Yowana Bali di Balik Ogoh-Ogoh

ILUSTRASI - Salah satu Ogoh-ogoh karya seni patung Yowana Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran agama Hindu, Bhuta Kala mempresentasikan kekuatan waktu alam semesta dan waktu (kala) yang terukur dan tak terbantahkan. foto: ist

Oleh Made Nariana

YOWANA (generasi muda, pemuda dan pemudi) Bali sungguh hebat yang sangat membanggakan dalam membuat ogoh-ogoh. Ada sejumlah sahabat saya dari Surabaya bertanya, apa itu ogoh-ogoh? Mereka juga sangat salut dengan kesemarakan pawai ogoh-ogoh itu!

Read More

Sebagaimana saya kutif dari media sosial, ogoh-ogoh adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran agama Hindu, Bhuta Kala mempresentasikan kekuatan waktu alam semesta dan waktu (kala) yang terukur dan tak terbantahkan.

Masyarakat membanggakan imajinasi remaja kita (Bali) dalam menggambarkan kekuatan alam tersebut dengan berbagai bentuk patung. Kreativitas remaja Bali memang luar biasa, apalagi mereka mendapat motivasi dan dukungan dari berbagai pihak terutama orangtua, lingkungan, dermawan termasuk pemerintah di semua tingkatan di Bali.

Masyarakat Bali, termasuk turis asing dan masyarakat non-Hindu kelihatan sangat senang melihat kreativitas seni budaya (patung) tersebut. Mereka banyak menggambarkan sebagai kondisi masyarakat yang ada saat ini.

Ogoh-ogoh yang dibuat remaja tersebut sangat majemuk. Ada yang bermotif kritik, penonjolan suasana bathin masyarakat, ada juga yang khusus menggambarkan bagaimana Bhuta Kala berada di tengah-tengah masyarakat jika tidak dinetralisir dengan sikap dan tindakan yang positif.

Sesuatu hal yang tidak dibayangkan masyarakat awam, dapat digambarkan dengan jelas melalui ogoh-ogoh menyangkut kondisi bangsa dan negara, kondisi daerah dan lingkungan yang kini dirasakan bathin remaja, Kalangan yowana memiliki ide brilian jauh hari menjelang Hari Raya Nyepi itu, sehingga dapat dituangkan dalam bentuk ogoh-ogoh.

Parade ogoh-ogoh yang dilaksanakan sejumlah daerah, tentu menjadi penghargaan buat yowana (pemuda- pemudi Bali). Prosesi tersebut menjadi hal yang sangat positif, dibandingkan mereka melakukan Tindakan negatif seperti mabuk-mabukan, apalagi sampai mereka terlibat dengan sabu-sabu, narkotika dan sejenisnya.

Salah satu catatan yang ingin saya sampaikan, jika ogoh-ogoh itu diperlombakan. Karya seni memang sangat subyektif. Tidak mustahil banyak protes, jika satu pihak merasa karya seninya lebih baik dari yang lain – namun tidak dapat pilihan juara.

Oleh karena perlu kepiawaian sang juri dalam memberikan penilaian. Namun bagaimana pun kejujuran juri, karena ogoh-ogoh merupakan karya seni – maka sulit akan memberikan penilaian mana yang terbaik dan mana yang kurang baik.

Oleh karenanya, sebelum ogoh-ogoh mulai dibuat di Banjar-Banjar suatu daerah, perlu ada kisi-kisi atau patokan, bagaimana kategori penilaian kelak. Paling tidak, ada bayangan apanya yang akan dinilai.

Apakah kreativitasnya, kesulitan dalam membuat, bahan yang digunakan, dan dan penampilan semata? Sebab banyak ogoh-ogoh yang dalam penampilan seperti hidup dalam sebuah kehidupan, dan banyak juga yang apa adanya (diam jika diarak) – namun semua punya penampilan yang menarik.

Bagiamana pun karya seni memang sulit dinilai dengan metamatis, sehingga muncul protes sana sini. Tetapi bagaimana pun, yowana Bali patut kita banggakan dalam menelorkan karya seni ogoh-ogoh setiap menjelang Nyepi setahun sekali. Makin tahun seni tersebut berkembang sejalan dengan teknologi abad ini.

Bukan saja bidang pertanian dan ilmu di kampus yang berkembang mengikuti teknologi modern – ogoh-ogoh pun yang merupakan karya seni budaya Bali mengikuti teknologi modern tersebut.

Bravo buat Yowana Bali yang kompak-semarak menampilkan ogoh-ogoh saat “pengrupukan” sehari sebelum kita menjalankan “brata penyepian” keesokan harinya. (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.