Belajar Daring Jangan Sampai Bebankan Siswa

GURU salah satu sekolah di Denpasar saat menyampaikan pembelajaran daring dari sekolah. Foto: ist
GURU salah satu sekolah di Denpasar saat menyampaikan pembelajaran daring dari sekolah. Foto: ist

DENPASAR – Praktisi pendidikan, Prof. Putu Rumawan Salain, mengatakan, pembelajaran daring yang kembali dilakukan pemerintah sebagai antisipasi penyebaran Covid-19 varian Omicron yang kini tengah meningkat grafiknya, jangan sampai membebani siswa terlalu berat. Penugasan yang diberikan seharusnya menekankan pada pembelajaran secara mandiri.

“Penugasan itu bagaimana siswa bisa belajar mandiri, sesuai kemampuannya, dengan perkembangan psikologi, dan didukung oleh fasilitas online (daring) yang memadai. Jangan sampai pembelajaran daring dengan tugas yang berat membuat anak jatuh sakit,’’ kata Prof. Rumawan Salain, Minggu (6/2/2022).

Read More

Saat pembelajaran daring tempo lalu, yang terjadi siswa belajar di rumah meminta bantuan orang tua. Hal ini menambah kesibukan orang tua. Padahal, kata Prof. Rumawan Salain, bukan begitu konsep pembelajaran daring di rumah. ‘’Jadi, hemat saya, prinsipnya penugasan itu harus menyenangkan siswa. Orang tua hanya sebatas mendampingi anak belajar,’’ kata guru besar Universitas Udayana ini.

Di tengah ‘belajar dari rumah’ seperti sekarang, sambung Rumawan, bimbingan dari guru sangat diperlukan. Bimbingan dan arahan di sini tak hanya tentang pemahaman terhadap materi pelajaran. Ia juga mencakup bimbingan dan arahan terhadap karakter peserta didik.

Rumawan berkata, pengalaman selama belajar melalui daring selama ini tidak adanya hubungan emosi antara guru dengan murid. Para guru harus mampu mengukur beban atau bobot tugas yang layak bagi para siswa, sehingga saat belajar daring siswa tak merasa beban.

‘’Misalnya buatlah tugas yang mampu membuka wawasan mereka secara holistik. Bagikan tugas membaca buku dan saat pelajaran online dimulai, silahkan mereka bertutur dan didiskusikan sehingga suasana kelas online menjadi sangat aktif,’’ kata mantan Ketua Dewan Pendidikan Kota Denpasar ini.  

Ia mendaku, setelah 2 tahun mengalami pandemi tidak ada upaya yang serius untuk menangani belajar mengajar secara daring. ‘’Kita bisa “belajar” dari negara lain yang telah berpengalaman untuk itu (belajar daring) seperti Australia. Atau dapat pula meniru sekolah jarak jauh  yang telah diterapkan Kementerian Pendidikan yang populer dikenal sebagai Universitas Terbuka,’’ ujarnya.

Terpisah, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Denpasar, Ketut Suarya, menghimbau para guru agar tetap membangun semangat belajar mengajar di tengah pandemi Covid-19. Guru harus memiliki tekad yang sama yaitu menolak menyerah melawan Covid-19 sampai kapan pun. ‘’Oleh karena itu guru harus tetap mengajar siswanya meski dilakukan secara daring,’’ lugasnya.

Menurut Suarya, guru memiliki jasa yang besar dan menjadi pahlawan karena di saat pandemi Covid-19 tetap harus belajar. Risiko besar memang menanti guru saat pandemi Covid-19 saat ini namun tanggungjawab guru untuk mengajar tidak pernah surut. PGRI memberikan apresiasi besar kepada para guru atas keberaniannya.

Suarya mengatakan guru di Denpasar sudah memberikan yang terbaik bagi pendidikan di Denpasar. ‘’Meski dalam kondisi seperti sekarang ini kita tetap melakukan pengajaran,’’ tegasnya. tra

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 comment

  1. Sama juga, jangan membebani guru honorer. Semua pihak jangan sampai terbebani, siswa, guru honorer dan orang tua.