Usaha Tepung Sagu di Sulahan Terganjal Cuaca dan Bahan Baku

  • Whatsapp
PENGUSAHA tepung sagu di Banjar Lumbuan Kawan, Desa Sulahan, Kecamatan Susut, Bangli, dihadapkan berbagai kendala seperti cuaca, pandemi Covid-19, dan minimnya bahan baku.
PENGUSAHA tepung sagu di Banjar Lumbuan Kawan, Desa Sulahan, Kecamatan Susut, Bangli, dihadapkan berbagai kendala seperti cuaca, pandemi Covid-19, dan minimnya bahan baku.

BANGLI – Jika ditekuni secara serius, usaha pembuatan tepung sagu sejatinya sangat menjanjikan, karena sagu bisa diolah untuk camilan maupun aneka jajan. Belakangan tepung sagu juga banyak digunakan untuk masker wajah. Sayang, pengusaha tepung sagu dihadapkan berbagai kendala seperti cuaca, pandemi Covid-19, dan minimnya bahan baku.

I Ketut Sudana, pengusaha tepung sagu asal Banjar Lumbuan Kawan, Desa Sulahan, Kecamatan Susut menuturkan, Minggu (24/1/2021), belakangan ini dia kesulitan dalam proses pengeringan tepung sagu karena hujan terus mengguyur. “Saat musim hujan seperti sekarang ini kami sulit melakukan proses pengeringan, karena hanya mengandalkan sinar matahari. Salah-salah tepung sagu yang saya buat ini bisa membusuk,” kisahnya.

Bacaan Lainnya

Selain masalah cuaca, jelas Sudana, dia juga dihadapkan kendala mendapat bahan baku. Belakangan ini enau atau pohon jaka mulai langka. Kalaupun masih ada, lokasinya jauh di jurang, dan sangat sulit untuk mengambil. Dia hanya bisa mengambil dua kali.

Terkait pemasaran, dia berujar sangat bagus lantaran kebutuhan tepung sagu di masyarakat cukup tinggi untuk jajan dan camilan, dan belakangan untuk masker wajah. Sejauh ini tepung sagu buatannya, selain di Pasar Bangli, juga merambah Gianyar, Denpasar, Klungkung, dan Buleleng. Jika cuaca mendukung, dia berkata bisa sampai kewalahan melayani pesanan.

Baca juga :  Evakuasi Batang Kayu dan Sampah Kiriman dari Pantai Labuan Sait, Pecatu Lakukan dengan Cara Ini

Sejauh ini dia mendapat bahan baku dari sekitar Kecamatan Susut, dan wilayah Kecamatan Tampaksiring, Gianyar. Sementara untuk wilayah Kintamani, pohon jaka kadar sagunya sangat minim, mungkin karena faktor tanah dan suhu.

Harga pohon enau disebut bervariasi, bergantung lokasinya. Kalau lokasinya jauh dari jalan, harganya lebih murah, begitu sebaliknya. Malahan di satu wilayah, harga jaka ditawarkan menjulang tinggi. “Untuk harga enau berkisar antara 200 ribu hingga 600 ribu per pohon,” urainya.

satu pohon enau kualitas super, sambungnya, bisa didapat sekitar 200 kg sagu. Sementara untuk harga jual, sebelum adanya Covid-19, kalau grosiran kepada pengepul ditebus Rp9 ribu per kilo. Bila eceran, dia menjual seharga Rp10 ribu per kilonya. Di tengah situasi pandemi ini, harga eceran hanya Rp8 ribu, dan permintaan juga turun drastis hingga 50 persen

“Usaha ini sangat menjanjikan, makanya sejak puluhan tahun ini saya menggantungkan mata pencaharian keluarga dari tepung sagu ini. Meski kondisi seperti sekarang ini, tetap saya lakoni,” ucapnya bernada syukur. gia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.