DENPASAR – SMPN 10 Denpasar pantas menyandang sekolah lengkap dan berkualitas. Selain ditetapkan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendibudristek) sebagai Sekolah Penggerak, SMPN 10 Denpasar kini juga ditetapkan Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek sebagai sekolah penyelenggara pembelajaran Program Penguatan Karakter Siswa Mandiri melalui Kreasi Seni (Presisi).
Pada Rabu (7/12/2022), SMPN 10 Denpasar alias Spenda genap berusia 38 tahun. Puncak HUT ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Kepala SMPN 10 Denpasar, I Wayan Sumiara, S.Pd., M.Pd. Acara dihadiri Kadisdikpora Kota Denpasar, Drs. AA Gede Wiratama, M.Ag.; Ketua MKKS SMP Kota Denpasar, Ni Nengah Sujani, S.Pd., M.Pd.; Ketua Komite SMPN 10 Denpasar, I Nyoman Rajin Aryana, S.Pd., M.Hum.
Saat itu, Kasek Wayan Sumiara dengan senyum mengembang menyampaikan sejumlah prestasi yang dicapai anak duduknya. Tahun ini dua gurunya tahun ini lolos sebagai guru penggerak angkatan 7. Disebutkan, tahun ini sebanyak 200 siswanya atau 20 persen dari total jumlah siswanya sukses menorehkan prestasi bergengsi di tingkat kota, provinsi, nasional maupun internasional.
Siswa yang berprestasi di antaranya, Kadek Dwi Kresna Wahyu Subagia Putra, Ketut Khanaya Rahadipta Diana, dan I Nyoman Gopala Widyatama Putra Suwandara peraih medali perunggu YISF (Youth International Science Fair) bidang KIR.
Kemudian Ni Putu Nestri Callista Suryasada meraih medali emas Olimpiade Soshum Indonesia kategori bahasa Inggris, serta Anak Ayu Anom Swadhesi Kawiana Robin dan Ni Kadek Devyani Amelia Kusuma peraih medali perunggu YISF 2022 (Youth Internasional Science Fair). Tahun ini, siswa SMPN 10 Denpasar juga mendapatkan beasiswa penuh untuk kedua kalinya diterima di SMA Taruna Nusantara.
Menurut Sumiara, prestasi yang dicapai diakui tak terlepas dari dukungan sekala dan niskala. Secara sekala, kata dia, prestasi ini adalah hasil kerja sama dan kerja keras semua komponen sekolah, dukungan orangtua siswa dan komite sekolah, termasuk juga dukungan dari Pemkot Denpasar melalui Disdikpora Kota Denpasar.
Secara niskala, Sumiara menyakini sesuhunan yang berstana di Padmasana, pelinggih Penunggu Karang, Dukuh Sakti, Indra Blaka, Batu Kasur dan Ratu Niang Sakti, senantiasa merestui setiap langkah siswanya berkompetisi dan sukses meraih prestasi. ‘’Apa artinya saya seorang kepala sekolah tanpa dukungan semua komponen lainnya,’’ ujar Sumiara yang juga penekun spiritual itu.
Soal program Presisi, Sumiara disampingi Wakasek Humas, Ni Made Nuratni, S.Pd.; Wakasek Kurikulum, Ni Nyoman Kariani, S.Pd.; Wakasek Kesiswaan, Putu Krisna Sunarjaya, S.Pd., M.Pd.; dan Wakasek Sarana I Nyoman Wiryana, S.Pd., menjelaskan, adalah metode pembelajaran berbasis kontekstual, yakni bahwa sekolah dan guru bukan satu-satunya sumber belajar bagi anak, tapi masyarakat lingkungan juga bisa menjadi narasumber pembelajaran.
Presisi ini memberikan kebebasan belajar kepada peserta didik, sehingga menjadikan pembelajaran yang konteksnya mampu memberdayakan kreatifitas anak dan pembelajaran yang menarik serta mampu menghasilkan karya seni, supaya anak tidak bosan.
Ketua Komite Nyoman Rajin Aryana, mengapresiasi perkembangan SMPN 10 Denpasar, baik secara prestasi maupun sarana prasarana. Komite sekolah, kata dia, sangat mendukung program positif sekolah untuk melahirkan siswa berprestasi.
Kadisdikpora AA Gede Wiratama, mengucapkan selamat HUT ke-38 SMPN 10 Denpasar dan mengapresiasi capaian prestasi yang telah diraih. Ia mendukung SMPN 10 Denpasar sebagai Sekolah Penggerak dan sekolah penyelenggara program Presisi.
Ia minta semua guru harus adaptif yang bermakna erat dengan semangat dan kemampuan berinovasi, kreatif, serta proaktif menghadapi perubahan. Jangan sampai guru ketinggalan informasi kekinian, sehingga SMPN 10 Denpasar mampu bersaing baik di tingkat daerah, provinsi, nasional maupun internasional.
Konteks program Presisi, kata Wiratama, sejalan dengan napas konsep merdeka belajar dan belajar merdeka. Menurut dia, konsep merdeka belajar, sejalan dengan ajaran Taman Siswa dari Ki Hadjar Dewantara. Dalam ajaran Taman Siswa, sistem pengajaran ditujukan untuk mendidik anak menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka pikirnya dan merdeka tenaganya.
Ketua Panitia HUT Ketut Parta, S.Pd., menambahkan, serangkain HUT diisi dengan lomba akademik dan non akademik tingkat SD se-Bali, jalan sehat, juga diisi Tasmania (Pentas Maha Seni Spenda). Pada puncak HUT juga dipentaskan para peserta peraih juara 1 lomba non akademik dan penyerahan kenang-kenangan pada tiga guru purnatugas. tra/adv






















