Ciptakan Generasi Bebas Tembakau, Jaya Negara Paparkan Kebijakan KTR dalam Pertemuan APCAT

WALI Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, saat memberi sambutan pada Konferensi APCAT di Sanur, Jumat (2/12/2022). Foto: ist

DENPASAR – Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, menghadiri Konferensi Aliansi Kota Asia Pasifik untuk pengendalian tembakau dan pencegahan penyakit tidak menular (Asia Pacific Cities Alliance for Tobacco Control and NCDs Prevention/APCAT). Dalam acara itu, Jaya Negara memaparkan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Kota Denpasar.

Konferensi APCAT dihadiri ratusan delegasi berbagai negara dan kabupaten/kota se-Indonesia. Acara itu berlangsung selama tiga hari, 1 – 3 Desember 2022, di Prime Plaza Hotel, Sanur, Denpasar. Dalam acara tersebut hadir Wali Kota Bogor, Bima Arya, yang sekaligus menjadi Co-Chair APCAT. Hadir pula Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta, serta undangan bupati dan wali kota lainnya yang tergabung ke dalam APCAT.

Read More

Wali Kota Jaya Negara mengatakan, sebagai wilayah yang banyak dikunjungi wisatawan asing dan domestik, Pemkot Denpasar berusaha membangun kota yang layak huni dan sehat. Upaya meningkatkan kesehatan masyarakat pun terus dilakukan, di antaranya dengan menetapkan Perda No. 7 Tahun 2013 tentang KTR. Kemudian, tanggal 19 Mei 2022 lalu, Pemkot Denpasar meluncurkan Program Destar (Denpasar Kota Sehat Tanpa Asap Rokok).

Acuan kerangka kerja Program Destar meliputi langkah penerapan dan penegakan kebijakan KTR yang efektif di seluruh wilayah KTR, yakni sekolah, fasilitas kesehatan, serta seluruh fasilitas umum di Kota Denpasar yang terdapat tanda larangan merokok, dengan target pencapaian lebih dari 85% kepatuhan terhadap kebijakan KTR pada tahun 2022. Serta larangan untuk iklan rokok luar ruang dengan moratorium iklan rokok berlaku di seluruh kawasan luar ruang Kota Denpasar.

Co-Chair APCAT, Bima Arya, mengatakan aliansi ini konsisten mencegah dampak negatif dari industri tembakau. Tercatat hingga bulan November 2022 sudah ada 360 kota/kabupaten telah mengadaptasi perda pengontrolan tembakau. “Kami semakin menjadi mitra yang strategis bagi Kemenkes, APCAT ingin menciptakan kegiatan menarik untuk mencegah efek negatif penggunaan tembakau,” ujarnya.

Bima Arya menambahkan, APCAT bertujuan membawa komitmen untuk memperkuat kolaborasi, mengakselerasi kemajuan, mencegah beban penyakit tidak menular (PTM), menghapuskan tuberculosis (TBC), dan meningkatkan sinergi.

“Saya melihat taktik terbaik para pemimpin daerah di negara Asia Pasifik dari isu pengendalian tembakau. Dan untuk konteks lokal, menciptakan kota bebas asap rokok, melarang iklan rokok, advokasi meningkatkan cukai,” katanya.

Sejauh ini prioritas APCAT, lanjut Bima Arya, benar-benar menekankan pentingnya kepemimpinan dan menguatkan komitmen untuk pengendalian atau kontrol tembakau. Demikian juga mendorong akuntabilitas pemerintah subnasional, seperti vaksinasi dan mencegah pengaruh industri komoditas tembakau.

Dia menambahkan, pada tahun 2016, tercatat hanya ada 12 kota di kawasan Asia Pasifik, namun sekarang sudah ada 82 wali kota di 12 negara yang memberi dukungan dalam pengendalian tembakau. Pihaknya menyadari betapa pentingnya peran media sosial dan komunitas memperkuat kolaborasi.

“Tidak hanya program G to G (Government to Government), B2B (Business to Business), namun juga kalangan muda dan media yang harus fokus pada pentingnya kesehatan,” tegasnya. rap

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.