Tingkatkan Produksi Pangan, Bangli Targetkan Program PM-AAS  Seluas 453 Hektar

PEMKAB Bangli menjalankan program Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang dimotori Kementerian Pertanian. Untuk di Bangli, program ini ditarget seluas 453 hektar tahun 2026. Program PM-AAS perdana dilakukan di Subak Tembuku Kawan, Kecamatan Tembuku. Foto: ist
PEMKAB Bangli menjalankan program Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang dimotori Kementerian Pertanian. Untuk di Bangli, program ini ditarget seluas 453 hektar tahun 2026. Program PM-AAS perdana dilakukan di Subak Tembuku Kawan, Kecamatan Tembuku. Foto: ist

POSMERDEKA.COM, BANGLI – Untuk meningkatkan produksi pertanian, Pemkab Bangli menjalankan program Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang dimotori Kementerian Pertanian.  Untuk di Bangli, program ini ditarget seluas 453 hektar tahun 2026. Saat ini program percontohan program PM-AAS sudah dilakukan di sejumlah subak.

“Tadi secara perdana kami lakukan di Subak Tembuku Kawan, Kecamatan Tembuku. Jumat akan kami lakukan di Kecamatan Susut,” ungkap Kadis Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli, I Wayan Sarma, Senin (27/7/2026).

Read More

Selain Kecamatan Tembuku dan Susut, dia berujar program PM-AAS akan dilakukan di Kecamatan Bangli. Sebab, dari empat kecamatan di Bangli,  hanya tiga kecamatan yang mempunyai luasan sawah. Program ini diklaim sebagai upaya dalam peningkatan produksi padi. “Rata-rata saat ini baru menghasilkan 50 ton per hektar, menjadi 100 ton per hektar. Ini program luar biasa, upaya peningkatannya itu mencapai 100%,” ucapnya.

Menurut Sarma, salah satu teknologi yang  diupayakan adalah tanam benih langsung atau lebih dikenal tabela oleh masyarakat. Pada intinya, upaya ini adalah menambah dan merapatkan jarak tanam. Dengan demikian populasinya per hektar lebih tinggi dan diharap produksinya juga lebih tinggi.

Meski demikian, Sarma mengakui sarana produksi yang dibutuhkan juga lebih tinggi. Semisal benih yang dibutuhkan biasanya hanya 15 kg, ini menjadi 70 kg per hektar. Demikian pula untuk kebutuhan pupuk urea yang semula 150 kg per hektar, melonjak menjadi 200 kg per hektar. “Selain. Itu,  NPK  yang biasanya dibutuhkan 200 menjadi 300 kg per hektare. Jadi, terjadi penambahan sarana produksi untuk meningkatkan jumlah produksi,” terangnya.

Karena itu, dia berharap petani sungguh-sungguh dalam upaya peningkatan produksi ini. Penyuluh juga harus sungguh-sungguh melakukan pendampingan. “Kami di Kabupaten akan selalu mendukung upaya-upaya dalam peningkatan kesejahteraan petani,” janjinya memungkasi. gia

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.