Sumbangan Devisa Bali Jadi Posisi Tawar Pemulihan Ekonomi

  • Whatsapp
AAN Adhi Ardhana. Foto: gus hendra
AAN Adhi Ardhana. Foto: gus hendra

DENPASAR – Longgarnya aturan kapasitas maksimal kursi pesawat dari 50 persen menjadi maksimal 70 persen, memang memberi harapan baru untuk pariwisata Bali. Namun, pada saat yang sama juga harus dibarengi dengan kewaspadaan tinggi agar pariwisata tidak menjadi klaster baru penyebaran Covid-19. Selain itu, keberhasilan Bali menyumbang devisa setara Rp 140 triliun diharap menjadi pertimbangan khusus pemerintah pusat memulihkan perekonomian Bali.

Anggota Komisi II DPRD Bali, AAN Adhi Ardhana, Senin (15/6/2020) mengatakan, masalah ekonomi dan kesehatan adalah dua anak kandung kebijakan pemerintah untuk membuka kembali pintu pariwisata dengan syarat protokol kesehatan. Idealnya bukan yang mana diprioritaskan, tapi bagaimana keduanya bisa berjalan tanpa menghadirkan masalah baru. “Kita hanya bisa berharap penyelesaian pendemi di Bali berjalan baik, dan kita mempersiapkan protokol cleanliness (kebersihan), health (kesehatan) dan safety (keamanan) dengan baik di semua sektor,” terang politisi PDIP itu.

Baca juga :  Jagabaya Dulang Mangap Bersama Bank BRI Bagikan APD dan Sembako

Jika itu semua dijalankan dengan ketat, dia optimis kepercayaan dunia luar dapat kembali diraih. Hanya, pada saat yang sama eksponen pariwisata Bali juga wajib berhati-hati dalam memulainya. Jika semua belum tertata sesuai standar, langkah promosi juga relatif berat dilakukan oleh pemerintah daerah.

Masih terkait pemulihan pariwisata dan perekonomian Bali, dia mengutip data bagaimana pariwisata Bali menyumbang devisa 93,5 miliar dolar AS atau setara Rp 140 triliun. Catatan menjaga stabilitas mata uang rupiah itu dirasa menjadi poin strategis dan posisi tawar kuat Bali. Karena itu, jelasnya, pemerintah pusat seyogianya tidak mengabaikan Bali untuk memulihkan perekonomian yang dalam keadaan terseok-seok saat ini. “Itu salah satu topik pembahasan kami dengan Kepala kantor Perwakilan BI Cabang Bali tadi (kemarin, red),” urainya.

Baca juga :  16 Organisasi Profesi Kesehatan Keluarkan Pernyataan Sikap Atas Tuduhan Ambil Keuntungan Covid-19

Struktur ekonomi Bali sebelum pandemi, ungkapnya, 53 persen terkait pariwisata berupa usaha akomodasi, makan, minum. Jika dikaitkan dengan industri lain yang memiliki keterkaitan dengan pariwisata, akumulasi ketergantungan Bali mencapai 70 persen. Kondisi ini menjadikan Bali sangat berdampak dan butuh perhatian khusus oleh seluruh pemangku pemerintahan baik pusat maupun daerah.

Dari beberapa upaya perbaikan ekonomi jangka pendek, dia mendorong pemerintah pusat dengan pembiayaan APBN mendorong pembangunan infrastruktur di Bali dengan program padat karya. Langkah ini sekurang-kurangnya dapat mempertahankan daya beli dan konsumsi masyarakat dengan upah yang diterima. Ardhana menekankan agar ada keberpihakan dengan pemain lokal untuk pelaksana proyek, jangan dimonopoli pemain luar yang modalnya besar, sehingga efek berganda ekonomi benar-benar dirasakan rakyat Bali. “Kami juga mendorong pemerintah daerah agar dapat memberi subsidi bunga kredit untuk penguatan modal ekonomi lokal, melalui Pergub Penguatan Modal Perekonomian Bali,” tandasnya. hen

banner 728x250 banner 728x250 banner 728x250 banner 728x250 SMK BALI DEWATA

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.