Evakuasi Orang Bunuh Diri Terapkan Protokol Penanganan Covid-19

  • Whatsapp
PROSES evakuasi jenazah terhadap orang yang tewas karena bunuh diri, di Banjar/Desa Luwus, Kecamatan Baturiti, dilakukan dengan prosedur penanganan Covid-19, Selasa (19/5/2020). Foto: gagah
PROSES evakuasi jenazah terhadap orang yang tewas karena bunuh diri, di Banjar/Desa Luwus, Kecamatan Baturiti, dilakukan dengan prosedur penanganan Covid-19, Selasa (19/5/2020). Foto: gagah

TABANAN ­- Dalam situasi pandemi Covid-19, evakuasi terhadap orang yang meninggal karena bunuh diri pun dilakukan dengan prosedur penanganan Covid-19. Seperti yang dijalankan saat evakuasi jenazah I Nengah Suenten (31), yang ditemukan tewas gantung diri di Banjar/Desa Luwus, Kecamatan Baturiti, Selasa (19/5/2020).

Peristiwa itu diketahui sekitar pukul 06.30. Menurut I Wayan Kardiyasa (17) yang menjadi saksi, ketika itu dia hendak bakar sampah di belakang gudang tempat penyimpanan barang, di rumah Ni Gusti Ayu Setiani. Setelah sampai di belakang, dia terkejut melihat Suenten yang asal Banjar Dinas Panggung, Desa Sembiran, Tejakula, Buleleng itu, sudah kaku tergantung di kayu lambang emper gudang.

Bacaan Lainnya

Karena panik, dia kemudian lari ke depan untuk memanggil istri Suenten, Ni Luh Sukarini (29). Mereka kemudian ke belakang, dan Sukarini langsung memotong tali gantungan dengan menggunakan sabit. Setelah itu, saksi Kardiyasa melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Baturiti.

Petugas piket Polsek yang menerima laporan bergegas mendatangi dan mengamankan TKP, serta melaporkan ke Polres Tabanan. Petugas medis dari Puskesmas Baturiti II dipimpin dr. I Wayan Lastrawan dengan pakaian dan APD lengkap pun tiba di lokasi kejadian. Berdasarkan hasil pemeriksaan luar, dokter menerangkan bahwa kematian Suenten murni karena bunuh diri, sesuai ciri-ciri orang bunuh diri karena gantung diri.

Baca juga :  Update Covid-19 di Denpasar: 21 Pasien Sembuh, Kasus Positif Bertambah 23 Orang

Sukarini mengatakan, suaminya itu sudah lama menderita penyakit asma dan tak kunjung sembuh. “Sebelum kejadian ini, suami saya sering mengeluh sakit di dada dengan napas yang tidak beraturan,” ujarnya dengan nada sedih. Usai pemeriksaan medis dan olah TKP, pihak keluarga duka menolak untuk proses otopsi mayat Suenten. Jenazah langsung dibawa pulang ke rumah duka di Buleleng guna proses penguburan. gap

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.