Harga Daging Babi Terjun Bebas, Ini yang Dilakukan Peternak di Bukit Jangkrik

  • Whatsapp
WARGA Bukit Jangkrik mepatung babi ditengah lesunya ekonomi akibat pandemi Covid-19. Foto: adi
WARGA Bukit Jangkrik mepatung babi ditengah lesunya ekonomi akibat pandemi Covid-19. Foto: adi

GIANYAR – Lesunya ekonomi di tengah merebaknya wabah Covid-19, banyak sektor yang mengalami dampak. Salah satunya adalah peternakan babi di Desa Bukit Jangkrik, Gianyar.  Para peternak babi kesulitan menjual ternaknya, terlebih harga babi saat ini terjun bebas.

Namun, jika tidak dijual dengan segera, peternak khawatir tidak bisa membeli pakan ternaknya. Karena itulah, munculah ide mepatung dadakan yang mana biasanya tradisi mepatung dilakukan saat hari raya penampahan Galungan dan Kuningan saja. Namun, karena alasan ekonomi, para peternak babi di desa itu lebih memilih menjual babinya dengan cara mepatung, walaupun harga per kilogram hanya Rp12 Ribu.

Seperti, Minggu (19/4) sore, beberapa peternak babi mengumpulkan warga Bukit Jangkrik untuk mepatung. Seperti hari penampahan Galungan dan Kuningan, mereka melakukan tradisi gotong royong mepatung.

Salah satu peternak babi yang melakukan mepatung, I Wayan Ngerti, menjelaskan, bahwa dirinya melakukan hal tersebut adalah karena kesulitan menjual ternaknya terutama kepada pengepul karena sepinya pasar. Namun bila tidak segera dijual, ia mengaku kesulitan untuk pakan ternaknya. ‘’Sulit sekarang menjual babi, harganya juga murah. Bila terus tiang (saya) paksakan ngubuh (memelihara), maka terbebankan pakan yang cukup mahal. Apalagi situasi seperti ini saya juga butuh uang,’’ jelasnya.

Baca juga :  ‘’Ngembak Geni’’, Mahayastra Imbau Warga Tak Keluar Rumah, Akses Jalan Menuju Gianyar Ditutup

Sementara itu, salah satu warga Bukit Jangkrik yang ikut mepatung, I Ketut Suwirta, mengatakan, dirinya ikut mepatung karena harga babi yang sangat murah. Bahkan menyentuh harga Rp12 ribu per kilogram. ‘’Lumayan mepatung cuma Rp57 ribu sudah dapat lumayan daging babi,’’ ujarnya.

Bendesa Bukit Jangkrik, I Kadek Juniarta, mengatakan, mepatung dadakan di desanya disebabkan faktor ekonomi, disaat situasi serba sulit seperti ini. ‘’Peternak tak punya solusi lain untuk bisa membeli pakannya. Begitu yang saya dengar dari pemilik ternak babi,’’ ungkapnya.

Namun, dirinya tetap mengimbau kepada masyarakat yang mepatung agar menggunakan masker dan menerapkan pembatasan sosial dan fisik. 011

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.