POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Sungai memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Sungai menjadi sumber air untuk kehidupan, baik untuk konsumsi, irigasi dan berbagai kebutuhan domestik lainnya.
Jika dikelola dengan baik, sungai juga dapat berfungsi sebagai pengendali bencana, baik untuk pengurangan banjir dan mitigasi kekeringan. Banjir yang kerap terjadi saat musim hujan akibat perilaku manusia yang kurang bersahabat dan tidak sayang kepada alam ini, salah satu contoh membuang sampah sembarangan, sehingga ketika musim hujan saluran got atau sungai tak mampu mengalirkan air maka terjadilah banjir.
Kondisi inilah yang ikut menggerakkan berdirinya Komunitas Peduli Sungai Taman Magendra Tembau Kaja, Kelurahan Penatih, Denpasar Timur. Tokoh masyarakat Tembau Kaja, I Made Larayasa, mengatakan komunitasnya aktif merancang berbagai kegiatan untuk mengurangi pencemaran di sungai. Mulai dari aksi bersih-bersih sungai atau susur sungai, hingga penyampaian berbagai edukasi untuk masyarakat terkait pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian sungai.
“Meskipun namanya komunitas peduli sungai, bukan berarti kegiatan kami hanya berfokus pada bersih-bersih sungai. Karena kalau cuma bersih-bersih sangat tidak efektif. Kegiatan kami juga memberikan edukasi masyarakat agar usaha kami menjaga sungai ada dampak jangka panjangnya,” ujar Larayasa, Senin (17/2/2025).
Dia mengungkapkan, Hyang Widhi menciptakan alam sebagai badan adalah menjadikan badan-Nya itu sebagai media kehidupan umat manusia dan mahluk hidup lainnya. Kalau eksistensi badan-Nya diganggu yang rugi bukan Hyang Widhi tetapi mahluk hidup sendiri terutama umat manusia.
Sungai Taman Magendra, kata dia, adalah sebuah aliran air jernih yang berada di sisi timur lingkungan Tembau Kaja, Desa Adat Tembau, Kelurahan Penatih, Denpasar Timur, menyimpan potensi wisata alam yang menawan. Sungai ini menawarkan panorama alam asri yang menyejukkan mata dan jiwa, jauh dari hiruk pikuk keramaian.
Sungai Taman Magendra dikelilingi oleh pepohonan rindang dan rimbun, menciptakan suasana sejuk dan teduh. Aliran airnya yang jernih dan tenang memungkinkan pengunjung untuk melihat bebatuan dan melakukan aktivitas memancing ikan. “Suara gemericik air yang menenangkan dan udara segar yang bebas polusi menjadikan Sungai Taman Magendra tempat yang ideal untuk relaksasi dan melepas penat,” ujarnya.
Di sisi timur aliran Sungai Taman Magendra, terdapat pelinggih yang disucikan oleh karma Desa Adat Tembau. Jika ada ritual pujawali di desa setempat, tradisi pemelastian dilaksanakan di lokasi tersebut.
Inilah kata Made Larayasa yang menjabat Kepala Seksi (Kasi) Pemerintahan Ketenteraman, Ketertiban dan Kebersihan Kelurahan Penatih, tujuan dibentuknya Komunitas Peduli Sungai Taman Magendra untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan khususnya terhadap alam semesta, dimana umat Hindu telah memiliki ajaran dengan konsep Tri Hita Karana yaitu Parhyangan hubungan manusia dengan Tuhan, Pawongan yaitu hubungan sesama manusia agar tetap terjalin dengan baik Vasudevakuthumbakam semangat menyamabraya semua saudara serta Palemahan yaitu hubungan manusia dengan alam atau lingkungannya.
“Oleh karena itu manusia wajib menjaga alam dan menyayangi alam juga. untuk menjaga kesucian diri dan juga alam semesta kita wujudkan nilai – nilai dari Sad Kertih. Salah satunya adalah Danu Kertih yaitu suatu upaya untuk menjaga kelestarian sumber air tawar di daratan seperti sumber mata air, danau, dan sungai,” pungkasnya. tra























