Evakuasi Batang Kayu dan Sampah Kiriman dari Pantai Labuan Sait, Pecatu Lakukan dengan Cara Ini

  • Whatsapp
MASYARAKAT Desa Pecatu mengevakuasi batang kayu dan sampah kiriman dari Pantai Labuan Sait, dengan menggunakan katrol listrik. Foto: ist
MASYARAKAT Desa Pecatu mengevakuasi batang kayu dan sampah kiriman dari Pantai Labuan Sait, dengan menggunakan katrol listrik. Foto: ist

MANGUPURA – Masyarakat Desa Pecatu tidak menyerah mengevakuasi batang kayu dan sampah kiriman yang menepi di Pantai Labuan Sait. Dimotori pengelola DTW Pantai Labuan Sait dan bersinergi dengan DLHK Badung, masyarakat berjibaku mengavakuasi sampah kiriman tersebut.

Lantaran akses menuju pantai yang cukup terjal menyulitkan dalam memindahkan sampah itu, satu-satunya solusi, digunakan alat katrol listrik agar batang kayu yang berukuran besar serta sampah lainnya bisa terangkut. Cara ini merupakan inovasi pertama kali dari Desa Pecatu yang lahir dari kondisi di lapangan.

Bacaan Lainnya

Manajer Pengelola DTW Pantai Labuan Sait, Wayan Wijana, menerangkan, penggunaan katrol tersebut merupakan inovasi baru yang lahir karena tantangan yang dihadapi di lapangan. Walaupun upaya tersebut belum terlalu maksimal, karena hanya mengandalkan 1 katrol. Namun paling tidak hal itu dinilai dapat mengurai permasalahan sampah kiriman yang menepi.

‘’Langkah ini merupakan inovasi kecil, tapi cukup bermanfaat dalam mengurangi beban sampah di pantai. Paling tidak kita berupaya dan berkomitmen, walaupun ini memang belum terlalu maksimal di lapangan,’’ lugasnya.

Wijana berujar, sampah kiriman yang menepi di Pantai Labuan Sait tahun ini paling banyak dibandingkan musim sampah kiriman di tahun sebelumnya. Sampah tersebut kebanyakan berupa sampah kayu besar dan ranting pohon.

Baca juga :  Atasi Keluhan Pembelajaran Daring, Yayasan Dwijendra Lakukan Ini

Kepedulian dan partisipasi masyarakat diakuinya sangatlah tinggi dalam menjaga objek wisata. Hal itu menunjukan bahwa masyarakat Pecatu merasa memiliki dan peduli akan daya tarik wisatanya. Ketika pantai kembali bersih, tentunya hal itu akan kembali menggerakkan perekonomian masyarakat.

‘’Mereka sadar tanpa diperintah, karena mereka menyadari ini adalah lahan mereka yang patut dijaga bersama-sama. Ini bentuk quick responsibility masyarakat, karena pariwisata ini milik bersama dan dinikmati bersama (quality base tourism),’’ paparnya.

Ia mengatakan, akan terus mencoba berinovasi dalam mengevakuasi sampah kayu melalui sistem katrol. Cara semacam itu diakuinya akan terus dilakukan dan dirancang dalam menangani permasalahan sampah kiriman yang sifatnya relatif berat untuk dievakuasi langsung.

Pihaknya berharap apa yang dilakukan itu nantinya bisa disambut oleh Pemkab Badung, demi efektifitas evakuasi di lapangan. Terlebih masalah itu biasa terjadi setiap tahun. ‘’Sejauh ini kami baru punya satu katrol. Ke depan hal ini akan kita mohonkan kepada pemkab, sebab pola semacam ini sangat diperlukan dan perlu dipolakan lebih matang,’’ imbuhnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Bendesa Adat Pecatu, Made Sumerta. Menurutnya, penanganan sampah kiriman di wilayah Pecatu perlu mendapatkan perhatian khusus dari Pemkab Badung. Sebab kondisi pantai yang ada di Pecatu pada umumnya berada di bawah tebing curam dengan ketiadaan akses yang memadai, sehingga hal itu cukup membuat susah evakuasi sampah kiriman yang menepi, khususnya untuk sampah kiriman yang berupa kayu glondongan dan batang pohon.

Baca juga :  Arya Wibawa Serahkan Bantuan Sembako di Ubung

‘’Kami harapkan pihak DLHK mengkaji dan mempolakan agar ada beberapa katrol untuk mengatasi sampah-sampah tersebut,’’ harapnya.

Ketua Komisi IV DPRD Badung ini mengungkapkan, pihaknya bersama seluruh warga sudah berupaya maksimal mengatasi sampah kiriman tersebut. Namun kembali masalah yang dihadapi adalah mengevakuasi sampah kiriman itu ke atas tebing, sebab tenaga yang diandalkan cenderung bersifat manual. Karena itu diperlukan pengadaan beberapa katrol untuk mengangkat sampah kiriman yang rutin datang setiap tahunnya itu.

‘’Pantai-pantai di Pecatu adalah destinasi wisata yang dikunjungi wisatawan. Jadi perlu penanganan yang cepat dan terpola dengan baik agar tidak menimbulkan kesan yang negatif,’’ pungkasnya. gay

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.