Terowongan Zaman Belanda Ditemukan di Areal Proyek Bendungan Tamblang

  • Whatsapp
PETUGAS dari Disbud Buleleng mengecek keberadaan terowongan zaman penjajahan Balanda yang ditemukan di areal proyek pembangunan Bendungan Tamblang, Buleleng. Foto: ist
PETUGAS dari Disbud Buleleng mengecek keberadaan terowongan zaman penjajahan Balanda yang ditemukan di areal proyek pembangunan Bendungan Tamblang, Buleleng. Foto: ist

BULELENG – Para pekerja yang menggarap penggalian untuk as bendungan tepatnya di area genangan air pada Bendungan Tamblang, pada Sabtu (21/11/2020) lalu dikejutkan dengan ditemukannya sebuah terowongan yang diduga sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda dahulu yang dianggap merupakan peninggalan sejarah.

Lokasi terowongan bersejarah yang ditemukan berada di Desa Sawan, Kecamatan Sawan, Buleleng, yang masih dalam satu areal bendungan Tamblang tepatnya pada area genangan bendungan. Temuan ini mendapatkan perhatian dari Dinas Kebudayaan (Disbud) Buleleng, yang pada Kamis (3/12/2020) langsung ke lokasi meninjau atas temuan terowongan zaman penjajahan Belanda itu.

Bacaan Lainnya

Saat ditelusuri, diperkirakan terowongan itu memiliki dua jalur namun hanya sekitar 10 meter dari panjang terowongan tersebut yang bisa ditempuh karena sisi lainnya sudah tertutupi reruntuhan. Tinggi lubang pada terowongan tersebut mencapai sekitar 180 centimeter.

Untuk lebar bawah sekitar 80 centimeter dan lebar atas sekitar 40 centimeter. Pada bagian dinding terowongan itu tampak seperti konstruksi buatan manusia. Dari informasi diperoleh warga sekitar, terowongan tersebut memang ada sejak lama bahkan diduga ada pada zaman penjajahan Belanda untuk terowongan subak.

Baca juga :  Ketua DPRD Buleleng Ucapkan Selamat Galungan dan Kuningan, Ajak Masyarakat Patuhi Prokes

Tenaga Ahli Geologi dari PT Adijaya KSO yang mengerjakan pekerjaan Bendungan Tamblang, Herry Suwondo, mengatakan, terowongan kuno yang dimanfaatkan sebagian masyarakat ini memang sebagai terowongan subak. ‘’Informasi diterima, konstruksinya terhambat, karena di tengah jalur terowongan ada batu keras, sehingga tidak diselesaikan dan tidak digunakan,’’ kata Herry.

Temuan terowongan inipun telah disampaikan kepada Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida dan juga Dinas Pekerjaan Umum dan tata Ruang (PUTR) Provinsi Bali, untuk segera ditindaklanjuti. Mengingat, lokasi terowongan itu terletak tepat pada area genangan Bendungan Tamblang.

‘’Kalau terowongan itu dibiarkan, akan menimbulkan kebocoran pada bendungan tersebut. Kami masih menunggu untuk penanganan seperti apa, apakah dilestarikan atau gimana. Kalau masuk area genangan tidak bisa diselamatkan,’’ jelas Herry.

Sementara Kepala Disbud Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara, menjelaskan, dari hasil pengecekan terowongan itu diperkirakan untuk aliran air dari Sungai Aya hingga ke Desa Jagaraga. Namun karena ada kendala maka prosesnya tidak dilanjutkan.

Dody pun berharap, jika memang tidak mengganggu konstruksi Bendungan Tamblang, Terowongan ini agar bisa dilestarikan karena merupakan warisan leluhur sejak zaman penjajahan Belanda. Untuk itu Dody mengaku, akan segera berkoordinasi dengan Pemprov Bali.

‘’Ini warisan budaya dari sisi tata kelola air, berkaitan dengan fungsi bendungan. Ini bisa menjadi sarana edukasi di dunia pendidikan yakni terkait pendahulu membuat saluran air dengan metode yang sangat sederhana. Ini segera akan kami koordinasikan dengan pemerintah Provinsi Bali,’’ pungkas Dody Sukma. rik

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.