Dinamika Golkar NTB, Serinata Minta Mohan Jangan Lepas Suhaili

  • Whatsapp
LALU Serinata (kiri) saat berdiskusi dengan mantan Gubernur, TGH Muhammad Zainul Majdi alias TGB, beberapa waktu lalu. Foto: rul
LALU Serinata (kiri) saat berdiskusi dengan mantan Gubernur, TGH Muhammad Zainul Majdi alias TGB, beberapa waktu lalu. Foto: rul

MATARAM – Musda DPD Partai Golkar NTB memang aklamasi menunjuk Mohan Roliskana sebagai Ketua DPD Partai Golkar NTB masa bakti 2021-2026. Hanya, kesan adanya pemaksaan yang dilakukan DPP Partai Golkar kepada Ketua DPD II di NTB, menuai keprihatinan mantan Ketua Partai Golkar NTB, Lalu Serinata.

Menurut dia, kesan pemaksaan agar para pemilik suara mendukung Mohan tidak baik jika terus ditradisikan. Sebab, hal itu akan memperuncing jurang perpecahan di antara kader yang lama berjuang di partai. “Harusnya semangat pohon beringin yang teduh itu yang harus dikedepankan. Saya enggak mau gara-gara Musda dengan cara-cara yang enggak beradab dan dipaksakan itu, akan mengancam (soliditas) internal partai,” ujar Serinata, Minggu (7/3/2021).

Bacaan Lainnya

Gubernur NTB periode 2003-2008 itu berujar perlu angkat bicara atas kondisi Golkar NTB usai Musda, karena memantik kekecewaan sejumlah kader senior. Di antaranya Suhaili FT dan Ahyar Abduh. Serinata minta Suhaili FT yang merupakan Bupati Loteng dua periode tidak dilepas begitu saja oleh Golkar. Alasannya, ketokohan Suhaili yang memiliki Pondok Pesantren (Ponpes) Yatofa Bodak di Lombok Tengah, sudah teruji dan tidak bisa disangsikan lagi.

Baca juga :  Ratusan Pedagang di Kawasan Penyangga Nusa Dua Divaksin

Apalagi, lanjutnya, Suhaili juga memiliki hubungan kekerabatan dengan NW Anjani. Dengan kapasitas dan jaringan yang ada itu, tegasnya, sangat disayangkan jika Golkar membiarkan Suhaili pergi. “Yang saya khawatir dari awal itu adalah Pak Suhaili lepas dari Golkar. Ini akan berbahaya bagi Partai Golkar, yang menarget akan memenangkan Pemilu dan mengusung Airlangga Hartarto sebagai capres,” tegasnya.

Serinata minta Mohan perlu melakukan islah dan evaluasi organisasi secara besar-besaran. Caranya, dengan mengumpulkan para kader senior Golkar untuk merajut kembali jurang perpecahan yang terjadi, agar menjadi satu kesatuan besar kembali. Sebab, kader seperti Suhaili bukan kualitas “kaleng-kaleng”. Itu ditunjukkannya saat memimpin Kabupaten Lombok Tengah mendapat pengakuan publik NTB dan juga nasional.
Selain itu, saat menakhodai Golkar, Suhaili mampu membuat Golkar menjadi pemenang Pemilu di NTB. “Saya enggak berpihak ke siapapun, tapi saya ingin sosok kayak Suhaili dan Ahyar itu harus disatukan oleh Pak Mohan. Saya enggak rela pola satu kader diangkat dan kader lainnya ditenggelamkan terus terjadi di Partai Golkar di NTB,” sesalnya.

Dia berharap patologi dendam usai Musda itu tidak akan terulang lagi kepada kader yang lama membesarkan partai, khususnya menimpa para ketua DPD II Golkar di NTB. Apalagi tantangan Pemilu relatif sangat berat, sehingga diperlukan tokoh-tokoh yang teruji dalam mengisi komposisi kepengurusan DPD I dan DPD II di NTB.

Baca juga :  Ini Hasil Rapid Test Puluhan Pengemudi Mobil yang Masuk Wilayah Denpasar

Berdasarkan pengamatannya sejak tahun 1971 hingga kini, penyakit Golkar selalu ada dendam politik bagi kader yang tidak mendukung calon yang dikehendaki. Jika Golkar ingin besar, pesannya, semua kekuatan dan potensi kader harus disatukan. “Saya titip ke Pak Mohan agar mengedepankan kesatuan, dan hargailah kesenioran para kader Golkar yang telah berjuang selama ini,” ajaknya. rul

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.