DBD Renggut Satu Nyawa di Karangasem

ILUSTRASI nyamuk Aedes aegypti penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD). foto: ist

KARANGASEM – Awal tahun 2022, jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Karangasem mengalami peningkatan sangat tajam jika dibandingkan dengan jumlah kasus pada tahun sebelumnya.

Dari awal Januari sampai saat ini jumlah kasus DBD mencapai 314, tersebar di seluruh kecamatan. Bahkan Rabu (11/5/2022) satu pasien DBD di Karangasem dinyatakan meninggal dunia.

Bacaan Lainnya

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Karangasem, I Wayan Gede Sweca, Rabu (11/5/2022) mengatakan, jumlah kasus DBD di Karangasem awal tahun 2022 memang naik sangat tajam jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Jika sejak Januari sampai Mei 2022 jumlah sudah mencapai 314, pada Januari sampai Desember 2021 jumlahnya hanya 185 kasus saja.

“Untuk bulan Januari tercatat ada sebanyak 81 kasus, Februari 62 kasus, Maret 52 kasus, dan April 100 kasus. Khusus untuk bulan Mei sampai saat ini sudah ada sebanyak 19 kasus,” ungkapnya.

Terkait kasus pasien DBD yang meninggal, Sweca mengaku belum ada laporan resmi sejauh ini. Namun, dia membenarkan ada pasien DBD atas nama Kadek Sudiastika meninggal dunia.

Dia mengaku sempat mengecek ke rumah sakit tempat korban dirawat, dan memang benar ada diagnosa korban meninggal dunia karena DBD.

Baca juga :  Perempuan Jenggala-Kodam/IX Udayana Gelar Donor Darah

“Ini merupakan yang pertama ada kasus DBD sampai meninggal di Karangasem. Semoga ini menjadi kasus meninggal yang pertama dan terakhir, tidak ada lagi yang meninggal selanjutnya karena DBD,” lugasnya bernada prihatin.

Sampai saat ini, dia mengakui masih cukup banyak pasien DBD dirawat di RSUD Karangasem maupun di RS Bali Med. Tingginya kasus DBD pada awal tahun ini, sebutnya, sangat dipengaruhi musim hujan. Sebab, tempat-tempat perindukan nyamuk akan meningkat, sehingga potensi terjadinya penularan juga tinggi, apalagi belakangan ini cuaca di Karangasem tidak menentu.

“Terkait meningkatnya kasus DBD, upaya juga sudah kami lakukan untuk pencegahan yakni pengendalian vektor (jentik maupun nyamuk) seperti gerakan PSN 3M dan penyemprotan ataufogging,” sambungnya.

Selain itu, Sweca juga sangat berharap peran serta masyarakat mulai dari lingkup keluarga, dengan menggalakkan program satu rumah satu jumantik.

Setiap rumah juga diharap mampu melakukan PSN 3M secara mandiri di lingkungan masing-masing. “Jika setiap lingkungan rumah sudah bebas dari jentik nyamuk DBD, potensi penularan DBD juga akan menurun,” pesannya. nad

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.