Aturan ke Indonesia Wajib Tes PCR Dinilai Lucu, Demer Nilai Perlu Ditinjau Ulang

ANGGOTA Komisi VI DPR RI, I Gde Sumarjaya Linggih. Foto: hen
ANGGOTA Komisi VI DPR RI, I Gde Sumarjaya Linggih. Foto: hen

MANGUPURA – Ketika para pelaku perjalanan dalam negeri menikmati “kebebasan” dengan cukup tes antigen jika bepergian dengan pesawat, cerita berbeda dialami mereka yang bepergian ke luar negeri dan hendak pulang ke Indonesia. Alih-alih cukup tes antigen, mereka wajib tes PCR.

“Ini kok lucu ya? Kita ingin pulang ke Indonesia kok malah disuruh tes PCR lagi, padahal sudah vaksin lengkap juga,” cetus anggota Komisi VI DPR RI, I Gde Sumarjaya Linggih, dengan nada kesal, Rabu (4/5/2022) malam.

Bacaan Lainnya

Demer, sapaan akrabnya, sedang berada di Singapura untuk keperluan keluarga. Ketika hendak mengurus perjalanan pulang, dia dikabari perlu melakukan tes PCR lebih dahulu. Dia mengaku terkejut dengan kebijakan itu, karena sebelumnya tidak pernah diberitahu bahwa kembalinya wajib PCR. Apalagi dia sudah vaksin lengkap.  

Disinggung mengapa harus sewot untuk tes PCR, Demer berujar kebijakan tersebut sebentuk sebangun dengan Indonesia membatasi diri sendiri. Dari sejumlah syarat masuk Bandara I Gusti Ngurah Rai yang dia kirim, tercantum wajib memiliki dokumen hasil tes PCR 2×24 jam dari bandara asal di luar negeri. Kemudian juga wajib tes PCR bagi penumpang yang belum mendapat vaksin Covid-19 atau suhu tubuhnya di atas 37,5 derajat Celcius.

Baca juga :  FIFA Matchday: Batal Lawan Banglades, Ini Tiga Negara Calon Lawan Timnas Indonesia

Menurut Demer, secara logika, jika sudah vaksin lengkap, maka seyogianya kewajiban tes PCR di bandara asal tidak perlu diterapkan. Jika kemudian penumpang itu hasil tes PCR positif, maka dia harus menginap di Singapura untuk karantina.

“Masalahnya ini jadi bisnis untuk Singapura, kita harus stay (tinggal) di Singapura lagi. Ini hotel penuh di Singapura, yang untung mereka, bukan negara kita. Lucu kalau Indonesia justru membatasi diri sendiri, mestinya cukup antigen saja,” seru politisi Partai Golkar tersebut.

Dengan masifnya vaksinasi Covid-19 booster oleh pemerintah selama ini, ulasnya, kebijakan wajib tes PCR tersebut seakan berpunggungan dengan realitanya. Jika benar pemerintah percayabooster memberi kekebalan terhadap virus Covid-19, wajib tes PCR menjadi semacam ironi. “Masuk Singapura tidak dibatasi, cukup antigen, kok malah warga negara Indonesia seperti dibatasi masuk rumah sendiri?” sesalnya.

Melihat gambaran besarnya, Demer berpandangan ada sistem yang mesti diperbaiki di Indonesia. Jangan sampai kebijakan pemerintah justru merugikan negara sendiri, dan menguntungkan negara lain. “Jika misalnya ada yang positif PCR, mereka karantina di Singapura, itu devisa masuk ke mana? Singapura yang dapat, Indonesia yang rugi. Saya minta kebijakan ini ditinjau lagi, minimal ada penjelasan yang komprehensif jika ada warga kita ingin ke luar negeri. Jangan simpang siur macam begini,” tandasnya.

General Manager Angkasa Pura I Bandara Ngurah Rai, Herry A.Y Sikado, yang dimintai konfirmasi via telepon, membenarkan bahwa masuk Bali memang harus tes PCR 2×24 jam di bandara asal. Kemudian setelah tiba di Indonesia, jika penumpang itu sudah vaksin lengkap apalagi booster, maka mereka tidak perlu lagi tes PCR. “Kalau berangkat dari bandara asal (di luar negeri) memang harus PCR. Ini berlaku mulai 5 April lalu. Tapi kalau sudah booster tidak perlu PCR lagi setelah masuk Indonesia,” jelasnya. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.