TMMD ke-109 Kodim Badung ”Pengabdian untuk Negeri”, Ingatkan Arti Ketahanan Pangan

  • Whatsapp
TMMD ke-109 membangun jalan usaha tani di Desa Budaya Kertalangu, Kesiman, Denpasar. foto: gus alit

DENPASAR – Tentara Manunggal Masuk Desa (TMMD) di tengah Kota Denpasar? Mungkin sedikit ‘aneh’ kenapa karya bhakti sosial diadakan di tengah Ibukota Provinsi Bali ini. Apakah penduduknya terisolir sehingga dilakukan kegiatan membangun desa ini diperkotaan?

Bukan seperti itu maksud dan tujuan dari TMMD ke-109 oleh Kodim 1611/Badung ini. Kegiatan yang merupakan botom up, yakni usulan dari masyarakat bawah ke pihak TNI AD ini, memiliki arti luas yang mengingatkan masyarakat tentang ketahanan pangan. Di tengah kota besar, masyarakat juga memerlukan beras sebagai salah satu bahan pokok makanan.

Bacaan Lainnya

TMMD yang dilaksanakan di Desa Budaya Kertalangu, Kesiman, Denpasar selama satu bulan dari tanggal 22 September hingga 21 Oktober 2020, bertujuan untuk membantu para petani. Di mana di desa yang terletak di tengah kota ini, masih terhampar sawah produktif yang ditanami padi oleh masyarakat sekitar.

Tak hanya itu, berkat ketekunan dan keuletan masyarakat dalam bertani, desa ini pun menjelma menjadi desa budaya dan menjadi daya tarik wisata dunia.

Bahkan, di desa ini juga berdiri monumen Gong Perdamaian dan juga patung tokoh-tokoh perdamaian dunia, di mana monumen yang dibangun tahun 2002 silam dari Bali menyuarakan perdamaian kepada seluruh dunia.

Baca juga :  Golkar Siapkan 1.000 Kantong Darah

Menyikapi hal itu TMMD tahun anggaran 2020 bertema ‘Pengabdian untuk Negeri’ inipun dilakukan. Di mana tujuannya lainnya adalah mengingatkan masyarakat tentang pentingnya ketahanan pangan.

Kegiatan TMMD itu, yakni pertama pembangunan jembatan yang menghubungkan Jalan Ulun Carik dan Jalan Bakung banjar Kertajiwa dengan sertifikasi panjang 3 meter, lebar 2 meter.

Yang kedua perambatan jalan Ulun Carik sampai depan Pura ulun Carik banjar Kertajiwa dengan sertifikasi panjang 150 meter dan lebar 1,2 meter dengan volume 180 meter persegi, dan perambatan galian subak sampai dengan empelan subak embung Banjar Kertajiwa dengan serifikasi panjang 350 meter dan lebar 1,2 meter dengan volume 420 meter persegi. Dengan total perambatan panjang 500 meter dan lebar 2,4 meter dengan volume 600 meter persegi.

Ketiga penyenderan aliran subak sampai dengan empelan subak banjar kertajiwa dengan panjang 700 meter, lebar atas 0,40 meter, lebar bawah 0,60 meter, tinggi 2 meter dengan volume 563 meter persegi, dan bedah rumah 2 unit atas nama Wayan Riki dan Wayan Wardana.

Keempat, yakni kegiatan non fisik berupa penyuluhan dan sosialisasi keagamaan, bela negara, wawasan kebangsaan, terorisme dan paham radikalisme, lingkungan hidup dan kehutanan, serta pertanian.

Kelima, personil yang dilibatkan meliputi tenaga tetap lapangan satu SSK gabungan TNI/Polri dan Pemkot Denpasar berjumlah 150 orang, tenaga pendukung kegiatan fisik dari Desa Kesiman Kertalangu 50 orang per hari, dan tenaga pendung tidak tetap dari Pemda,Ormas, dan Komponen Masyarakat.

Baca juga :  Pastikan Terapkan Protokol Kesehatan, Dispar Bali Monitoring Industri Pariwisata

“Mekanisme kegiatan secara bertahap dan berlanjut dengan diawali pra TMMD dari tanggal 4 Agustus sampai dengan 9 September 2020 dengan anggaran Rp. 483,5 juta. Dukungan pengadaan material bersumber dari APBD Kota Denpasar dan anggaran desa sebesar Rp 1,2 miliar lebih,” ungkap Dandim 1611/Badung Kolonel Inf. I Made Alit Yudana.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Denpasar A.A.N. Rai Iswara mewakili Gubernur Bali menyampaikan terima kasih atas kegiatan TMMD ini. Menurutnya, keberadaan TMMD sangat dibutuhkan terutama oleh masyarakat desa.

“Saya memandang program TMMD sebagai salah satu upaya efektif dalam rangka mewujudkan tujuan pembangunan desa seperti diamanatkan dalam pasal 78 Undang-undang nomor 6 tahun 2014 tentang Desa, yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kualitas hidup manusia serta penanggulangan kemiskinan melalui pemenuhan kebutuhan dasar, pembangunan sarana dan prasarana desa, pengembangan potensi ekonomi lokal, serta pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Di mana pelaksanaan pembangunan desa, lanjut dia, meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan, serta pembangunan desa dengan mengedepankan kebersamaan, kekeluargaan, dan kegotongroyongan, guna mewujudkan pengarusutamaan perdamaian dan keadilan sosial. alt

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.