Di Balik Layar Pilkada Denpasar, Tiada Suntikan Dana Turunkan Animo Pemilih

  • Whatsapp
SUASANA pemungutan suara di TPS di Kelurahan Serangan, Denpasar Selatan. Kiprah dan peran penyelenggara di lapisan bawah galibnya kurang terekspos bila dibandingkan dengan jajaran komisioner KPU. Foto: ist
SUASANA pemungutan suara di TPS di Kelurahan Serangan, Denpasar Selatan. Kiprah dan peran penyelenggara di lapisan bawah galibnya kurang terekspos bila dibandingkan dengan jajaran komisioner KPU. Foto: ist

GEMPITA Pilkada 2020 di enam kabupaten/kota di Bali usai sudah kini. Siapa yang gembira karena menang, dan siapa yang lara lantaran kalah kontestasi, publik pun terang mengetahui. Namun, bagaimana peran dan kisah para penyelenggara menyajikan pilkada yang dihantui pandemi Covid-19, pun gencarnya hasutan untuk “di rumah saja”, mungkin tidak banyak yang tahu atau peduli.

Wayan Wialya, PPS Kelurahan Serangan, tidak keberatan berbagi kisah dinamika mengampu tugas yang diamanahkan KPU Denpasar, untuk menjadi barisan terdepan menangani tahapan pilkada. Dia tidak menepis sejak awal banyak pihak pesimis tingkat partisipasi pemilih akan bagus. Tetapi opini minor itu tidak menyurutkan semangatnya sebagai penyelenggara. “Kalau bicara sukanya banyak, kalau dukanya sih ngga ada,” ucapnya santai, ditemui pada Jumat (18/12/2020).

Bacaan Lainnya

Bagi salah satu guru SMAN 5 Denpasar itu, menjadi PPS memungkinkan dia bertemu banyak teman baru sesama penyelenggara. Sebab, selama mengikuti tahapan pilkada, dia sering rapat atau mengikuti bimbingan teknis di bawah arahan PPK. Yang dirasa bikin geli, Wialya mendaku salah satu PPK Kecamatan Densel ternyata bekas muridnya di sekolah. “Begitu saya masuk untuk wawancara, dia spontan bilang ‘Eh pak guru saya datang’. Saya ketawa aja,” gelaknya.

Baca juga :  Update Covid-19 di Bali: Pasien Sembuh Bertambah 140 Orang, Nihil Kasus Meninggal Dunia

Hal menyenangkan lain yang dirasa, lanjutnya, karena mendapat honor dengan nilai “lumayan”. Dalam kondisi ekonomi sangat lesu dihajar pandemi, honor sejumlah itu dirasa sangat membantu ekonominya. Apalagi tugas PPS dijalankan dalam kurun waktu sembilan bulan.  

Walau berkata selama tahapan tidak ada kendala berarti, dia tidak memungkiri dari 9 TPS yang ada di wilayahnya, jumlah partisipasi pemilih relatif rendah. Ada TPS dengan pemilih 300 orang, yang tidak datang mencapai 90 orang. Sangat kontra jika dibandingkan dengan animo ketika Pileg 2019. Kondisi itu, baginya, tidak bisa dilepaskan dari suasana kebatinan warga memandang pilkada tahun ini.

“Jujur saja, kalau pemilihan anggota Dewan itu ada suntikan dana untuk warga. Kalau di pilkada ini tidak ada sama sekali, makanya mereka malas ke TPS. Ada juga yang tidak ke TPS karena alasan takut tertular Corona, padahal mereka di rumah,” sesalnya.

Lain lagi kisah Ni Made Ariani, pengawas TPS yang bertugas di Denpasar Timur. Bermodal pengalaman menjadi pengawas TPS saat Pemilu Serentak 2019, dia jadi ketagihan melakoni tugas paruh waktu itu. Dari yang sebelumnya tidak paham dan tidak tertarik politik, dia akhirnya belajar bagaimana politik praksis itu dijalankan melalui pemilu. Dan, satu hal yang membuatnya semringah, adalah adanya honor dengan nilai memuaskan.

“Dari Bawaslu wanti-wanti banget supaya kami benar-benar memperhatikan apa yang terjadi selama bertugas. Kalau ada pelanggaran langsung dicatat dan dilaporkan melalui aplikasi. Hebatnya, laporan kami itu bisa direspons langsung oleh Bawaslu RI untuk diteruskan ke Bawaslu Provinsi ada kejadian ini, ini, ini,” ucap karyawan perusahaan agen perjalanan itu dengan nada bersemangat.

Baca juga :  Tanggap Bencana, Desa Dauh Puri Kaja Lakukan Ini

“Lebih banyak sukanya. Bekerja ikhlas itu bahagianya luar biasa,” imbuh Linda Puspayanti, PPK Denpasar Barat, yang ditemui di kesempatan terpisah.

Menjadi PPK saat Pilkada Denpasar 2020 merupakan kali pertama dia sebagai penyelenggara. Namun, minim pengalaman tidak membuatnya minder dan patah semangat. Termasuk ketika menghadapi PPS, yang secara hierarki berada di bawahnya, berbeda pandangan menafsirkan regulasi. “Bisa meredam emosi PPS soal regulasi yang turun bertentangan misalnya, bagi saya itu kebahagiaan,” ulas karyawan swasta tersebut.

Saking menikmati pekerjaan musiman itu, Linda tak jarang seperti lupa waktu. Menyelesaikan laporan atau membahas kendala jajaran PPS acapkali dilakukan sampai malam di kantor KPU Denpasar. “Kalau bicara dukanya cuma satu aja, kami nggak bisa sering-sering ngumpul dengan PPS untuk diskusi. Soalnya ada protokol kesehatan Covid-19. Yang lainnya sih menyenangkan,” urainya menandaskan. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.