Tajen Diberangus, Permintaan Ayam Petarung Mulai Lesu

SALAH seorang peternak ayam petarung, Kadek Sudiarta (44) di Banjar Kayuambua, Desa Tiga, Kecamatan Susut. Foto: ist

BANGLI – Ditutupnya segala jenis perjudian saat ini, termasuk sabung ayam atau tajen, terasa dampaknya bagi peternak ayam aduan. Permintaan ayam menurun cukup signifikan, dan tidak menutup kemungkinan banyak peternak akan gulung tikar.

Salah seorang peternak ayam petarung, Kadek Sudiarta (44) di Banjar Kayuambua, Desa Tiga, Kecamatan Susut, Senin (5/9/2022) mengaku menggeluti usaha ternak ayam petarung sejak tahun 2003. Jenis ayam petarung yang dikembangbiakan mulai dari jenis sweater, black bonanza, black grey dan jenis lainnya.

Read More

”Sebelumnya kami coba peruntungan dengan ternak babi, tapi karena harganya fluktuatif. Melihat pangsa pasar yang menjanjikan, kami beralih budidaya ayam petarung,” tuturnya.

Dia memelihara 594 ekor ayam, yang biasanya dijual ketika menginjak usia 17 bulan. Harga ayam di kisaran Rp2 juta sampai Rp3 juta per ekor. Untuk pangsa pasar, Sudiarta mengaku memiliki pelanggan tetap dari seputaran Bangli, Denpasar, Karangasem dan Gianyar.

Selain itu juga pembeli setia dari luar Bali seperti dari Manado, Kupang, Flores dan wilayah Sumatera. Untuk pembeli dari luar Bali, selain datang langsung melihat kondisi ayam, juga transaksi lewatonline atau daring.

Ayam yang dikirim ke luar Bali biasanya lewat udara, dan untuk dokumennya sudah ada yang bertanggung jawab. “Kami hanya sebatas menjual ayam di tempat,” jelasnya.

Soal penutupan segala bentuk perjudian, dia mengakui merasakan dampaknya. Permintaan ayam kini mengalami penurunan cukup signifikan.

Dalam kondisi normal, dalam artian tajen masih “ditoleransi” aparat keamanan, ayam yang laku terjual antara 10 sampai 20 ekor per bulan. Sekarang yang laku baru delapan ekor, yang diprediksi akan membuat para peternak mulai banting harga.

Meski kondisi sedang tidak bagus untuk barang dagangannya, dia menegaskan tetap mempertahankan harga karena berbicara citra peternak. Misalnya saat pandemi Covid-19 banyak peternak menjual ayam dengan harga murah, tapi dia tetap mempertahankan harga.

“Justru permintaan ayam datang dari NTT, begitu pula sekarang, menurut pandangan kami, mungkin bisa saja dalam beberapa bulan ke depan situasi kembali normal,” ucapnya bernada harap. gia

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.