JEMBRANA – Kabupaten Jembrana yang dijuluki Gumi Makepung dan Tanah Jegog memiliki banyak potensi budaya dan alam. Potensi-potensi tersebut apabila dikembangkan dan dikelola dengan baik akan memberi manfaat terhadap masyarakat, di antaranya dapat menjadi daya tarik pariwisata.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jembrana, I Nengah Alit, Selasa (23/3/2021) menyampaikan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana bersinergi dengan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Provinsi Bali saat ini tengah menggali kesenian yang pernah ada atau yang sudah mati suri di Jembrana.
Seperti kesenian Berko, Leko, Bungbung Gebyog, dan lain-lain yang memang mempunyai nilai historis tersendiri. Kesenian Berko misalnya, yang merupakan kesenian lokal yang cukup tenar di Jembrana khususnya di wilayah Lingkungan Pancardawa, Kelurahan Pendem, Kecamatan Jembrana.
Berko merupakan perpaduan seni gambelan bambu, tari, dan karawitan. Sepintas kesenian Berko sama dengan tari Palegongan. Namun yang membedakannya adalah perangkat gamelan yang mengiringinya. Gamelan Berko terbuat dari bambu.
Kesenian Berko mirip Joged Bumbung. Selain perangkat yang digunakan sebagai pengiring gamelan sama-sama terbuat dari bambu, Berko dan Joged Bumbung juga sama-sama menggunakan tetabuhan yang terdiri dari penabuh patus,pengabih patus, kendang, kenong, kecek, undir, gem, dan suling. Dalam perkembangannya, hanya kecek saja yang terbuat dari bahan perunggu. Namun tetap didominasi menggunakan bahan tetabuhan berbahan bambu.
“Saat ini kita menggali dengan lebih banyak kesenian yang menggunakan alat-alat dari alam bukan dari metal. Karena dari historis, tradisi di Jembrana lebih banyak dari inspirasi dengan alat dan bahan yang didapat di alam Jembrana itu sendiri pada zamannya,” ungkap Nengah Alit.
Lebih lanjut Alit menuturkan, kesenian Berko konon berawal pada tahun 1925. Saat hutan belantaran penuh dengan semak-semak memenuhi daerah Pancardawa, Kelurahan Pendem, panglingsir (tetua) desa membuka lahan hutan tersebut. Mereka kemudian membuat lahan dengan pencarian palabungkah (umbi-umbian), palagantung (buah-buhan). Seperti menanam padi gago, jagung, ketela pohon, dan lain-lain.
Pada siang hari para penglingsir membuat kubu untuk mesayuban (berteduh). “Pada saat istirahat muncul keinginan para tetua di sana (Pancardawa) membuat satu perangkat gamelan untuk menghibur saat-saat istirahat,” tuturnya.
Alit mengatakan, Disparbud ingin mengangkat potensi-potensi kesenian yang sudah mati suri tersebut agar bisa dibangkitkan.Dengan memberikan pembinaan serta kesempatan pada para pelaku seni tersebut untuk tampil atau membuatkannya event sehingga kesenian bisa digandrungi lagi. Antara lain, mereka akan diberikan ruang untuk tampil dalam momen-momen yang diselenggarakan oleh pemerintah.
“Kita tinggal menggali, lestarikan, dan kembangkan. Paling tidak dengan menghidupkan kembali apa yang sudah tenggelam itu dapat memberikan edukasi pada generasi. Setelah dia kenal dengan harapkan bisa melakoni tradisi atau kesenian yang pernah ada tersebut,” pungkasnya. man























