Arak Gula Dianggap Ancam Petani Arak Tradisional

  • Whatsapp
Ilustrasi. Foto: net
Ilustrasi. Foto: net

KARANGASEM – Sejumlah petani arak tradisional di Desa Adat Kebung, Sidemen, Karangasem berkeluh-kesah tentang beredarnya arak gula yang dipandang mengancam keberadaan arak tradisional. Keluhan tersebut disampaikan saat Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Karangasem turun berdiskusi dengan para petani di wantilan Desa Adat Kebung Kangin, Sidemen, Rabu (24/2/2021).

Bendesa Adat Kebung, I Ketut Wika, Kamis (25/2/2021) mengatakan, usai dikeluarkannya Pergub Bali Nomor 1/2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan/atau Destilasi Khas Bali, arak gula yang dianggap sebagai minuman fermentasi mulai beredar di wilayah Sidemen. Yang membuat para petani arak tradisional mengeluh, jelasnya, karena harga jual arak gula jauh lebih murah ketimbang harga arak tradisional hasil penyulingan dari tuak.

Bacaan Lainnya

Biasanya, kata dia, untuk satu botol arak tradisional ukuran 600 mililiter dijual dengan harga Rp15 ribu sampai dengan Rp20 ribu. Sementara untuk arak gula dengan ukuran yang sama dijual jauh di bawah, hanya Rp8 ribu per botol. “Persaingan harga ini yang menjadi keluhan, karena perbedaan harganya cukup jauh. Dikhawatirkan maraknya arak gula akan berdampak terhadap kelangsungan petani arak tradisional bali,” kata Wika.

Dia berharap kondisi saat ini, terlebih ada Perpres yang baru, ada kejelasan mengenai tata kelola arak tradisional. Pun ada standardisasi harga untuk arak tradisional bali, sehingga para petani serta produsen arak tradisional menjadi sejahtera. Bukan sebaliknya, dengan beredarnya arak gula terjadi persaingan harga, sehingga arak tradisional terdesak dan banyak petani arak berhenti memproduksi arak sulingan.

Baca juga :  KONI Sepakati Porprov Bali 2021 Ditunda, Ini Alasannya!

“Kalau di kawasan Desa Adat Kebung, Sidemen ini produksi arak asli hampir 99 persen, kurang lebih 250 KK. Saya berharap supaya instansi pemerintah terkait bisa mencarikan solusi biar arak petani bisa kembali seperti semula, karena petani arak merupakan mata pencarian,” jelasnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Karangasem, I Nyoman Sutrisna, membenarkan adanya keluhan para petani arak tradisional tersebut. “Para petani arak tradisional di Sidemen resah ada beredar arak fermentasi yang katanya menjatuhkan harga, sehingga menyebabkan arak tradisional jadi kurang dilirik,” ujarnya saat dimintai komentar.

Dengan kondisi tersebut, dia berujar pemerintah harus hadir untuk melindungi petani arah tradisional. Jika pemerintah tidak hadir dan melarang arak yang tidak khas tradisional seperti arak gula tersebut, petani arak tradisional akan kalah bersaing. Ini tentunya dapat mengancam kelangsungan petani arak yang diwariskan turun-temurun.

Dia berkata pemerintah agar membuat standardisasi dari sisi kualitas dan higienitasnya, sehingga tidak ada lagi persaingan harga. Menurut Sutrisna, untuk mengatur semua itu memang harus ada petugas yang menertibkan. Sebab, pengertian fermentasi yang dimaksud adalah bahan bakunya masih alami, sedangkan untuk arak gula dibuat dari gula yang merupakan produk hasil olahan tebu.

“Ini perlu ditertibkan, nanti ada tim dari Provinsi dan Kabupaten yang segera akan dibentuk. Kemarin kami rapat agar segera tim bisa bergerak melindungi para petani arak tradisional,” tandas Sutrisna. nad

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.