Hari Pertama PTM Terbatas di Badung, Pakaian Siswa Tak Seragam

  • Whatsapp
SISWA SMPN 1 Kuta Utara saat mengikuti PTM pertama setelah hampir dua tahun belajar online (daring). Foto: nas

MANGUPURA – Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas hari pertama di Kabupaten Badung, Jumat (1/10/2021) secara umum berlangsung cukup baik. Para siswa yang hadir ke sekolah telah menerapkan protokol kesehatan (prokes) khususnya memakai masker. Namun yang menjadi sorotan adalah seragam siswa. Seragam siswa di SMPN 1 Kuta Utara, misalnya, masih ‘gado-gado’ alias tak seragam.

Sedianya para siswa memakai seragam pramuka di hari Jumat, namun faktanya di lapangan sangat berbeda. Seragam yang dikenakan siswa tidak kompak, mulai ada yang mengenakan seragam pramuka, baju kaos olahraga kombinasi dengan celana coklat, pakain putih hitam, hingga mengenakan pakaian ala preman, dengan celana jeans dan baju kemeja.

Bacaan Lainnya

PTM hari pertama di SMPN 1 Kuta Utara diikuti oleh 13 kelas untuk kelas 8 yang masing-masing kelas diikuti oleh belasan orang. Untuk hari berikutnya akan diikuti oleh tingkatan kelas yang berbeda.

Plt Kepala SMPN 1 Kuta Utara, Wayan Nada, mengakui jika siswanya masih berpakaian “gado-gado”. Pakaian yang tidak sesuai pakem itu terjadi karena berbagai alasan, mulai dari tidak memiliki seragam karena menunggu seragam gratis, hingga seragam yang mulai sempit.

Baca juga :  Kelurahan Ubung Rutin Gelar Pendataan Duktang dan Edukasi Gerakan 3M

“Karena tahun sebelumnya kelas 8 belum dapat pakaian, ada juga yang sudah tidak muat, jadinya ada yang pakai blue jeans tadi,” terang Nada yang juga menjabat Kepala SMPN 3 Kuta Utara itu.

Bila kondisi itu berlanjut, pihaknya khawatir anak-anak yang tidak memiliki seragam akan mengalami tekanan bahkan sampai minder. ‘’Walaupaun saat ini untuk pakaian masih dibebaskan, tapi kasihan anak-anak,” ujarnya, sembari mengatakan akan segera berkomunikasi dengan komite terkait seragam sekolah.

Sementara itu, saat peninjauan PTM Terbatas di sekolah tersebut, Bupati Badung, Nyoman Giri Prasta, mengakui bahwa program seragam gratis belum bisa dilaksanakan karena anggaran yang difokuskan untuk penanganan pandemi Covid-19.

Pihaknya pun menyadari jika PTM digelar para orang tua dihadapkan dengan masalah pakaian. “Untuk itu saya sudah minta untuk guru se-Badung, masalah pakaian jangan dipersoalkan. Silahkan mau pakai pakaian apa silahkan yang penting rapi,” tegas Giri Prasta.

Mengingat Pemerintah Kabupaten Badung belum bisa membelikan seragam sekolah untuk siswa, pihaknya pun membebaskan bilamana orang tua yang membelikan seragam untuk anak-anaknya. “Kalau memang ada yang membeli pakaian silakan,” ucap Giri Prasta.

Namun demikian, pihaknya berjanji akan membelikan pakaian dengan catatan pemerintah memiliki dana yang cukup untuk itu. ”Tapi untuk kita di Kabupaten Badung akan menghitung dana dan akan kami berikan pakaian gratis itu,” katanya.

Baca juga :  Koster Perketat Pintu Masuk Bali, Pelaku Perjalanan Harus Lampirkan 2 Surat Pernyataan dan Negatif Covid-19

Ditanya apakah saat ini Kabupaten Badung mengalami kesulitan anggaran sehingga belum bisa merealisasikan program seragam gratis, Bupati yang dikenal bares itu mengelak dan mengaku jika saat ini pemerintah tengah fokus terhadap penanganan pandemi Covid-19.

“Kita refocusing anggaran. Berkenaan dengan seragam gratis, uang itu mengikuti program. Uang dulu ada baru program bisa jalan,” ucap Giri Prasta menandaskan. nas

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.