Gubernur Bali Tutup Buku

MADE Nariana. foto: dok

Oleh Made Nariana

JABATAN lima tahun Wayan Koster sebagai Gubernur Bali berakhir 5 September 2024. Tidak terasa sudah 5 tahun Bali dipimpin sosok kelahiran Desa Sembiran, Buleleng. Koster dengan perawakan kecil dengan titel Doktor dikenal sebagai pakar matematika.

Read More

Mantan dosen di sejumlah Perguruan Tinggi itu, dinilai banyak kalangan bahwa ia sukses menjalankan tugas selama 5 tahun di Bali bersama pasangannya Cok Ace, asal Puri Agung Ubud Gianyar. Cok Ace dikenal sebagai seniman, dosen dan praktisi pariwisata — tekun mendampingi Koster sebagai Wakil Gubernur.

Saya mengenal Pak Wayan Koster sebagai figure yang sangat terukur dalam bekerja. Ia mematok stafnya bekerja berdasarkan target-target yang jelas. Setiap saat target itu dicek langsung, sampai di mana hasilnya danapa hambatan yang dihadapi. Tiada hari tanpa rapat, diskusi dan progres kerja semua staf dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Sebagai akademisi dua pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Bali ini, mampu mempraktekkan secara nyata ilmu mereka. Tidak di awang-awang. Tapi realitas menunjukkan, banyak hal dapat dikerjakan, dibangun dan diberikan buat rakyat Bali.

Hambaan terbesar selama lima tahun jabatan Pak Koster, tidak ada lain “gering agung”, berupa Covid-19 yang melanda dunia. Bali terpuruk selama lebih dari dua tahun. Ekonomi Bali minus 9 persen lebih. Rakyat semua merasakan hidup sangat-sangat prihatin. Bisnis pariwisata bangkrut. Obyek wisata di mana – mana sepi ibarat Nyepi.

Biro perjalanan, toko kerajinan rakyat, hotel, restoran, penyewa kendaraan dan motor, pokoknya semua bisnis sektor pariwisata mandeg selama Covid yang jahanam itu. Banyak di antara orang kaya pemilik bisnis pariwisata menjual asset mereka.

Kalau dinarasikan kehidupan selama Covid-19, sungguh sangat pilu dan menyedihkan. Banyak pekerja pariwisata balik pulang kampung menjadi petani, berjualan seadanya dan bekerja apa saja buat kehidupan mereka.

Di balik kondisi yang betul-betul sangat prihatin itu Koster bersama Cok Ace dibantu Bupati, polisi, tentara dan komponen masyarakat Bali tetap bekerja. Di balik cacian oknum masyarakat, pejabat kita bekerja keras mengatasi Covid.

Pengguna media sosial (medsos) memang sering kejam. Ada saja yang membuly, menghujat dan menghina pemimpinnya karena tidak dapat memuaskan banyak orang dalam kondisi yang tidak normal.

Namun di balik kondisi Covid itulah Koster terus membangun Bali. Desa adat dibenahi dengan penanganan khusus. Pembangunan short-cut antara Mengwi-Singaraja tetap jalan. Pembangunan dan penataan tempat suci Pura Besakih dapat selesai tepat waktu.

Selain itu Gubernur juga membangun pelabuhan segitiga Sanur-Nusa Penida dan Nusa Ceningan. Membangun tower Turyapada di Desa Pegayaman Buleleng cukup megah. Mulai dikerjakan proyek monumental Pusat Kebudayaan Bali di Klungkung. Pembangunan dua Bendungan di Buleleng dan Badung-Gianyar juga diselesaikan.

Saya melihat, pusat juga menata terminal tersibuk di Bali yakni Bandara Ngurah Rai dan Pelabuhan Benoa. Masyarakat Bali mulai merasakan pembangunan “Bali Era Baru”. Bahkan mantan Gubernur Mangku Pastika juga merasakan pembangunan tersebut, ketika hadir dalam peresmian penataan Pura Agung Besakih.

Jangan lupa, semua Bupati dan Wakil Bupati di Bali bekerja keras membantu Gubernur Bali dalam menjalankan visi dan misinya — dikenal dengan nama: “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”. Visi ini tujuannya menjaga warisan leluhur, tetua dan penglisir di Bali dalam artian menjaga kesucian dan keharmonisan alam, manusia dan budaya Bali berserta isinya.

Salah satu yang dilaksanakan Pemprov Bali selama lima tahun belakangan ini, merayakan semua Haria Raya “Tumpek” guna mengingatkan Umat Hindu atas kebesaran alam yang menghidupi “sarwa prani”, yang ada di lingkungan kita.

Jangan lupa, selama lima tahun kepemimpinan Koster, ia bersama DPRD Bali berhasil membuat Peraturan Daerah (Perda) dan Peraturan Gubernur (Pergub). Sebanyak 52 produk hukum dibuat sebagai regulasi yang terukur — berkaitan dengan manusia Bali, alam Bali dan kebudayaan Bali.

Salah satu yang membanggakan sukses menggoalkan dan disahkannya UU nomor 15 tahun 2023 tentang Provinsi Bali. Dengan UU ini, Bali berhak melakukan pemungutan retribusi kepada setiap turis asing yang masuk Bali, guna dipakai menjaga adat dan budaya Bali.

Tanggal 5 September Wayan Koster dan Cok Ace akan tutup buku, mengakhiri tugasnya. Mereka berdua sudah mendeklair ingin Kembali mencalonkan diri untuk jabatan keduakali guna melanjutkan program yang belum tuntas.

Kalau soal ini, saya tidak boleh banyak komentar, karena semua menjadi wewenang Ibu Megawati Soekarno Putri sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan.

Ibu Mega juga dikenal sayang Bali. Sampai ia minta Gubernur Koster membuat: “Haluan Pembangunan Bali Masa Depan 100 Tahun Bali Era Baru 2025-2125”. Konsep ini di- “Pasupati Pengeling-eling, Dharma Pamiteket Besakih” di Pura Besakih Sabtu 19 Agustus 2023.

Soal pemimpin Bali ke depan, Ibu Mega yang sering datang ke Bali, pasti memahami, bagaimana aspirasi masyarakat Bali itu sendiri. Astungkara. (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.