POSMERDEKA.COM, GIANYAR – Masyarakat Gianyar masih menjalankan nilai-nilai sosial budaya yang berkembang sejak dahulu. Salah satunya tradisi ngejot tumpeng saat Hari Raya Galungan. Meski tidak disebutkan dalam lontar, tapi masih lestari sebagai warisan budaya. Hal itu diungkapkan salah satu warga Gianyar, Gusti Purnata, Kamis (3/8/2023).
Dia menuturkan, setiap daerah mempunyai tradisi tersendiri setiap Hari Raya Galungan. Seperti di Gianyar, bila ada anggota keluarga yang melakukan pernikahan, maka wajib membuat penjor anten. Biasanya dibuat lebih mewah dari penjor biasa. Yang membedakan antara penjor anten dan penjor biasa adalah lamak-nya, penjor anten biasanya panjang lamak lebih dari 3 meter.
“Sekarang banyak yang buat penjor megah, tapi tetap bisa dibedakan antara penjor anten dan biasa. Kalau penjor anten panjang bisa lebih dari 3 meter,” sebutnya.
Penjor anten dibuat dengan bergotong royong. Biasanya warga yang tinggal dekat pasangan pengantin, akan bergotong royong membuat penjor anten. Penjor anten akan dihias lebih mewah, selain ukurannya lebih besar dari penjor biasa.
Selain sebagai tanda kalau ada anggota keluarga di rumah itu melakukan upacara perkawinan, penjor anten juga sebagai tanda bagi warga banjar setempat untuk ngejot tumpeng. “Banyaknya ngejot tumpeng dalam satu banjar, bisa dihitung dari jumlah penjor anten yang ada di wilayah banjar tersebut,” ungkapnya.
Pada saat Galungan, pasangan pengantin baru mendapat tumpeng Galungan dari masyarakat yang silih berganti datang ke rumah, terutama dari warga satu banjar. Tradisi ini oleh masyarakat dikenal dengan istilah ngejot tumpeng Galungan. “Hanya saja ada beberapa desa yang ngejot tumpeng tidak saat Galungan, tetapi saat umanis Galungan,” sambungnya.
Tradisi ini juga tidak ada di semua desa di Gianyar, ada beberapa desa yang tidak melaksanakan tradisi seperti ini. Tradisi ini memang tidak tercantum dalam suatu lontar, tetapi merupakan suatu kebiasaan turun-temurun yang dilakukan di masyarakat setiap Galungan. Kata dia, ngejot tumpeng lebih menekankan tradisi yang mengartikan sebagai ungkapan berbagi kebahagiaan.
Warga banjar akan datang membawa tumpeng yang berisi buah, jajan dan sampian tumpeng ke rumah sang pengantin. Kemudian oleh pemilik rumah, tumpeng itu akan diganti dengan memberi jajan uli dan tape.
Biasanya yang ngejot tumpeng ke pasangan pengantin, selain warga banjar dan juga sanak keluarga, juga beberapa warga di luar banjar yang diundang saat upacara perkawinan. Tumpeng yang diberikan juga simbol ucapan selamat dan doa bagi pasangan pengantin dalam menempuh hidup baru. “Pada sore harinya, tumpeng-tumpeng yang diberikan masyarakat ini dilakukan prosesi natab oleh pasangan pengantin,” tandasnya. adi























