Dialog Investasi Indonesia Timur, Peluang Investasi Lestari Kakao dan Bambu

DARI kiri ke kanan: Tiza Mafira (Climate Policy Initiative Indonesia), Samuel Yansen Pongi (Wakil Bupati Sigi), dan I Wayan Juniarta (Yayasan Bambu Lestari). Foto: ist

MANGUPURA – Dalam 25 tahun terakhir, sektor kakao Indonesia mengalami pertumbuhan besar-besaran, didorong oleh pesatnya perluasan partisipasi petani kecil. Tingginya permintaan biji kakao di dalam dan luar negeri diperkirakan akan meningkat 3 persen per tahunnya. Di sisi lain, komoditas bambu mulai dilirik karena memiliki peran penting dalam mitigasi bencana alam seperti banjir.

Hal itu terungkap dalam Dialog Investasi Indonesia Timur pada Sabtu (1/10/2022) di Smesco Hub Timur, Nusa Dua, Badung, Bali. Dialog itu terselenggara atas kolaborasi Smesco Hub Timur dengan LTKL (Lingkar Temu Kabupaten Lestari), Koalisi Ekonomi Membumi (KEM), dan Jurisdiction Collective Action Forum (JCAF).

Read More

Dialog bertajuk “Portfolio Jurisdiksi Komoditas Kakao dan Bambu untuk Ekonomi Tangguh Bencana” ini membahas tentang peluang investasi lestari untuk daerah-daerah yang berada di Indonesia bagian timur.

Tiza Mafira, Climate Policy Initiative Indonesia, memberikan skema ekonomi alternatif yang ramah lingkungan dan ramah sosial. Lengkap dengan daftar pendanaan dan investasi pendukung yang bisa diakses.

“Ekonomi yang berdaya lenting adalah yang dapat menyesuaikan keadaan terhadap bencana dan tetap berkelanjutan. Untuk mewujudkan program yang berkelanjutan, penting menjodohkan dengan pasar dan pendanaan,” katanya.

Dialog tersebut menghadirkan inisiatif baik yang telah dilakukan oleh Pemkab Sigi, Sulawesi Tengah, untuk mendorong masuknya investasi lestari yang tangguh bencana. Ragam upaya mulai dari kebijakan, perencanaan, dan pendanaan difokuskan pada menciptakan kondisi pemungkin untuk hal tersebut. Salah satu kebijakan yang dilakukan adalah Peraturan Daerah Sigi Hijau.

Wakil Bupati Sigi, Samuel Yansen Pongi, menjelaskan, hampir 75 persen wilayah Sigi adalah kawasan hutan dan sisanya digunakan untuk kawasan budidaya. “Oleh karena itu, penting bagi Kabupaten Sigi untuk membuktikan bahwa ada skema investasi yang tetap menjaga hutan kami dan masyarakat juga sejahtera,” katanya.

Pemkab Sigi, Cocoa Sustainability Partnership (CSP), PisAgro, dan LTKL bersama-sama untuk mewujudkan contoh nyata melalui portofolio investasi berbasis yurisdiksi dengan menggunakan komoditas kakao. Selain komoditas kakao, Kabupaten Sigi juga mengembangkan komoditas bambu yang memiliki manfaat untuk mengatasi bencana alam banjir.

Pemerintah Sigi menjalin kerja sama dengan Yayasan Bambu Lestari (YBL) dalam mengupayakan pengelolaan dan memperbanyak menanam pohon bambu untuk ketangguhan bencana.

I Wayan Juniarta dari YBL menyampaikan, program pembibitan dan penanaman bambu dilakukan YBL di enam provinsi di Indonesia. Keenam provinsi itu yakni NTT, Bali, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Sulawesi Tengah.

Pembibitannya berbasis rumah tangga, yang dikerjakan oleh ibu-ibu rumah tangga. Bibit-bibit ini kemudian ditanam di lahan kritis, di kiri-kanan sungai, dan di sekitar mata air. “Tujuannya untuk melindungi air, karena bambu itu mampu menyimpan air. Bambu juga mampu menstabilkan tanah. Jadi, tanah miring, erosi, itu mampu dicegah,” jelasnya.

Smesco Hub Timur merupakan program inisiatif yang bertujuan sebagai investment hub yang dilengkapi SMEs Investment Dashboard, yaitu aplikasi sistem informasi pendataan UKM, riset (Business Intelligence), monitoring, dan evaluasi untuk para UKM.

Direktur Utama Smesco Indonesia, Leonard Theosabrata, mengatakan, di Smesco Hub Timur, para investor dapat melihat langsung berbagai jenis UKM yang potensial untuk menerima investasi, sehingga para pelaku usaha dapat meningkatkan penjualan dan memperluas jangkauan pasar. “Kami mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Sigi yang menjadi pemkab pertama yang menggunakan Smesco Hub Timur ini,” katanya. rap

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.