DENPASAR – Puluhan tahun menekuni dunia spiritual khas Bali, Dr. I Ketut Rochineng, SH., MH., tokoh asal Desa Patemon, Seririt, Buleleng ini termasuk yang lulus ilmu kerohanian dengan kualifikasi setara “S3” dalam ranah akademis. Bagaimana kisahnya?
Sempat menolak diwawancarai soal kerohanian, anggota Komisi I DPRD Bali itu tak menampik mempelajari ilmu spiritual khas Bali, sehingga bisa berkomunikasi dan bersahabat dengan makhluk gaib. Ilmu kerohanian tak bisa dipelajari instan. Ajaran Kanda Pat dan ikutannya tahap awal saja butuh waktu 6 bulan untuk dipelajari, itu juga jika disiplin, tekun, dan rajin.
“Bila disiplin menjalankan tuntunan kerohanian Bali, maka segala permasalahan hidup akan dimudahkan karena dapat petunjuk gaib. Kita bisa memohon kadiatmikan (kekuatan), kawisesan (kepandaian), dan usadha (pengobatan). Saya belum merasa hebat, tapi merasa terpanggil melestarikan ajaran warisan leluhur agar generasi penerus tanah Bali tidak melupakan tutur luwih lelangit Bali,” ucapnya.
Karena tekunan, Rochineng kini setara “S3” jika dikaitkan dunia akademik dalam dunia kerohanian menurut versi ajarannya. Tapi, dia sadar “di atas langit masih ada langit”. “S1” diraih tahun 1995, “S2” tahun 2015, dan “S3” awal tahun 2021 dengan melewati sejumlah ujian, dan kini bisa mengangkat sisya atau murid. Ujiannya seperti berpuasa, meditasi dan tapa di tempat suci, pura, dan lokasi angker seperti kuburan.
Juga harus mengenal alam gaib dan isinya, sekaligus berkomunikasi seperti gegendu (kuda berkaki tiga),lenda-lendi, celuluk, joko tunggul (makhluk halus tak berkepala), gerombong selem, dan banaspati yang dipimpin oleh sedahan setra sebagai ancangan dalem. Demikian juga Bhatara yang berstana di Pura Dalem seperti Ratu Bhatari Durga, Bhatara Manik Gni, Bhatara Ratu Gede Penyarikan, dan lain-lain. “Setelah melewati tahap pengenalan itu semua baru dinyatakan lulus ujian tingkat setara S1 kerohanian tahun 1995. Ujian ini menekankan pada keyakinan ilmu dan keteguhan mental,” kisahnya.
Untuk ujian setara “S2”, harus melewati 3 ujian inti. Pertama, memantapkan ilmu kerohanian ke tingkat kesempurnaan untuk menuju genah Ida Bhatara leluhur atau Dewa Hyang. Tata laksananya dengan melakukan persembahyangan di tepi pantai pada malam Tilem Kapitu pukul 24.00 untuk mendapat ilmu kerohanian Dewa Ruci Sejati yang berwujud Naga Basuki. Ujian ini dilewati tahun 2015.
Awal tahun 2021, Rochineng melewati ujian setara “S3”. Di tingkatan ini dia mengaku hanya berkomunikasi gaib dengan Ida Bhatara dan Dewa Hyang dalam bentuk sabda dan wahyu gaib. Dia menganut sistem pembelajaran kerohanian dengan dua guru, yakni guru manusia dan guru Bhatara. Saat guru manusia memberikan materi A dan guru bhatara memberikan anugerah, si murid memperoleh kawisesan A.
Semakin tinggi, seorang murid akan dikenalkan dengan alam semesta sebelum akhirnya sampai tahap guru dan memiliki sisya atau murid. Soal guru, Rochineng menyebut nama almarhum Mahaguru Made Regog alias Pekak Gunung dari Banjar Celagigendong, Pemecutan, Denpasar.
Mencapai tingkatan puncak, ia mengaku tak boleh menolak bila ada orang yang ingin berguru padanya. Rochineng berkomitmen agar ilmu kerohanian yang diwariskan leluhur Bali tetap lestari. Kata dia, yipelajari adalah ilmu putih seperti menjalankan usadha, penolak bala, menjaga keharmonisan lingkungan, dan meningkatkan sradha bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Tentang pantangan mempelajari ilmu kerohanian, dia berujar kuncinya pengendalian diri dan ketulusan. Di tingkat dasar, untuk membentuk mental agar tak emosi, pola makan diatur. Tidak boleh makan darah, jeroan, dan kepala. Berkelahi tidak boleh. Selanjutnya diikuti penyucian jasmani-rohani dengan puasa mulai seminggu, dua minggu, hingga satu bulan 7 hari. Untuk tahap dasar, proses yang harus dilalui minimal 5 tahun. Pada tahap yang lebih tinggi, puasa ini juga ditempuh dengan tidak mengonsumsi nasi dan karbohidrat lainnya. “Ibaratnya seperti seekor kera. Hanya boleh daun-daunan saja,” ujarnya meyakinkan. nan
























