Desa Adat Kerobokan Gelar Caru Amreta Bhuwana

  • Whatsapp
PEMUCUK Prajuru Pura Dang Kahyangan Petitenget lan Pura Masceti Ulun Tanjung, AA Ngr. Rai Yuda Darma. Foto: ist

MANGUPURA – Memasuki Sasih Kawulu, Desa Adat Kerobokanakan menggelar Caru Amreta Bhuwana. Upacara itu akan dilaksanakan pada Tilem Kawulu  Wraspati Pon Landep di Pura Petitenget, Kamis (11/2/2021). Upakara rutin dilaksanakan tiap setahun sekali ini menggunakan sarana sapi jagiran (jantan) warna hitam.

Pemucuk Prajuru Pura Dang Kahyangan Petitenget lan Pura Masceti Ulun Tanjung, AA Ngr. Rai Yuda Darma, menjelaskan, tujuan Caru Amreta Bhuwana adalah ngutpeti atau mapahayu jagat beserta isinya agar mendapatkanjagathita.

Bacaan Lainnya

“Caru artinya tawur/yadnya, amreta artinya urip/landuh, bhuwana artinya jagat, disebut juga sebagai purusa/akasa. Itu sebabnya caru tersebut sarananya sapi jagiran hitam. Sapi artinya nandini, sebagai wahana yang menyebabkan ketenteraman jagat, jagiranartinya laki-laki yang berperawakan tegap berarti sempurna, sedangkan warna hitam artinya Krisna perlambang Wisnu sebagai pemeliharajagat,” jelasnya.

Lebih lanjut tokoh masyarakat Kerobokan yang akrab disapa Tu Rah Rai ini menyampaikan, prosesi upacara dan upakara diawali dengan menyembelih sapi jagiran hitam di tengah-tengah pintu masuk dankeluar (nista mandala Pura Petitenget) dengan perlengkapan dan sarana upakara antara lain tirtha, payung kuning 2, tombak poleng 2, tamiang 2, tah (arug) 2, daksina panyambelehan, segehan 9 tanding, segehan 11 tanding, rantasan, pasucian.

“Setelah upakara itu dilaksanakan, sapi jagiran hitam disembelih oleh pemangku memakai pakaian serba putih dengan membawa tah (arug). Diakhir upacara pecaruan tersebut semua sarana upakara termasuk sapi selem di larung ke Pantai Petitenget atau disebut dengan mepekelem,” ujarnya.

Baca juga :  Cegah Penularan Covid-19, Desa Dauh Puri Kaja Giatkan Patroli Wilayah

Rai Yuda Darma yang juga Kadis Perhubungan Badung ini menegaskan, dalam pelaksanaan pecaruan di tengah situasi PPKM berbasis desa/kelurahan dan desa adat saat ini, pihaknya melakukan pembatasan krama pengayah dengan tetap memperhatikan dan mematuhi protokol kesehatan secara ketat seperti wajib mempergunakan masker, wajib cuci tangan dengan sabun di air yang mengalir dan selalu jaga jarak minimal 1,5 meter.

“Penyanggra pecaruan dari persiapan sampai dengan berakhirnya pecaruan dilaksanakan oleh krama pengerob, permas lan pemaksan Pura Dang Kahyangan Petitenget, Parajuru Pura Dang Kahyangan Petitenget lan Pura Maseti Ulun Tanjung serta Banjar Pegilir yakni Banjar Padang, Desa Adat Kerobokan, dengan jumlah yang terbatas,” tegasnya.

Krama desa se-Desa Adat Kerobokan yang akan nunas tirta pecaruan lan neduh di Pura Dhang Kahyangan Petitenget, kata Tu Rah Rai, cukup diwakilkan oleh kelian banjar adat masing–masing dengan maksimal yang hadir 2 orang mulai pukul 10.00 Wita sampai dengan pukul 14.00 Wita di Pura Petitenget. Selanjutnya tirta tersebut akan dibagikan ke krama di banjar masing-masing.

Tu Rai Rai mengutarakan, terkait rangkaian pecaruan di antaranya pada Soma Kliwon Landep 8 Pebruari 2021 dilaksanakan ngawit lan mapanguning jagi mecaru, pada Anggara Umanis Landep 9 Februari 2021 mekarya asagan, klakat, sanggah cucuk, pada Buda Paing Landep 10 Februari 2021 nunas pakuluh lan memben banten

Baca juga :  Berani Nyanyi, Tukang Suwun di Acara Golkar Diganjar Hadiah Uang

Puncaknya pada Wraspati Pon Landep 11 Pebruari 2021 dilaksanakan Caru Amreta Bhuana/Caru Godel Selem Batu yang diawali pada pukul 08.00 Wita madengen-dengen, pukul 09.00 Wita Motong Godel Selem Batu, pukul 15.00 Wita pesamuan hidangan dan pukul 18.00 Wita nganyut/mapekelem di Segara Petitenget. nas

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.