BPBD Bali: Tujuh Persen Penduduk Buleleng Tinggal di Zona Rawan Bencana

  • Whatsapp
KEPALA BPBD Provinsi Bali, Made Rentin. Foto: net
KEPALA BPBD Provinsi Bali, Made Rentin. Foto: net

BULELENG – Kabupaten Buleleng memang rentan terjadi bencana, jika melihat topografi wilayah yang ‘nyegara gunung’. Terlebih beberapa hari belakangan ini sering terjadi cuaca ekstrem yakni hujan lebat dengan intensitas tinggi. Bahkan, diketahui tujuh persen penduduk di Buleleng tinggal di zona rawan bencana.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali, Made Rentin, mengatakan, sebanyak tujuh persen dari total penduduk Buleleng tinggal di daerah yang tingkat kemiringannya lebih dari 30 persen. Kondisi ini sangat membahayakan, karena ketika hujan lebat turun, potensi terjadi tanah longsor cukup tinggi.

Bacaan Lainnya

“Tahun 2019 lalu terjadi di Desa Mengening, satu keluarga yang tinggal di daerah dengan tingkat kemiringannya lebih dari 30 persen meninggal akibat bencana longsor. Masyarakat yang tinggal di tempat seperti itu berisiko, bencana akan terus mengintai,” kata Rentin, Rabu (2/12/2020). 

Mengingat saat ini dalam situasi pandemi Covid-19, jika nantinya terjadi bencana sampai harus melakukan evakuasi masyarakat ke lokasi pengungsian, Rentin menegaskan akan tetap menerapkan protokol kesehatan dengan skema-skema yang telah ditetapkan.

“Di pengungsian diatur tata laksana penerapan protokol kesehatan. Pengungsi harus menggunakan masker dan tidak berkerumun. Kapasitas di tempat pengungsian juga kami atur. Misal, kapasitasnya 100 orang, tapi situasi pandemi ini jumlahnya harus dibatasi hanya 40 orang sehingga bisa jaga jarak,” jelasnya.

Baca juga :  Gubernur Koster: Kasus Positif Covid-19 di Bali Meningkat karena Dampak Libur Akhir Tahun

Melihat saat ini sudah memasuki cuaca ekstrem, BPBD Provinsi Bali mengimbau kepada masyarakat yang tinggal di zona rawan untuk selalu waspada akan kemungkinan terjadinya bencana. Kata Rentin, BPBD akan selalu memantau dan siaga 24 jam untuk memantau pergerakan bencana yang terjadi di seluruh wilayah Bali.

“Kami selalu standby. Kesiapan sarana dan prasarana juga selalu standby dan memadai. Kami selalu melakukan koordinasi dengan personel yang ada di kabupaten untuk memonitor. Jika di kabupaten ada kendala, kami di Provinsi siap memberikan support baik logistik, alat dan SDM,” pungkasnya. rik

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.