SMPN 1 Denpasar Gelar “Workshop” Kurikulum Merdeka, Songsong Paradigma Baru dengan Spirit Mandiri Berubah

WORKSHOP Kurikulum Merdeka dan Review Kurikulum 2013 dalam rangka menyongsong penerapan paradigma baru di SMPN 1 Denpasar, Senin (25/4/2022)
WORKSHOP Kurikulum Merdeka dan Review Kurikulum 2013 dalam rangka menyongsong penerapan paradigma baru di SMPN 1 Denpasar, Senin (25/4/2022)

DENPASAR – SMPN 1 Denpasar tancap gas untuk menyiapkan diri melaksanakan Kurikulum Merdeka mulai tahun ajaran 2022/2023. Sebanyak 46 guru SMPN 1 Denpasar, Senin (25/4/2022) dikumpulkan guna mengikuti Workshop Kurikulum Merdeka dan Review Kurikulum 2013 dalam rangka menyongsong penerapan paradigma baru di SMPN 1 Denpasar.

Kepala SMPN 1 Denpasar, I Gusti Ayu Putu Tirtawati, S.Pd., mengatakan, SMPN 1 Denpasar telah mendaftarkan ke Kemendikbudristek untuk menjadi sekolah yang akan berpatisipasi dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, dengan spirit mandiri berubah. Kurikulum Merdeka akan diterapkan secara penuh mulai tahun ajaran 2022/2023 pada kelas 7, sementara kelas 8 dan 9 masih menerapkan Kurikulum 2013 namun rasa Kurikulum Merdeka yakni dengan menyisipkan pembelajaran berdiferensiasi dengan profil pelajar Pancasila dan memberikan proyek kepada peserta didik.

Bacaan Lainnya

Tirtawati mengibaratkan, penerapan Kurikulum baru ini sama seperti memasuki medan perang yang baru. Karenanya, untuk mengetahui pasti bagaimana medan perang ini, guru-guru terlebih dahulu dilatih agar nanti bisa menerapkan Kurikulum Merdeka secara utuh 100 persen.

Ketua Panitia workshop, Dr. Putu Eka Juliana Jaya, S.E., M.Si., mengatakan, workshop yang dilaksanakan selama empat hari mulai, Senin (25/4/2022) – Kamis (28/4/2022), dimaksudkan untuk memperkenalkan paradigma baru yang terkandung dalam Kurikulum Merdeka kepada stakeholder SMPN 1 Denpasar, terutama guru sehingga siap menerapkan Kurikulum Merdeka mulai tahun ajaran 2022/2023 di SMPN 1 Denpasar. Selain itu, kata Wawa Arjaya –demikian sapaan akrabnya– workshop bertujuan untuk memperdalam pemahaman Kurikulum 2013 dengan berorientasi kepada Kurikulum Merdeka, terutama pada penguasaan RPP berdiferensiasi dengan penguatan profil pelajar Pancasila.

Baca juga :  Gianyar Belum Terapkan Denda Tidak Bermasker, Ini yang Dilakukan

“Workshop ini juga untuk memberikan pemahaman terkait model pembelajaran project based learning,” ujarnya.

Dijelaskan, SMPN 1 Denpasar merupakan salah satu satuan pendidikan yang sarat prestasi, yang selama ini menjadi barometer dan rujukan sekolah di Denpasar, bahkan Bali. Sementara, Wawa Arjaya sendiri adalah guru penggerak angkatan 1 dan sudah mengikuti pembekalan selama 9 bulan.

Sebagai guru penggerak, ia wajib memberikan pengimbasan terkait pengetahuan yang sudah diperoleh kepada guru-guru yang lain sehingga seluruh guru memiliki pemahaman terkait spirit Merdeka Belajar dan paradigma baru dalam pembelajaran. Ia juga harus mendorong pergerakan untuk menerapkan merdeka belajar di lingkungannya.

“Astungkara, saya selaku guru penggerak dapat memberikan dampak positif dan berkontribusi bagi peningkatan mutu pendidikan di SMP Negeri 1 Denpasar,” katanya.

Dari kegiatan ini, peserta diharapkan nantinya memiliki pemahaman tentang konsep Kurikulum Merdeka. Juga memiliki pemahaman tentang konsep profil pelajar Pancasila, dimensi, elemen, sub elemen, memahami model pembelajaran project based learning.

Selain itu, kata Wawa Arjaya, dari workshop ini diharapkan peserta dapat menyusun modul ajar dan pengembangan modul proyek, dapat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dengan penguatan profil pelajar Pancasila, serta dapat menerapkan model pembelajaran project based learning. Wawa Arjaya menambahkan, dalam perjalanan, akan rutin diadakan coaching clinic oleh narasumber untuk mengawal jalannya penerapan Kurikulum Merdeka yang diawali dari siswa kelas 7.

Baca juga :  Buleleng Terima Bantuan Puluhan Ribu APD

Kabid Pembinaan SMP Disdikpora Kota Denpasar, AA Putu Gede Astara, ST., saat membuka workshop menekankan, perubahan kurikulum merupakan salah satu perubahan sistemik yang dapat memperbaiki dan memulihkan pembelajaran. Kurikulum menentukan materi yang diajarkan di kelas. Selain itu, kurikulum juga mempengaruhi kecepatan dan metode mengajar yang digunakan guru untuk memenuhi kebutuhan peserta didik.

Ia menegaskan, Kurikulum Merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana konten akan lebih optimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Guru memiliki keleluasaan untuk memilih berbagai perangkat ajar sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat peserta didik. “Kurikulum Merdeka ini sebagai upaya pemerintah memulihkan pembelajaran,” lugasnya.

Agenda workshop menghadirkan narasumber di antaranya, pengawas SMPN 1 Denpasar, Dra. Ni Nyoman Kartiniasih, M.Pd , yang mengupas cara mengoperasikan platform Merdeka Mengajar; pelatih ahli sekolah penggerak, I Made Arjana, S.Pd., M.Pd.; Kepala Sekolah Penggerak Kota Denpasar, Ni Luh Putu Rusmana, M.Pd., yang menyampaikan materi pembelajaran pradigma baru, dan Widya Iswara Ahli Madya BKPSDM Provinsi Bali, Dr. I Wayan Suandi, M.Pd., dengan materi penyusunan perangkat ajar. Narasumber lainnya, pelatih ahli sekolah penggerak, Cokorda Agung Anre Juniana, S.Pd, M.Pd., dan Ni Luh Putu Elly Prapti Erawati, M.Pd., yang menyampaikan materi projek penguatan profil pelajar Pancasila, dan assesmen pembelajaran. tra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.