Golkar Dorong Petani Bali Jadi Tuan di Rumah Sendiri

  • Whatsapp
PARA peserta webinar pelatihan petani milenial saat berdiskusi terkait persoalan yang dihadapi petani, terutama di masa pandemi Covid-19 saat ini. Foto: gus hendra
PARA peserta webinar pelatihan petani milenial saat berdiskusi terkait persoalan yang dihadapi petani, terutama di masa pandemi Covid-19 saat ini. Foto: gus hendra

DENPASAR – Pada masa pandemi Covid-19 saat ini, sektor pertanian sesungguhnya paling kuat bertahan di Bali. Hanya, bagaimana mengelola agar tetap menjadi peluang pasar yang menarik, hal itu perlu banyak pemikiran dan strategi. Persoalan tersebut yang dikupas tuntas dalam webinar pelatihan petani milenial yang digelar DPD Partai Golkar Bali, Senin (16/11/2020).

Sejumlah praktisi pertanian yang memiliki produk dan jam terbang skala ekspor dihadirkan dalam webinar yang dibuka Sekretaris DPD Partai Golkar Bali, Made Dauh Wijana, tersebut. “Webinar ini sebagai upaya Golkar untuk memberi ruang kepada petani Bali dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas produknya, di tengah kelesuan akibat pandemi. kami ingin hadir secara nyata membantu kesulitan masyarakat, terutama para petani,” sebutnya dalam webinar dengan moderator Komang Suarsana itu.

Bacaan Lainnya

Banyak hal seluk-beluk pertanian dibahas para narasumber dalam webinar itu, dengan spirit utama bagaimana petani lokal Bali dapat menjadi tuan di rumah sendiri. Dibincangkan pula bagaimana selama ini pertanian seakan menjadi sub dari industri pariwisata, sehingga ketika pariwisata ambruk diterjang pandemi, sektor pertanian terkena imbasnya. “Pariwisata itu sebenarnya untuk pertanian, bukan sebaliknya. Ekonomi Bali intinya pertanian, pariwisata itu bonusnya,” ulas AA Gede Agung Wedhatama dari Bali Organik Subak sebagai salah seorang pemateri.

Baca juga :  Harus Diwaspadai, Kasus Covid-19 di Bali Didominasi Usia 20-29 Tahun

Menanggapi pertanyaan Satria dari Denpasar tentang syarat-syarat bergabung dalam komunitas Petani Muda Keren, dia menegaskan tidak ada syarat khusus. Gerakan Petani Muda Keren, jelasnya, merupakan gerakan terbuka untuk mengajak petani milenial bergabung. Sebab, dia menyadari distribusi dan suplai produk pertanian memang sulit ketika masih sebagai pemula. “Dengan bergabung dalam gerakan ini, kita bisa belajar dari orang yang sudah ahli untuk meminimalisir risiko kegagalan,” urainya.

Dalam pandangannya, pola pahlawan tunggal seperti Superman sudah bukan zamannya lagi. Sekarang masuk era Avenger, yakni banyak pahlawan untuk menolong siapa saja. Dengan semangat itu, dia berkata komunitas Petani Muda Keren fokus untuk memastikan produk berjalan lancar dari hulu sampai hilir untuk membuat produk berkualitas.

Masalah di hulu, terangnya, adalah pascapanen. Setelah bisa menjual produk, masalah berikutnya adalah produk kurang berkualitas. “Pasar butuh kelanjutan dan kepastian produk, kalau mampu begitu akan dicari pasar. Ada yang punya jeruk di pohon sudah habis dibeli karena berkualitas. Walau sedikit tapi tetap berkualitas, itu pasti diterima pasar,” ulasnya.

Meski komunitasnya bersifat terbuka, dia menegaskan hanya menjual produk lokal petani Bali. Namun, syaratnya adalah harus ramah lingkungan dan menjaga alam. Prinsip utamanya adalah menjaga alam tetap lestari, karena pasar ekspor menekankan apakah produk itu ramah lingkungan atau tidak. “Saingan produk Bali itu harus dengan produk luar seperti Thailand, Korea, dan negara lain, bukan bersaing dengan produk lokal di Indonesia,” tandasnya. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.