MATARAM – Lombok memiliki beragam budaya dan tradisi. Banyak juga legenda dan kisah-kisah turun temurun yang diyakini masyarakat hingga saat ini. Salah satu kisah yang sangat mistis adalah Desa Besari, sebuah desa yang secara misterius menghilang.
Untuk menguak kebenaran kisah tersebut, Lembaga Kajian Sosial dan Politik M-16 bersama DPD PDIP NTB melakukan ekspedisi mistis mengungkap kebenaran. Ekspedisi ini melibatkan paranormal.
Ketua DPD PDIP NTB, Rachmat Hidayat, mengatakan, ekspedisi dilakukan untuk mengedukasi generasi muda agar mencintai budaya leluhurnya. “Ini agar generasi muda tidak kehilangan arah. Mereka lebih mencintai kebudayaan dan adat istiadat leluhur,” ujarnya, Rabu (25/5/2022).
Ekspedisi mistis tersebut juga menggandeng seorang paranormal, Ustad Nasir. Dari hasil penerawangan di Desa Besari, dia melihat aktivitas penduduk gaib yang hingga saat ini masih ada. “Saat ini penduduk beraktivitas seperti berniaga dan bertani. Penduduk serupa dengan manusia biasa, tapi wujud mereka tidak kasatmata,” ujar Ustad Nasir.
Nasir juga mendeskripsikan batas wilayah Desa Besari berdasarkan hasil penelusurannya secara nonsains. Dari sana kebenaran demi kebenaran mulai terungkap. Cerita yang disampaikan melalui penerawangan gaib serupa yang disampaikan pemangku adat setempat. Desa Besari dipercaya berada di Dusun Kertaraharja, Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Lombok Utara. Desa dan penduduknya diyakini berpindah alam ke alam gaib.
Pemangku Adat Dusun Kertaraharja, Amiq Kholid, bercerita asal-usul hilangnya Desa Besari pada akhir abad ke 17. Saat itu Kerajaan Karangasem berhasil menaklukkan Mataram dengan mendirikan pusat kerajaan di Cakranegara, Kota Mataram.
Raja melihat Kedatuan (Kerajaan) Besari sangat makmur dengan penduduk berniaga dan bertani. Mereka kemudian menawarkan kerjasama. Namun Datu (Raja) Besari menolak tawaran tersebut, karena berpikir tidak menguntungkan bagi Kedatuan Besari. Raja Karangasem mengutus sebagian besar prajurit untuk menginvasi Besari. “Kemudian Datu Besari mengirim 100 hingga 200 prajurit untuk ke daerah pintu masuk kedatuan, untuk bernegosiasi dengan Karangasem agar tidak terjadi pertumpahan darah,” kata Amiq Kholid.
Tawaran perdamaian ditolak oleh Karangasem. Akhirnya, Datu Besari memerintah seluruh penduduk agar berkumpul membawa ternak mereka ke Kedaton. Saat semua kumpul, Datu mengambil batok kelapa diisi air dan didoakan. Kemudian air tersebut digunakan menyirami seluruh Kedatuan tersebut. Dengan kehendak Allah SWT, Kedatuan Besari hilang dan berubah menjadi hutan dan Desa Besari menghilang.
Para prajurit yang sebelumnya berada di luar bersedih karena mereka ditinggalkan. Namun, suara misterius dari bekas Kedatuan Besari muncul menasihati prajurit. “Suara itu muncul, mengatakan jika semua orang ikut hilang, siapa yang akan menceritakan kisah ini ke generasi berikutnya,” kata Amiq Kholid.
Dari kejadian tersebut, hingga saat ini secara turun temurun kisah hilangnya Desa Besari menjadi cerita masyarakat setempat. Amiq Kholid juga mendirikan sebuah museum yang diberi nama Museum Desa Genggelang. Di sana, beberapa benda peninggalan Kedatuan Besari dapat dijumpai. Benda-benda tersebut berupa rompi raja Besari hingga lampu minyak. Di sana juga ada lontar yang mengisahkan kedatuan pertama di Lombok dan peta batas wilayah kedatuan. Ada juga tempat tinta yang digunakan Carik (Sekretaris Negara), alat khitan zaman dulu, gelang, aneka piring dan lainnya.
“Ada juga papan wariga untuk ilmu astronomi atau perbintangan zaman dulu,” sambungnya.
Meskipun Desa Besari telah hilang, namun desa tersebut sering muncul dan menunjukkan wujud kepada orang luar desa yang berada di sana. Saat gempa Lombok 2018, Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Jawa Barat membentuk posko di pintu masuk Air Terjun Kerta Gangga yang berada sangat dekat di lokasi Desa Besari. Relawan gempa melayani pengobatan untuk masyarakat. Anehnya, banyak warga datang berobat jam 2 dini hari sampai subuh.
Pasien-pasien yang berobat di sana justru sangat asing, dan bukan berasal dari Desa Ganggelang. Keesokan harinya saat dokter melihat catatan nama pasien, nama di catatan tersebut justru menghilang sendiri. Tim dokter dan tentara yang bertugas di posko relawan sangat heran atas kejadian tersebut.
Beberapa hari berselang, posko relawan tersebut mendapat telepon dari Jakarta karena ada komplain tidak melayani penduduk Desa Genggelang untuk berobat. Itu membuat tentara yang bertugas mendatangi Kepala Desa Genggelang. “Dua tentara yang bertugas di posko bertanya,kok ada komplain mereka tidak melayani masyarakat? Padahal setiap dini hari banyak masyarakat berobat,” ungkapnya.
Saat Kepala Desa Genggelang bertanya, masyarakat mana yang berobat, para relawan posko kesehatan tersebut menyebut nama Desa Besari. Ini tentu menjadi keanehan karena desa itu tidak ada secara nyata. Ada juga cerita penjual tikar yang pertama kali masuk ke Desa Besari dan mendapatkan keuntungan besar. Jualannya habis terjual. Namun, keesokan hari akan berdagang ke sana, dia menjumpai seorang penduduk Desa Genggelang. “Warga tanya pedagang itu mau ke mana, kemudian dijawab mau ke Besari. Warga langsung menjelaskan tidak ada desa di sana,” katanya. Seketika itu pedagang itu sadar, desa yang sebelumnya dilihat berubah menjadi hutan.
Direktur Lembaga Kajian Sosial Politik M-16, Bambang Mei Finarwanto, menambahkan, untuk membuktikan kebenaran eksistensi Desa Besari, perlu dilakukan penggalian arkeologi situsnya. Apalagi di kawasan tersebut ditemukan prasasti atau bekas pondasi masjid kuno di Kedatuan Besari. “Menjadi tugas sains yakni arkeolog untuk memetakan lanskap Desa Besari yang hilang guna mencari reruntuhan petilasan lain di kawasan tersebut,” tandas Bambang. rul























