Tanpa Nasi ‘’Wong-Wongan’’, Upacara Peneduh Jagat Dilaksanakan dengan ‘’Segehan’’ Putih Sembilan ‘’Tanding’’

  • Whatsapp
KETUA PHDI Bali, Prof. I Gusti Ngurah Sudiana. Foto: net
KETUA PHDI Bali, Prof. I Gusti Ngurah Sudiana. Foto: net

DENPASAR – Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali akan melaksanakan upacara Peneduh Jagat yang dipusatkan di Pura Besakih pada 22 April 2020. “Upacara ini dilaksanakan secara berjenjang yang dipusatkan di Besakih, lanjut di Pura Kahyangan Tiga, dan kemudian upacara di rumah tangga,” kata Ketua PHDI Bali, Prof. I Gusti Ngurah Sudiana di Denpasar, Sabtu (18/4/2020).

Menurutnya, upacara peneduh jagat ini merupakan lanjutan upacara yang telah diinstruksikan Gubernur Bali Wayan Koster, terkait nyejer pejati dari 31 Maret sampai dengan pandemi Covid-19 selesai. Dan, menurut lontar Yoga Segara Gumi yang merupakan sumber dari upacara itu, lanjut dia, upacara peneduh jagat ini dilaksanakan hanya sewaktu-waktu. “Upacara peneduh gumi ini dilakukan jika ada penyakit gering agung dan sebagainya,” lanjutnya.

Baca juga :  Ratusan Pemulung di TPA Suwung Digelontor Sembako

Dikatakannya, upacara ini tidak bisa hanya dilakukan di Besakih saja. Akan tetapi dilanjutkan berjenjang hingga tingkat rumah tangga. “Upacara untuk di rumah tangga dilaksanakan di merajan, sedangkan di Khayangan Tiga itu dilaksanakan oleh prajuru. Ini serentak setelah upacara di Besakih selesai, lanjut hari itu juga dilaksanakan upacara di Khayangan Tiga dan rumah tangga,” jelasnya.

Untuk upacakara sendiri, kata dia, di rumah tangga menggunakan sarana pejati dan segehan putih sembilan tanding yang diberikan kepada bhuta dan kala, yang diharapkan bisa menetralisir gering agung ini. Sedangkan di Khayangan Tiga juga mengaturkan pejati dan upacaranya lebih besar.

“Kita harapkan dengan upacara ini, masyarakat Bali bisa lebih tenang dalam menghadapi situasi seperti ini. Oleh karena itu, doa ini sangat penting untuk memperkuat keyakinan untuk bisa meningkatkan imun tubuh, sehingga virus Corona yang sangat mengkhawatirkan ini bisa diantisipasi, dan tubuh ini tidak bisa tertular. Itu yang terpenting,” bebernya.

Baca juga :  Putus Mata Rantai Covid-19, PKK RT 5 Dusun Wanasari Ikut Penyemprotan Disinfektan

Ditambahkannya, untuk di Besakih dimulai pada pukul 09.00 Wita, desa adat pada siang hari, dan di rumah tangga pada sore hari. “Dengan doa serentak seluruh umat Hindu melalui upacara peneduh jagat ini, kekuatan doa serada bhakti akan jauh lebih meningkat dan kuat dibandingkan dengan doa yang dilakukan sendiri-sendiri. Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan upacara serantak secara bersama-sama,” tambahnya.

Sementara saat ditanya apakah nantinya tidak menggunakan nasi wong-wongan seperti yang pernah diinstruksikan dari Majelis Desa Adat Provinsi Bali? Prof. Sudiana mengatakan, bahwa sarana upakara itu sudah pernah dilakukan. “Nasi wong-wongan sudah. Tidak boleh dikasi terus  nasi wong-wongan, nanti bosan buta kala-nya,” ujarnya.

Baca juga :  Wow..., Kakek 75 Tahun Cetak Gol Sepakbola Profesional

Upacara ini, kata dia, juga tidak menggunakan sarana bungkak seperti dalam upacara nasi wong-wongan. “Bungkak ten nganggen. Mahal bungkaknya. Di rumah habis bungkak saya dipetik untuk upacara itu,’’ tandasnya sembari melepas tawa. alt

banner 728x250 banner 728x250 banner 728x250 banner 728x250 SMK BALI DEWATA

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.