Gubernur Imbau Perpanjang Nyepi, Warga Blokade Jalan

  • Whatsapp
BULE yang mengendarai sepeda motor balik kanan karena akses jalan ditutup pecalang di wilayah Banjar Kancil, Desa Kerobokan, Kuta Utara, Badung, Kamis (26/3). Foto: gus hendra
BULE yang mengendarai sepeda motor balik kanan karena akses jalan ditutup pecalang di wilayah Banjar Kancil, Desa Kerobokan, Kuta Utara, Badung, Kamis (26/3). Foto: gus hendra

MANGUPURA – Tiga pemotor terlibat adu argumen dengan sejumlah pecalang di Jalan Kerobokan wilayah Banjar Kancil, Desa Kerobokan, Kuta Utara, Badung, Kamis (26/3/2020) siang. Mereka mempersoalkan penutupan akses dengan kursi dan bambu yang dipalang di tengah jalan. “Saya mau pulang Pak, dari Nyepi saya di hotel. Sudah Nyepi, kenapa masih tutup jalan,” hardik perempuan berkacamata dan mengenakan masker itu.

Yang dibentak cuek saja, hanya mengibaskan tangan, menandakan silakan balik kanan. Karena pemotor itu terus mengoceh, seorang warga mendekati dan memberitahu ada imbauan Gubernur Bali agar masyarakat tidak keluar rumah. Sayang, penjelasan itu tak mempan, karena yang diberitahu terus mengomel. “Kalau saya kasi lewat, di utara sana juga ditutup. Rugi juga mbak,” cetus pecalang lain mengingatkan. Perdebatan itu berakhir 1-1. Pecalang dicerca habis, dan pemotor tetap tidak dizinkan lewat.

Bacaan Lainnya

“Mau gimana lagi, instruksi dari desa begitu. Tempat lain juga nutup wilayah banjarnya seperti di Denpasar, Gianyar, Buleleng, semua juga begitu,” tutur Sekretaris Banjar Kancil, Made Rai Gunawan, yang berjaga.

Soal surat imbauan Gubernur berubah jadi larangan dalam pelaksanaan, Kepala Lingkungan Kancil, Nyoman Kardiasa, berkata itu kesepakatan tiga banjar di Kerobokan untuk menaati imbauan Gubernur. Apalagi dia menilai situasi juga sudah rawan karena sudah banyak yang terjangkit Covid-19. “Kami hanya mengamankan wilayah. Kalau nanti dari desa nyuruh buka, ya kami buka,” ujarnya.

Baca juga :  Transaksi Penjualan di D’Youth Fest 2021 Tembus Rp1,2 Miliar

Dari pantauan, yang terpaksa putar haluan banyak yang mengaku karyawan hotel. Ada juga sejumlah bule naik motor dan tanpa mengenakan baju, hanya celana pendek. Meski dijaga ketat, pecalang juga memberlakukan pengecualian untuk pihak tertentu. Salah satunya diberi untuk seorang perempuan yang mengaku sebagai dokter. Dengan ekspresi memelas, pengendara mobil Honda Jazz merah itu turun dan menunjukkan surat tugas salah satu rumah sakit di Tabanan. “Ooo kalau dokter silakan, silakan lewat,” kata pecalang sembari bergegas membuka palang jalan.

Tak berselang lama, anggota bhabinkamtibmas Polsek Kuta Utara mengendarai sepeda motor datang dan menghampiri para pecalang serta kelian adat di balai banjar. “Maaf niki, atas perintah Pak Kapolsek, akses jalan agar dibuka. Niki wawu perintahnya datang,” kata dia sambil menunjukkan layar ponsel. Mendengar itu, alis kelian adat berkernyit. “Kok beda lagi perintahnya sekarang?” gerutunya. Namun, sampai menjelang sore, instruksi membuka akses jalan itu tak juga dijalankan. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.