BANGLI – Meski di Bangli tak ada lokalisasi, tapi tidak jaminan warga Bangli bebas dari penyakit seksual. Buktinya, sampai kini terdata yang mengambil obat di Klinik Adenium RSU Bangli sebanyak 18 warga yang terjangkit HIV/AIDS.
Data di VCT Bangli, dari Januari-Oktober 2022 penderita HIV/AIDS berjumlah 18 orang, tersebar di empat kecamatan. Namun, ada beberapa orang yang memeriksakan diri ke RSU Gianyar maupun ke yayasan di Ubud, sehingga tidak terdata di Bangli.
“Kalau dikalkulasi jumlah data Diskes Bali dan VCT, jumlah penderita HIV/AIDS di Bangli mencapai puluhan orang lebih, tersebar di empat kecamatan,“ ujar Kadiskes Bangli, dr. Nyoman Arsana, Kamis (1/12/2022).
Lebih lanjut diungkapkan, jika ditelisik lebih dalam lagi, jumlah penderita HIV/AIDS melebihi dari angka tersebut. Meningkatnya kasus HIV/AIDS setiap tahun akibat kesadaran masyarakat sangat rendah menjaga kesehatan mereka. Sebab, HIV bisa menular melalui hubungan seks bebas, narkoba dengan jarum suntik dipakai banyak orang, dan lewat ibu yang terinfeksi saat menyusui anaknya.
Karena itu, dia minta masyarakat lebih sadar memeriksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit. Sebab, warga yang menderita HIV/AIDS tak mau membuka diri, karena takut didiskriminasi atau dikucilkan masyarakat. Menimbang situasi itu, dia tidak ingin masyarakat mendiskriminasi pengidap HIV AIDS.
“Kalau tidak diskriminasi, mereka pasti mau membuka diri. Maka dari itu kami mengimbau masyarakat tidak mendiskriminasi penderita HIV/AIDS. Penyebaran HIV/AIDS ibarat fenomena gunung es,“ paparnya.
Menekan angka kasus HIV/AIDS bertambah, instansinya melakukan berbagai kegiatan penyuluhan atau sosialisasi ke masyarakat dan ke sekolah-sekolah melalui kegiatan KSPAN. Tujuannya untuk menguatkan masyarakat agar bisa lebih waspada. Jadi, butuh kesadaran tinggi dari masyarakat untuk menekan kasus HIV agar tidak makin bertambah.
Dinas juga menerapkan program Pencegahan Penularan Lewat Ibu ke Anak (PPIA). Jadi, setiap ibu hamil yang memeriksa kehamilan disarankan untuk melakukan cek darah.
Para pasien yang memeriksakan diri ke puskesmas di Bangli akan ditawarkan untuk mengecek darah, sehingga diketahui apakah mengidap HIV/AIDS atau tidak. Hanya, jika mereka tidak mau, pihaknya tidak bisa memaksa.
“Kita juga wajib menjaga perasaan pasien, karena itu butuh kesadaran dari yang bersangkutan. Tapi bagi yang berkenan dan diketahui mengidap HIV/AIDS, mereka akan ditangani lebih lanjut untuk diberi pengobatan lebih efektif,” jaminnya.
Jumlah orang yang terjangkit, sambungnya, adalah jumlah kumulatif dalam beberapa tahun belakangan. Penyebabnya akibat hubungan seksual, dan terjangkit virus itu di luar Bangli. gia
























