Triwulan II 2021, Total Aset Bank BPD Bali Tumbuh 8,34 Persen

  • Whatsapp
DIRUT Bank BPD Bali, I Nyoman Sudharma (tengah); bersama Direktur Operasional Ida Bagus Gede Setia Yasa; Direktur Bisnis Non Kredit I Nyoman Sumanaya; Direktur Kredit Made Lestara Widiatmika; dan Direktur Kepatuhan I Wayan Sutela Negara. Foto: ist
DIRUT Bank BPD Bali, I Nyoman Sudharma (tengah); bersama Direktur Operasional Ida Bagus Gede Setia Yasa; Direktur Bisnis Non Kredit I Nyoman Sumanaya; Direktur Kredit Made Lestara Widiatmika; dan Direktur Kepatuhan I Wayan Sutela Negara. Foto: ist

DENPASAR – Di tengah tekanan pandemi Covid-19 dan penerapan PPKM, total aset Bank BPD Bali pada triwulan II tahun 2021, tumbuh sebesar 8,34 persen (y-o-y). Dari sebelumnya sebesar Rp25,57 triliun menjadi Rp27,70 triliun. Peningkatan aset tersebut dicapai dari pertumbuhan kredit yang tumbuh sebesar Rp19,65 triliun dari sebelumnya Rp18,53 triliun.

Kredit direalisasikan terdistribusi untuk kredit konsumtif sebesar Rp10,12 triliun, kredit investasi Rp6,94 triliun dan kredit modal kerja Rp2,59 triliun. Selanjutnya untuk mempercepat akses keuangan, Bank BPD Bali memberikan akses pembiayaan dengan berbagai produk kredit berupa kredit KUR Super Mikro, KUR Mikro dan KUR  Kecil,  kredit modal  kerja,  kredit investasi  serta produk  kredit  lainnya  yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Bali ke depan.

Bacaan Lainnya

Sampai dengan triwulan II tahun 2021, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) telah mencapai Rp1,52 triliun dari semenjak ditetapkan menjadi bank penyalur KUR. Pada tahun 2021 target penyaluran KUR Bank BPD Bali sebesar Rp830,2 miliar dan pada triwulan II telah terealisasi sebesar Rp491,8 miliar dari target sebesar Rp300 miliar dengan pencapaian 163,93 persen.

Baca juga :  Dikepung Pandemi, Kerajinan Anyaman Tikar Pandan di Bangli Lesu Darah

Direktur Utama (Dirut) Bank BPD Bali, I Nyoman Sudharma, menegaskan pencapaian Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank BPD Bali pada triwulan II tahun 2021 mengalami pertumbuhan sebesar 9,50 persen  (y-o-y) dari  sebelumnya sebesar Rp21,49 triliun menjadi Rp23,53 triliun. Proporsi terbesar bersumber dari peningkatan deposito sebesar 31,48 persen dari sebelumnya sebesar Rp8,41 triliun menjadi Rp11,06 triliun.

Sementara itu, pencapaian giro dan tabungan mengalami  penurunan masing-masing sebesar 12,17 persen dan 1,54 persen secara y-o-y yang disebabkan belum bergairahnya perekonomian, sehingga masyarakat cenderung untuk memilih melakukan penyimpanan dana pada instrumen deposito.

‘’Bank BPD Bali berupaya mendukung pemerintah dalam Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dengan turut berperan serta dalam program PEN. Adapun realisasi program PEN di Bank BPD Bali sampai dengan triwulan II tahun 2021, di antaranya pemberian relaksasi/ restrukturisasi kredit kepada 11.265 debitur dengan harapan dapat memberikan ruang bagi debitur yang usahanya terdampak pandemi Covid-19 untuk dapat tetap survive,’’ ungkapnya di Denpasar, Jumat (27/8/2021).

Penyaluran subsidi tambahan bunga KUR sejak Mei 2020 kepada 12.060 debitur dengan nominal Rp43,7 miliar, penyaluran subsidi bunga kredit UMKM Non KUR sejak Mei 2020 kepada 5.394 debitur dengan nominal subsidi Rp16,06 miliar, penyaluran kredit kepada UMKM dengan penjaminan dari pemerintah sebanyak Rp18,03 miliar, penyaluran kredit kepada korporasi dengan penjaminan dari pemerintah yang saat ini telah penandatanganan PKS dengan LPEI, penyaluran PUN tahap I dengan total Rp2,59 triliun kepada 13.150 debitur atau sebesar 370 persen dari target Rp700 miliar, serta penyaluran PUN tahap II dengan total realisasi Rp1,9 triliun kepada 11.308 debitur, mencapai 172,30 persen dari target Rp1,1 triliun.

Baca juga :  Pemain Brasil Lebih Cepat Beradaptasi di Liga 1 Indonesia, Ini Alasannya!

Dalam kondisi perekonomian yang menurun dari dampak restrukturisasi kredit, Bank BPD Bali berupaya meningkatkan pembentukan Cadangan Kerugian Kredit Ekspektasian (CKKE) secara y-o-y sebesar 29,09 persen dari sebelumnya sebesar Rp780 miliar menjadi Rp1,01 triliun. Sehingga berdampak pada penurunan laba sebesar 15,22 persen (y-o-y)  dari  sebelumnya  Rp389  miliar  menjadi  sebesar  Rp321  miliar, namun pencapaian laba ini sebesar 123,33 persen dari target RBB semester I Tahun 2021.

Walaupun  terjadi penurunan laba, Bank tetap menjaga pencapaian rasio keuangan pada posisi baik, yaitu Non Performing Loan (NPL) terjaga baik di angka 2,55 persen. Sedangkan untuk rasio likuiditas Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 83,47 persen, rasio kecukupan modal Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 19,29 persen, rasio profitabilitas Return on Asset (ROA) sebesar 2,89 persen, rasio Return on Equity (ROE) sebesar 21,48 persen dan rasio efisiensi Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) sebesar 69,97 persen.

‘’Sementara itu dari sisi kepatuhan, tidak ada pelanggaran Batas Maksimum Penyaluran Kredit (BMPK), Giro Wajib Minimum (GWM), dan Posisi Devisa Netto (PDN) yang dilakukan oleh Bank BPD Bali,’’ imbuhnya.

Berbagai langkah inovatif telah dilakukan Bank BPD Bali dalam upaya optimalisasi layanan guna memberikan kenyamanan dan kemudahan bertransaksi kepada nasabah, salah satunya melalui layanan digitalisasi. ‘’Pengembangan  layanan digital (salah satunya merchant QRIS) yang melibatkan agen perorangan, lembaga keuangan dan LPD diharapkan akan dapat membentuk satu ekosistem transaksional di Bali,’’ ungkap direksi bank asal Desa Ungasan, Kuta Selatan, Badung ini.

Baca juga :  Memasuki Musim Hujan, PUPR Kota Denpasar Gencar Lakukan Ini

Yang terbaru, saat ini layanan QRIS Bank BPD Bali telah menjadi salah satu peserta sandbox untuk dapat melayani transaksi antarnegara (QRIS Cross Boarder) dimana melalui fitur ini, merchant (acquirer) QRIS Bank BPD Bali dapat menerima transaksi pengguna (issuer) dari Thailand dan fitur outbound dimana issuer dalam hal ini BPD Bali Mobile dapat melakukan scan merchant Thailand bilamana pengguna (nasabah) Bank BPD Bali berkunjung ke Thailand.

Bank BPD Bali merupakan salah satu Bank (Penyedia Jasa Pembayaran/PJP) dan satu-satunya Bank Pembangunan Daerah yang diikutsertakan oleh Bank Indonesia dalam Working Group QRIS Antarnegara. Melalui pembayaran QRIS antarnegara diharapkan dapat memberikan hasil signifikan tidak hanya untuk memfasilitasi transaksi di sektor pariwisata tetapi juga membantu UKM di Bali sebagai  kawasan wisata, meningkatkan inklusi  keuangan, ekonomi digital dan transaksi e-commerce.

Ke depan oleh Bank Indonesia akan dilanjutkan dengan integrasi sistem pembayaran Asia lainnya. Dengan begitu pada saat beroperasi secara penuh (komersial), merchant QRIS Bank BPD Bali sudah siap menerima transaksi  secara  nontunai dari  wisatawan mancanegara, sekaligus mendukung gerakan pariwisata yang berbasis CHSE.

‘’Rencananya, sistem QR antarnegara ini akan beroperasi secara komersial mulai awal triwulan I tahun 2022 mendatang,’’ tegasnya. nan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.