Bali Mencari Ketua Umum KONI

  • Whatsapp
Made Nariana

Oleh Made Nariana

KOMITE Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Bali, kinisedang menjajaki siapa yang bakal pantas menjadi Ketum (Ketua Umum) organisasi itu ke depan, pasca I Ketut Suwandi, yang tidak boleh mencalonkan diri lagi.

Bacaan Lainnya

Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) KONI Bali mestinya sudah dilakukan Desember 2021. Tetapi diundur sampai Februari atau Maret 2022, dengan berbagai pertimbangan.

Pemilihan pimpinan KONI di mana pun pasti ramai. Pasalnya jabatan itu dianggap cukup memiliki gengsi dan martabat, khususnya di bidang olahraga. Pengurus Cabang olahraga (cabor) provinsi dan Ketum KONI Kabupaten/Kota se-Bali memiliki suara untuk menentukan Ketum mereka.

Sekalipun demikian pemilik suara biasanya juga menunggu sinyal atau bisikan, figur mana yang diinginkan user (pengguna). User itu tiada lain, penguasa wilayah alias Gubernur. Sebab Ketum KONI merupakan tangan kanan Gubernur dalam membina olahraga amatir di daerahnya.

Olahraga amatir ditangani KONI, olahraga pendidikan ditangani OPD atau dinas terkait di bidang olahraga, dan olahraga rekreasi ditangani sejumlah figur yang bergerak di bidang tersebut.

Belakangan siapa akan menjadi Ketum KONI Bali? Itulah antara lain pertanyaan yang disampaikan kepada saya, dan juga dipertanyakan lewat media sosial.

Baca juga :  Disnakertrans NTB Siap Perjuangkan Aspirasi Buruh

Dalam sejumlah perbincangan di wasthap grup (WAG) Ketua-Ketua KONI se-Bali belum lama ini, saya mencatat beberapa pendapat. Memang ada yang guyonan tapi ada juga yang serius memberikan masukan.

Ada pihak, menginginkan Ketum KONI harus orang independen. Maksudnya tidak berpartai, dengan harapan siapa pun penguasanya, dari partai mana pun kelak, ia dapat fleksibel melakukan tugas. Di lain pihak, ada juga yang memiliki pendapat, tidak perlu ada persyaratan dengan istilah independen.

Siapa pun boleh, sepanjang ia dekat dengan kekuasaan. Memiliki akses dengan kekuasaan, sebab semua dana KONI dari pemerintah. Boleh mencari dana di luar pemerintah, tetapi khusus untuk Bali usaha itu sulit, sehingga semua diharapkan dari APBD.

Selama ini, Ketum KONI selalu bergesekan dengan kekuasaan. Ketum KONI merupakan jabatan strategis. Banyak yang mengincar atau pengen meraihnya.

Saya berpendapat, kalau memang KONI tergantung dari dana pemerintah, figur tersebut harus memiliki “chemistry” (hubungan) dengan penguasa setempat. Kalau hubungannya baik, maka segala seuatu dapat dilobi secara fairplay dengan lancar, sehingga dunia olahraga dapat lebih maju.

Hubungan baik itu harus profesional. Artinya begitu yang bersangkutan menjadi pemimpin KONI, ia harus mengayomi semua anggotanya, yang mungkin memiliki keyakinan politik berbeda-beda. Begitu sebagai pemimpin terpilih, ia menjadi pemimpin semuanya.

Saya memiliki konotasi, orang independen itu, orang kurang mau mengambil risiko hidup. Ia lebih condong mencari selamat. Baik di depan, sering nyelimputan di belakang. Pada saat berkepentingan, ia akan baik-baik saja. Begitu ada perubahan baru, ia dengan segera lari ke pihak lain. Hidup harus ada prinsip, tetapi menjaga relasi dengan semua pihak.

Baca juga :  Pemdes Siangan Siapkan Sembako untuk Warga Isoman

Siapa pun, jika memiliki kekuasaan pasti pertama; akan mencari sehabatnya yang sejati untuk membantunya. Kedua; pertimbangan orang professional akan tetap menjadi acuan pilihan. Ketiga; menggunakan orang yang berlawanan hanya sekadar taktik dan strategi untuk memenangkan kekuasaan berikutnya.

Ada juga pendapat, olahraga jangan dipolitisasi. Atau unsur politik jangan masuk ke olahraga. Politik adalah ilmu. Ilmu politik, dapat masuk di sektor mana pun termasuk olahraga. Tentu kalau dipergunakan di olahraga, artinya menerapkan politik olahraga.

Kalangan olahraga pasti ingat, Bali dua kali berturut-turut kalah bidding (perebutan) tuan rumah PON, jutsru karena faktor politik. Pertama kalah lawan Papua (PON XX) dan kedua kalah sama Sumut-Aceh (PON XXI) mendatang 2023.

Padahal persyaratan sebagai tuan rumah, Bali lebih baik dari Papua maupun Sumut-Aceh (tuan rumah bersama). Kenapa kalah? Karena pertimbangan politik!.

Jangan phobi politik, sebab semua orang berpolitik, termasuk dipergunakan dalam mengatur rumah tangga, yang merupakan organisasi terkecil di masyarakat.

Lalu, siapa Ketum KONI Bali ke depan? Sekalipun belum ramai, banyak yang berminat baik dengan cara terbuka maupun diam-diam malu. Terpenting figur harus dekat kekuasaan, memiliki chemistry, dan diharapkan yang bersangkutan tidak feodal (kaku dan selalu ingin dihargai), memiliki sejarah panjang di dunia olahraga dan sejarah panjang bersama user.

Bali dalam PON Papua 2021, berhasil menduduki peringkat lima di Indonesia. Itu berkat perjuangan semua pihak, khususnya cabor, klub dan perkumpulan yang memiliki atlet. Pemerintah hanya memberikan fasilitasi, dan Pengurus KONI hanya mengkordinasikan doang selama pelatihan dan berjuang di laga PON. Namanya olahraga, selalu KMS (kalah-menang sehat). (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.