Tokoh Berjiwa Pragmatis

Made Nariana. foto: dok

Oleh Made Nariana

DUNIA politik kita belakangan ini banyak yang aneh di mata masyarakar. Banyak yang sudah tahunan bahkan puluhan tahun dibesarkan partai politik tertentu, balik arah memusushi partainya. Bukan saja meninggalkan, tetapi malah ingin membunuh “ibunya sendiri yang melahirkan’’ mereka.

Read More

Tokoh semacam ini di mata saya (bahkan juga di mata banyak rakyat kecil) – merupakan tokoh penghianat. Tokoh tercela, tokoh tidak memiliki hati dan nurani. Juga tokoh sampah yang menurut agama apa pun akan menerima hasil karma buruk di kemudian hari.

Oke… soal karma dan pahala, urusan nanti. Boleh percaya dan tidak. Namun mereka selama puluhan tahun hidup dari orang lain, atau mencari makan di sebuah organisasi tertentu – tidak akan ada nilainya, loncat ke tempat lain karena sikap pragmatis sesaat.

Jiwa pragmatisme adalah sebuah pemikiran yang menekankan pentingnya kegunaan dan konsekuensi praktis dari ide atau tindakan. Orang yang pragmatis cenderung berpikir praktis, sempit dan instan. Dan menginginkan segala sesuatu yang dikerjakan atau yang diharapkan segera tercapai tanpa mau berpikir panjang dan tanpa melalui proses yang lama.

Pragmatisme juga merupakan gerakan filsafat yang mengklaim bahwa suatu ideologi atau proposi adalah benar jika berfungsi dengan memuaskan. Bahwa ide-ide yang tidak praktis harus ditolak. Bagitulah jiwa manusia pragmatis.

Belakangan sikap praktis menjadi sikap manusia kita, bahkan ada yang memanfaatkan hukum buat mencapai sesuatu dengan menayalahgunakan kekuasaan!

Seorang tokoh — apalagi menggunakan partai politik sebagai jalan menuju kekuasaan, mestinya memiliki semangat ideologis. Memiliki tujuan jangka panjang guna kepentingan rakyat. Visioner serta visi yang tidakboleh dilakukan dengan segala cara, tetapi dengan konsep-konsep dasar atas aturan dan ketentuan termasuk norma moral yang berlaku di masyarakat kita (Indonesia).

Bagaimanna seorang tokoh yang senang “kecag-kecog” (loncat sana sini) mau memimpin rakyat? Bagiamana tokoh yang gampang meninggalkan asal usulnya, menjadi warga baru di zone lain atas dasar pemikiran pragmatisme.

Oke… katanya ada yang sakit hati karenna tidak dicalonkan atau dijagokan. Apakah sependek itu pemikiran seorang pemimpin?. Apa bukan wadah sebelumnya juga tidak sakit hati memiliki tokoh atau kader politik semacam ini? Atau kata mereka “biarkan rakyat yang menilai”.

Nah karena rakyat diminta menilai, saya sarankan rakyat hati-hati dengan tokoh atau kader, apalagi kader partai yang memiliki mental tidak konsisten. Rakyat harus maklum bahwa jangankan rakyat –pemimpin, ibu, orangtua dan senior mereka yang memberi mereka jabatan, makan, cari nafkah saja mereka hianati, tinggalkan. Apalagi kita sekelas rakyat!

Pasti mereka anggap rakyat hanya kacungnya! Kalau rakyat yang serba kekurangan, beli makan untuk besok saja masih mikir — lalu bersifat pragmatis — masih dapat dimaklumi.

Namun jika pemimpin rakyat, daerah dan bangsa berpikiran sesaat hanya buat jabatan dan kedudukan tidak memiliki idelogi, akan merugikan rakyat dan bangsanya kalau mereka dijadikan pemimpin. Begitu kecewa, dia akan kembali lari ke tempat lain yang dianggap memberi harapan.

Pemimpin dan calon pemimpin (apalagi yang sudah pernah menjadi pemimpin seperti Bupati, Gubernur dll) – seharusnya visioner, dengan ideologi yang kuat dan mendasar.

Dalam menghadapi pilkada Bupati dan Gubernur 27 November 2024 di Bali….ayo masyarakat tinggalkan pemimpin yang mencla-mencle dan tidak punya konsistensi. Jangan pilih mereka yang doyan “kecag-kejog” sana-sini untuk kepentingan sesaat. (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.