Tari Puspaning Angaji, Refleksi Keikhlasan Guru Dalam Mendidik

KASEK I Ketut Gede Adi Trisna Sugara bersama siswa usai menarikan tari kebesaran SMP PGRI 8 Denpasar, Tari Puspaning Angaji. Foto: ist

DENPASAR – Keluarga besar SMP PGRI 8 Denpasar sangat berbangga hati karena saat ini telah memiliki tari kebesaran atau tari maskot yang dinamai Tari Puspaning Angaji. Tari maskot yang dipentaskan perdananya (nuasen) dilaksanakan bertepatan dengan Hari Raya Saraswati, Sabtu (26/3/2022), memang ditata dengan sangat artistik.

Komposisi gerak tarinya dipenuhi beragam repertoar gerak yang menghembuskan “napas” kebaruan dengan tetap berpijak pada pakem-pakem gerak tari Bali yang khas, unik, dan estetis. Pemilihan busana dan aksesori pendukungnya yang didominasi warna merah dan biru keemasan mencuatkan kesan agung dan megah pada tarian yang komposisi gerak tari dan tabuh digarap oleh guru-guru Griasta–nama keren SMP PGRI 8 Denpasar– tanpa melibatkan unsur dari luar sekolah.

Bacaan Lainnya

Kepala SMP PGRI 8 Denpasar, I Ketut Gede Adi Trisna Sugara, ST., M.Pd., mengungkapkan, fungsi dan peran guru tak bisa digantikan oleh teknologi dan robot. Karenanya, ia selalu mengingatkan para pendidik di SMP PGRI 8 Denpasar memiliki semangat seperti Tari Puspaning Angaji.

‘’Tarian ini menceritakan seorang guru dengan tulus ikhlas dalam melaksanakan proses pembelajaran dan menjadi inspirasi guna melahirkan siswa yang berkarakter, cerdas, dan kreatif,’’ ujar Sugara.

Menurut Sugara, garapan Tari Puspaning Angaji diwujudkan dalam bentuk tari kreasi yang ditarikan secara berkelompok dengan jumlah lima orang penari putri. Pemilihan penari perempuan dimaksud untuk mempresentasikan keindahan, keluwesan, dan kecantikan seperti Sang Hyang Aji Saraswati.

Baca juga :  Gedong Penyimpenan Pura Dalem Setra Sidayu Tojan Terbakar, Kerugian Capai Rp200 Juta

Sedangkan penetapan jumlah penari lima orang didasarkan atas pertimbangan kebutuhan koreografi agar dapat membentuk desain-desain komposisi lantai yang menarik dan dinamis, baik ketika ditarikan di area panggung yang luas atau pun area panggung yang kecil. Penyajian tari maskot ini dirancang dengan durasi waktu sekitar delapan menit.

Disisi lain, ia mendaku apalah arti menjadi seorang kepala sekolah tanpa dukungan guru-guru. Makanya, ia menyampaikan terima kasih kepada para guru yang terus memompa semangat siswa untuk tidak berhenti berprestasi lewat motivasi dan semangat bekerja keras, kerja cerdas, kerja berkualitas, kerja tuntas, dan kerja ikhlas. Fokus dan bertanggung jawab pada tugas, dan terakhir tak pernah mati inovasi dan kreasi.

Melihat perkembangan SMP PGRI 8 Denpasar, ia yakin siswanya menjadi pemilik masa depan dan berkarakter. Alasannya, mereka diproses secara berkualitas dengan tata kelola pendidikan yang baik dilandasi hati, niat, batin, dan semangat menjadikan SMP PGRI 8 Denpasar sekolah favorit. tra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.