Buleleng Gunakan Aplikasi E-PPDB

  • Whatsapp
KEPALA Disdikpora Buleleng, Made Astika. foto: rik

BULELENG – Untuk efisiensi dan efektivitas kerja dalam hal Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2021, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng memakai aplikasi PPDB secara daring atau e-PPDB. Penggunaan e-PPDB membantu kinerja dinas yang semula dilakukan secara manual.

Kepala Disdikpora Buleleng, Made Astika, mengatakan, sebelumnya sistem manual yang digunakan memerlukan waktu yang lama. Tapi dengan sistem e-PPDB ini, efesiensi waktu dan efektivitas kerja lebih cepat.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, penggunaan aplikasi ini merupakan tahap awal.Meski tahap awal, namun kinerja dalam penerimaan menjadi lebih efektif dan efisien, baik dari waktu, proses seleksi, dan pengumuman, serta anggaran.

“Ya, dengan ada sistem atau aplikasi ini, semua dapat diminimalisasi, baik itu dari penganggaran, waktu, hingga pelaksanaan,” kata Astika, Rabu (30/6/2021).

Pendaftaran secara daring ini, kata Astika, sebenarnya amanah dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No. 1 Tahun 2021 terkait pembatasan kerumunan. Dengan sistem yang disiapkan, maka kerumunan akibat pendaftaran atau PPDB dapar dihindarkan karena seluruh proses bisa dikerjakan dari rumah.

Aplikasi yang digunakan cukup ringan, mengingat dapat diakses dimana saja dan dengan perangkat seperti komputer ataupun ponsel pintar. “Tapi sinyal penting. Jika di daerah tertentu ada kesulitan sinyal, maka dapat meminta ke satuan pendidikan untuk mendaftarkan diri ke sekolah dituju,” jelas Astika.

Baca juga :  Disebut Berpeluang Gantikan Almarhum Ida Bagus Sunarta, Begini Tanggapan Kadek Suastiari

Pengumuman calon peserta didik yang melamar ke jenjang SMP, dimulai Rabu (30/6/2021). Meski telah diumumkan, masih banyak menyisakan yang tidak lolos. Bukan karena sistem, tapi karena pelamar yang banyak. Pengumuman dengan cadangan masih memungkinkan di tempat itu. Yang sudah tidak dalam kapasitas sekolah itu akan dibawa ke sekolah lain sesuai zonasi.

“Hal yang menyebabkan terpental itu, sudah tidak memungkinkan untuk diterima tapi masuk zonasi. Disanalah kebijakan Disdikpora khususnya dalam mendistribusikan ketika anak tidak mendapatkan satuan pendidikan,” pungkas Astika. rik

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.