Sorgum, Tanaman Pangan Alternatif Mulai Dikembangkan Petani di Buleleng

  • Whatsapp
PANEN perdana jagung sorgum, di Subak Anyar Tegalinggah Tempek Dargin Margi, Desa Tegalinggah, Buleleng. Foto: rik
PANEN perdana jagung sorgum, di Subak Anyar Tegalinggah Tempek Dargin Margi, Desa Tegalinggah, Buleleng. Foto: rik

BULELENG – Petani di Subak Anyar Tegalinggah Tempek Dargin Margi, Desa Tegallinggah, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Selasa (29/9/2020) melakukan panen perdana jagung sorgum. Padahal tanaman pangan ini sudah lama ditinggalkan para petani, namun kembali diperkenalkan di Buleleng.

Panen perdana ini disaksikan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Dinas Pertanian Buleleng, dan para petani di Desa Tegalinggah. Kepala Dinas Pertanian (Distan) Buleleng, Made Sumiarta, mengatakan, ada alasan sehingga budidaya tanaman jagung sorgum kembali diperkenalkan kepada petani.

Bacaan Lainnya

Yakni, jagung sorgum salah satu ciri khas tanaman pangan di Buleleng. Ini dapat dilihat dari lambang Kabupaten Buleleng, yakni Singaraja Ambaraja memegang hasil tanaman pangan jagung sorgum.

‘’Jadi ciri khas tanaman pangan sorgum di Buleleng sudah lama ada. Kami sebenarnya berpotensi mengembalikan kejayaan tanaman pangan ini. Kami pilih di wilayah Desa Tegalinggah, karena subak ini lokasi deplot penanaman awal jagung sorgum yang hasilnya dikembangkan menjadi benih bibit,’’ kata Sumiarta.

Wilayah Buleleng yang kering, sangat cocok untuk mbudidayakan tanaman jagung sorgum. Ke depan, tanaman jagung sorgum akan bisa dikembangkan di seluruh wilayah di Buleleng. Menurut Sumiarta, dirinya sudah menyiapkan lahan sekitar 25 hektar yang rencana ditanam jagung sorgum pada November nanti.

Baca juga :  Supaya 19,9 Juta Peserta BPJS PBPU-BP jadi PBI, Ini Solusi Mensos

Karena hasil panen jagung sorgum di Subak Anyar Tegalinggah ini sebatas pengembangan benih dasar, nantinya benih ini akan disebar untuk ditanam di wilayah Kecamatan Gerokgak dan juga Kubutambahan. ‘’Luas 25 hektar itu untuk budidaya jagung surgum, kami rasa masih kurang karena begitu luas lahan pertanian di Buleleng,’’ ujar Sumiarta.

Saat ini untuk benih bibit dasar jagung sorgum baru ditanam di dua lokasi Desa Tegalinggah dan Desa Sambangan. Dengan hasil produksi sekitar 1 hektar lahan mencapai 3 ton. ‘’Mudah-mudah diikuti oleh petani lainnya. Kemudian Buleleng menjadi pusat sorgum atau jagung gembal,’’ harap Sumiarta.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Wayan Sunarta, menjelaskan, jagung sorgum sebenarnya salah satu tanaman alternatif selain tanaman pangan padi. Apalagi lahan persawahan yang terbatas lebih lagi masa pandemi covid-19 saat ini.

‘’Biaya operasional lebih sedikit dikeluarkan petani. Mulai dari pupuk, bibit dan lebih hemat air. Keunggulan dari jagung sorgum, selain kandungan gula sedikit, juga dapat diolah menjadi berbagai bahan makanan lainnya. Bahkan menjadi tepung,’’ jelas Sunarta.

Sementara petani Subak Anyar Tegalinggah Tempek Dargin Margi, Desa Tegalinggah, Gede Sukrada, mengaku, jagung sorgum yang ditanam sejak Juni lalu, hanya menghabiskan biaya operasional pengolahan lahan sekitar Rp5 juta. Selain itu saat pengolahan todak banyak perlu air. ‘’Sangat tepat dengan kondisi lahan. Karena ini baru deplot hanya untuk bibit sorgum awal, kami kembangkan lagi,’’ pungkas Sukrada. 018

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.