Transmisi Lokal Makin Mengancam, Sosialisasi Cegah Covid-19 di Bali Harus Lebih Masif

KETUA Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covud-19 Provinsi Bali, Dewa Made Indra. foto: ist

”Dewa Made Indra: sekarang proporsi jumlah transmisi lokal hampir berimpitan dengan kasus impor. Dipandang perlunya sosialiasi cegah Covid-19 harus lebih masif”

DENPASAR – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Bali Dewa Made Indra meminta para pemimpin dari tingkat provinsi, kabupaten/kota hingga tingkat desa bahkan banjar (dusun) dapat menyosialisasikan kedisiplinan dalam penerapan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 secara lebih masif kepada masyarakat karena tren kasus transmisi lokal semakin mengancam.

Bacaan Lainnya

“Kalau dicermati angka kasus positif Covid-19 ini pergerakannya cukup memprihatinkan. Di awal, kasus Covid-19 di Bali memang disumbangkan oleh ‘imported case’ atau para pekerja migran yang pulang, tetapi sekarang proporsi jumlah transmisi lokal hampir berimpitan dengan kasus impor,” kata Dewa Indra yang juga Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Bali, di Denpasar, Jumat (22/5/2020).

Dia mengemukakan, jumlah kasus positif Covid-19 di Provinsi Bali sebanyak 380 orang setelahJumat (22/5/2020) ada pertambahan enam kasus baru yakni dua orang “imported case” dan empat orang terinfeksi karena transmisi lokal.

Dari 380 kasus positif tersebut, delapan orang merupakan WNA dan 372 WNI. Dan dari 372 WNI tersebut jika dilihat proses darimana terinfeksinya yakni imported case sebanyak 186 orang, tertular dari daerah terjangkit di Indonesia ada 31 orang, dan kasus transmisi lokal sebanyak 155 orang.

“Pasien yang sudah sembuh dengan tambahan hari ini ada empat yang sembuh sehingga secara kumulatif ada 284 orang (74,74 persen). Yang meninggal tetap empat orang,” jelas Dewa Indra, seperti dilansir dari antaranews.

Untuk jumlah pasien yang masih dalam perawatan, kat dia, ada 92 orang yang dirawat di sejumlah RS rujukan dan tempat karantina yang dikelola Pemprov Bali.

Menurut dia setiap angka yang disumbangkan dari kasus transmisi lokal itu sebagai bentuk dari produk ketidaktahuan dari mereka yang sudah terinfeksi (orang tanpa gejala), kemudian penyebab lainnya ketidakdisiplinan masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan Covid-19.

“Jadi, dalam upaya mengendalikan transmisi lokal, dibutuhkan kepemimpinan yang kuat, mulai dari tingkat provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, desa bahkan sampai banjar serta tokoh-tokoh agama dan adat untuk terus menyadarkan masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan pencegahan COVID-19,” katanya.

Dengan kepemimpinan yang kuat dari berbagai tingkatan itu, kata dia, diharapkan kasus transmisi lokal Covid-19 bisa ditekan. “Namun, jika masih naik, ini menjadi tantangan bagi kepemimpinan kita semua untuk mengerahkan energi dan sumber daya untuk semakin masif mengedukasi masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan,” katanya.

”Selain menggunakan masker ketika berada di luar rumah, mayarakat harus membawa penyanitasi tangan (hand sanitizer) yang dapat digunakan setelah memegang tempat tertentu maupun bidang tertentu,” pungkas Dewa Made Indra. yes

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses