Adu Gertak dan Dramatisasi Penguasa Versus Penantang

Arjuna bersumpah akan membakar diri jika tidak mampu membunuh Jayadrata yang menyebabkan Abimanyu, putra Arjuna, terbunuh di palagan Kurusetra. Sumpah yang terdengar sangat menyeramkan itu membuat panik Kurawa, sekaligus membentengi rapat Jayadrata pada hari keempatbelas perang Mahabharata, agar Arjuna gagal menunaikan sumpahnya. Berkat muslihat Krisna yang menutup sinar matahari dengan Cakra Sudarsana, akhirnya misi Arjuna tercapai.

Panasnya cuaca di Bali dua pekan terakhir seakan penanda tingginya tensi permainan politik pada Pilkada 2020. Makin dekat waktu pemungutan suara 9 Desember, kian beragam pula manuver komunikasi politik yang dilancarkan tim paslon yang berkontestasi. Sejumlah wacana dilempar ke publik oleh politisi untuk menggertak lawan, yang dalam ilmu komunikasi dikenal dengan istilah fear arousing communication (komunikasi dengan membangkitkan rasa takut).

Read More

Ketua DPD PDIP Bali, I Wayan Koster, sempat menggunakan pendekatan ini ketika mencetuskan siap mengerahkan “kekuatan multinasional” untuk mengepung Karangasem. Maksudnya, PDIP mengerahkan semua potensi di Bali untuk membantu jagoannya, Gede Dana, menghadapi hegemoni IGA Mas Sumatri selaku petahana.

Pada sesi debat eksploratif debat kandidat Pilkada Tabanan, Minggu (22/11) lalu, melalui pertanyaan, Komang Sanjaya selaku calon Bupati juga secara halus melempar wacana bahwa kepala daerah sulit berhasil jika tidak didukung partai mayoritas di DPRD. Ini sebagai sindiran untuk paslon Panji-Budi yang hanya didukung 22,5 persen suara parlemen.

Dalam teori dramatik (dramatistic theory), Kenneth Burke mengandaikan melihat seluruh hal di dunia sebagai panggung sandiwara. Orang berpolitik, melempar wacana, dan sebagainya sebagai drama komunikasi dengan tujuan tertentu. Berpijak pada teori itu, Sanjaya sedang mendramatisasi bahwa pembangunan di Tabanan tidak akan optimal jika paslon yang diusung PDIP, sebagai partai dominan di DPRD Tabanan, tidak terpilih. Pernyataan Sanjaya itu dapat bermakna “Kalau bukan PDIP yang menang, maka Tabanan akan….”

Meski wacana itu logis, Sanjaya seperti khilaf era kepemimpinan AA Gde Agung pada 2005-2015 tercatat sebagai periode gemilang pembangunan di Badung. Puspem Badung dan masifnya pembangunan infrastruktur juga terwujud pada era Gde Agung. Sebagai catatan, Gde Agung diusung bukan oleh PDIP yang merupakan partai penguasa di DPRD Badung.

Kini, strategi perang urat syaraf juga ditarikan Sugawa Korry. Rabu (24/11) lalu dia berseru optimis paslon yang diusung Golkar dan koalisi akan melahirkan kejutan di Denpasar dan Tabanan, juga Jembrana. Pernyataan “optimis bikin kejutan” itu sendiri sudah jadi kejutan. Sebab, secara kasat mata, paslon Jaya Wibawa yang dijagokan PDIP jelas popularitas, akseptabilitas, dan elektabilitasnya jauh di atas yang diunggulkan Golkar dan koalisi. Belum lagi Tabanan dikenal sebagai kandang “Banteng” dengan dominannya pemilih tradisional.

Sugawa juga memakai strategi plain folks, salah satu teknik propaganda, yakni pesan yang menyatakan bahwa dia berbicara berpihak kepada pihak lain dalam usaha kolaboratif mewujudkan tujuan. Ketika mengklaim 60 persen masyarakat di Denpasar dan Tabanan ingin perubahan, dia jelas berupaya menyerap empati publik. Tentu, ini terlepas dari apakah pernyataan itu benar secara faktual ataukah hanya dramaturgi belaka.

Sugawa seperti sedang mengadu keberuntungan lewat komunikasi politik, sebagaimana “berhasil” dia terapkan di Pilkada Badung pada medio Juli 2020 lalu. Gencar wacana mengusung paket Diatmika-Muntra sebagai penantang kuat Giriasa selaku petahana, ditambah cocoklogi niskala 21,21,21, Giri Prasta jadi blingsatan juga. Giri bergegas mendekati Gde Sumarjaya Linggih (Demer) dan mengajak Golkar bergabung, menghadirkan paslon tunggal demi mengenyahkan Diatmika-Muntra yang dalam perjalanan direkomendasi DPP Golkar. Maknanya, Giri niscaya tidak akan merayu elite Golkar bila Sugawa tidak menggertaknya dengan wacana yang menohok.

Mengulik cerita di balik layar Pilkada 2020 semacam ini perlu jadi konsumsi khalayak, agar tidak terjebak dalam politik baperan; sedikit-sedikit terbawa perasaan dan melihat yang tidak sejalur sebagai musuh. Pilkada hanya sebutir debu di gurun pasir, dan digelar paling lama lima tahun sekali. Kalau ada saling sindir di ruang publik, terutama media sosial, itu sekadar komunikasi politik sebagai usaha pragmatis memperoleh kemenangan melalui aksi simbolik.

Harold Lasswell, yang terkenal dengan paradigma komunikasi, mengartikan politik sebagai “siapa memperoleh apa, bilamana dan bagaimana”. Dalam perang politik kekuasaan, mengaum untuk menggentarkan lawan dengan wacana atau gertakan merupakan hal lumrah, jika tidak ingin disebut perlu. Kini, layak dinanti siapakah yang lebih berhasil, penguasa atau penantang, memainkan dramatisasi keadaan dengan tebar ancaman seperti dilakukan Arjuna di Kurusetra itu?  Gus Hendra

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.