didukung dengan kesejahteraan para guru. Untuk itulah saat ini juga terus memprioritaskan pengangkatan guru honorer sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui seleksi ASN Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (ASN PPPK).

‘’Saya tidak menutup mata bahwa memang masih banyak hal yang  perlu disempurnakan dalam program ini. Karena itulah semua dari kita harus bergotong royong agar target kita, yakni satu juta guru diangkat sebagai ASN PPPK, dapat segera terwujud,’’ pungkas Mendikbudristek. tra

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.