Umanis Galungan, Wisatawan Lokal Padati Taman Ujung

  • Whatsapp
KUNJUNGAN wisatawan lokal ke Taman Soekasada, Ujung meningkat drastis saat Umanis Galungan, Kamis (15/4/2021). Foto: nad
KUNJUNGAN wisatawan lokal ke Taman Soekasada, Ujung meningkat drastis saat Umanis Galungan, Kamis (15/4/2021). Foto: nad

KARANGASEM – Kunjungan wisatawan lokal ke Taman Soekasada, Ujung meningkat drastis saat Umanis Galungan, Kamis (15/4/2021). Peningkatan jumlah kunjungan ini menjadi jumlah terbanyak sepanjang pandemi Covid-19 tahun ini.

Manajer Taman Soekasada Ujung, Ida Made Alit, mengungkapkan, tingkat kunjungan cukup tinggi galib terjadi saat perayaan hari keagamaan dan pergantian tahun. Namun, jika dibanding Umanis Galungan sebelum masa pandemi, kunjungan pada tahun ini tentu masih sangat jauh lebih sedikit.

Bacaan Lainnya

“Untuk hari ini (kemarin) kami menerima kunjungan sekitar seribu orang, ada peningkatan di masa pandemi. Kalau dibanding sebelum pandemi jauh sekali, sekarang seribu aja sudah banyak,” ujarnya.

Lebih lanjut Alit mengungkapkan, sebelum pandemi, kunjungan wisatawan lokal saat Umanis Galungan bisa mencapai 10 ribu orang, bahkan lebih. Dari pelancong sebanyak itu, pengelola bisa menuai pendapatan hingga Rp40 juta dengan tarif masuk Rp10 ribu per orang.

Hanya, begitu pandemi melanda, kondisi serupa tidak bisa lagi terjadi. “Hari biasa saja saat pandemi kunjungan 100 orang sudah bagus. Yang ada hanya di bawah itu,” imbuhnya dengan nada lesu.

Lebih jauh diutarakan, sebelum pandemi, kunjungan ke Taman Soekasada dari 100 turis asing saja bisa memberi hasil lebih. Tarif masuk untuk pelancong asing Rp50 ribu per orang, dan rerata kunjungan di atas 100 orang sehari. Kini, wisatawan asing tidak ada lagi hadir.

Baca juga :  Diskominfo Tabanan Ultimatum Pelaku Perusakan Lampu ‘Wifi Corner’

Dia berharap pernyataan Presiden Joko Widodo yang akan membuka pariwisata Bali antara bulan Juni dan Juli tahun ini bisa jadi kenyataan. Di tengah kondisi sulit ini, janji tersebut bisa menjadi angin segar. Menurutnya, jika benar dibuka, mungkin dia masih bisa optimis terus beroperasi.

“Tetapi kalau tidak, kami tidak tahu nasib ke depan Taman ini kalau tidak ada bantuan pemerintah. Saat ini uang cadangan kami sudah habis,” terangnya.

Dengan pendapatan minim, manajemen memberlakukan pemotongan gaji 50 persen untuk 50 pekerjanya. Sementara biaya operasional per bulan meliputi gaji, listrik dan perawatan mencapai Rp150 juta. Bahkan dengan penghematan besar-besar, penghasilan per bulan tak mampu mencapai angka untuk menutup biaya operasional. 

Di sisi lain, sambungnya, Taman ini termasuk cagar budaya milik pemerintah yang niscaya rusak jika tidak dirawat. Bila itu terjadi, manajemen yang kena dan bertanggung jawab terhadap pengelolaan.

“Kalau masih belum ada tanda dibuka, mungkin kami turunkan gaji karyawan 25 persen. Semua kami buka transparan kepada pekerja terkait pendapatan agar jelas,” tegasnya.

Salah seorang pelancong, Putra, asal Petang, Badung, mengaku sejak siang berada di Taman Ujung. Bersama keluarga besarnya, ini kali kedua dia berkunjung ke Taman Soekasada. “Pertama tahun 2018. Umanis Galungan tahun ini lagi datang ke sini,” pungkasnya. nad

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.