Sebagai Generasi Muda Tidak Ada Salahnya Mengikuti Tren Berinvestasi, Tapi Jangan Lupakan Hal Ini

  • Whatsapp
INVESTOR baru pada pasar modal periode Januari 2021. Sumber: www.idxchannel.com

Oleh I Putu Wahyu Mandala
(Mahasiswa Prodi S2 Ilmu Manajemen Universitas Pendidikan Ganesha)

YUK Nabung Saham merupakan kampanye yang dilakukan PT. Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mengajak masyarakat termasuk anak muda untuk melek dan mulai berinvestasi di Pasar Modal. Kampanye yang dilakukan BEI sejak akhir tahun 2015 ini, tergolong berhasil. Jika dilihat dari catatan BEI mengenai pertumbuhan investor pasar modal Indonesia pada tiga tahun terakhir didominasi kalangan anak muda terutama generasi milenial dan Gen-Z.

Bacaan Lainnya

Dikutip dari IDX Channel, Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi mengatakan, pertumbuhan terbesar ada dari investor di bawah usia 25 tahun, kemudian pertumbuhan tertinggi berikutnya adalah investor di antara 26 sampai 30 tahun, berikutnya investor dengan usia 31-40 tahun dan terakhir investor di atas 40 tahun. Tercatat, secara total jumlah investor muda di bawah usia 40 tahun adalah 70 persen dari total investor saham yang ada di Indonesia, angkanya mencapai hampir 1,4 juta investor.

Peningkatan minat investasi digenerasi muda dingaruhi juga oleh social media. Beberapa influencer di akun sosial media mereka secara sadar ataupun tidak membantu kampanye Yuk Nabung Saham dari BEI. Beberapa influencer sering memamerkan keuntungan investasi mereka, bahkan ada yang sampai membuat konten untuk mengajak dan mengajarkan cara berinvestasi yang benar menurut pandangan mereka. Melihat hal ini, pastinya generasi muda tidak mau ketinggalan untuk mengikuti jejak panutan mereka. Banyak dari mereka yang menjadi following dan tidak sedikit juga yang benar-benar belajar untuk berinvestasi.

Baca juga :  Pemerintah Sulit Wujudkan Pemekaran PPS dan KLS, Pemulihan Ekonomi Jadi Prioritas
ILUSTRASI generasi muda berinvestasi. Sumber: https://www.freepik.com

Saya mungkin salah satu dari beberapa anak muda yang mau mencoba belajar untuk berinvestasi. Belajar menganalisa baik itu teknikal maupun fundamental agar mendapat keputusan yang tepat. Namun, tidak jarang dari kami generasi muda yang gagal walaupun sudah paham mengenai analisis dalam pengambilan keputusan berinvestasi. Dan, saya mendapatkan kesimpulan bahwa banyak generasi muda yang menyepelekan bias kognitif dalam pengambilan keputusan investasi mereka. Bias kognitif adalah kesalahan sistematis dalam berpikir yang mempengaruhi cara kita mengambil keputusan dan memberikan penilaian. Ada beberapa bias-bias kognitif yang mempengaruhi pengambilan keputusan, yaitu:

Pengalaman
Pengalaman merupakan pengetahuan yang muncul dari kegiatan pribadi, praktek dan keterampilan dalam berinvestasi. Seorang investor yang memiliki pengalaman yang sudah terasah pastinya akan lebih tenang dalam pengambilan keputusan investasinya. Walaupun sedang dalam kondisi yang kurang baik, atau ketika keputusannya belum mendapatkan hasil maksimal. Pengalaman yang terasah memberikan ketenangan, dan tidak tergesa-gesa dalam pengambilan langkah selanjutnya. Pengalaman ini bisa diperoleh dari buku, belajar melalui mentor, dan misalkan ingin mencoba trading bisa berlatih dulu di akun demo sebelum memutuskan menggunakan akun real.

Perilaku Berinvestasi
Perilaku berinvestasi merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan individu ataupun kelompok dalam pengambilan keputusan berinvestasi. Perilaku berinvestasi dibagi menjadi dua, yaitu perilaku yang agresif dan konservatif (berhati-hati). Perilaku yang agresif sering kali mengambil keputusan dengan sedikit cuek, percaya diri, dan terkesan tergesa-gesa. Biasanya investor yang agresif sebelum adanya sinyal berinvestasi, dia sudah menentukan keputusan untuk mengambil atau melepas investasi tersebut. Sedangkan, perilaku yang konservatif jauh lebih berhati-hati dalam pengambilan keputusannya. Kedua prilaku ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, perilaku konservatif mungkin terlihat lebih menguntungkan dan aman, tapi kadang kala investor yang terlalu berhati-hati akan terlambat dalam mengambil keputusan yang menyebabkan keputusan yang diambil tidak akan relevan untuk beberapa saat kedepannya.

Baca juga :  Empat Pelaku Persetubuhan Anak di Buleleng Ditahan

Emosi Negatif
Emosi merupakan perasaan internal yang ditunjukkan kepada seseorang atau sesuatu. Dalam berinvestasi emosi yang muncul umumnya bersifat negatif, karena rasa emosi akan muncul saat keputusan yang diambil investor salah atau kurang tepat. Kondisi inilah yang sering kali menyebabkan beberapa investor terkesan sudah jatuh tertimpa tangga pula, padahal hal itu disebabkan karena rasa emosi mereka sendiri. Seorang investor yang tidak bisa mengendalikan emosinya akan tergiur untuk mengambil keputusan dengan tergesa-gesa tanpa analisa, dengan tujuan menutup kerugian yang diperoleh. Namun, yang terjadi sering mereka masuk ke perangkap yang lebih dalam lagi. Maka dari itu, sangat penting pengendalian emosi, jika emosi negatif muncul ada baiknya istirahat dan melanjutkan analisa saat emosi sudah reda.

Rasa Tamak
Rasa tamak atau kata lainnya serakah merupakan suatu keinginan yang sangat besar untuk memiliki kekayaan, barang atau benda bernilai abstrak, dengan maksud menyimpannya untuk diri sendiri, jauh melebihi kenyamanan dan kebutuhan dasar untuk hidup yang berlaku pada umumnya. Rasa tamak muncul saat investor mengambil keputusan dengan tepat. Investor yang terpengaruh dengan rasa tamaknya sendiri, akan mencoba untuk mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar dari apa yang diperolehnya saat itu. Bahkan tidak jarang dari mereka, mengambil keputusan untuk menginvestasikan dana mereka ke satu instrumen saja karena tergiur akan keuntungannya. Akan tetapi, seperti yang kita ketahui pergerakan pasar tidak bisa kita arahkan dan beberapa orang yang menginvestasikan seluruh dana mereka pada satu instrumen market akan termakan oleh rasa tamak mereka dan memperoleh kerugian yang sangat besar. Maka dari itu, disarankan untuk berinvestasi pada beberapa instrumen dengan harapan jika salah satu mengalami kerugian yang lain bisa menutupinya.

Baca juga :  Masih Banyak Warga tidak Disiplin, Rai Mantra Rancang PKM Non PSBB

Banyak generasi muda, baik itu generasi milenial ataupun generasi Z yang menyepelekan bias-bias kognitif ini. Tapi hasilnya beberapa dari kami gagal karena terlalu percaya diri akan kehebatan yang kami miliki. Lahir di zaman teknologi membuat kami lebih mudah untuk mendapatkan ilmu, salah satunya ilmu berinvestasi. Tapi beberapa dari kami sering kali jumawa dan menyepelekan hal-hal yang kami anggap kecil. Saya sebagai anak muda dan salah satu agen perubahan hanya mengingatkan untuk selalu haus akan ilmu dan tidak menyepelekan sesuatu. Jadikanlah trend berinvestasi ini sebagai habit yang baik untuk mengelola keuangan, bukan sekedar tren sesaat. Salam perubahan dan salam cuan. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.