DENPASAR – SMK PGRI 4 Denpasar sekolah swasta favorit di Denpasar kini memiliki teaching factory yang diberi nama “Paon Bhogi”. Gedung baru senilai Rp500 juta lebih itu diluncurkan, Senin (30/5/2022) bertepatan dengan pelepasan siswa kelas XII dan puncak HUT ke-22 SMK PGRI 4 Denpasar.
Peluncuran teaching factory “Paon Bhogi” ditandai dengan pemotongan tumpeng, pelepasan balon dan burung, serta pengguntingan pita oleh Ketua YPLP PGRI Kota Denpasar, Drs. I Nengah Madiadnya, MM.; bersama Kepala SMK PGRI 4 Denpasar, Drs. I Ketut Suara, M.Pd.; dan Ketua Komite SMK PGRI 4 Denpasar, Drs. IGB Wiadnyana, MM., M.Pd.; serta undangan lainnya. Kasek Ketut Suarya bersyukur pembangunan sarpras ini, sebab fasilitas yang lengkap diperlukan untuk mendidik anak muda zaman milenial.
Nama “Paon Bhogi” menurut Suarya memiliki makna tempat yang memberikan kenikmatan dalam menghasilkan produk makanan dan minuman. Ia yakin teaching factory yang dikonsep seperti gaya kafe ini diminati anak muda.
Suarya mengakui calon siswa baru dan masyarakat saat ini semakin cerdas menentukan pilihan sekolah. Mereka percaya kalau langsung meninjau fasilitas sekolah.
Ketua Komite IGB Wiadnyana menegaskan, sejak awal sekolah ini berdiri di Jalan Kebo Iwa Selatan, Padangsambian, tahun 2006 pihaknya komitmen terus meningkatkan fasilitas sekolah. Dengan tambahan teaching factory “Paon Bhogi” akan semakin meningkatkan mutu pendidikan SMK PGRI 4 Denpasar. ‘’Berkat tampilan berkualitas ini pula yang membuat SMK PGRI 4 Denpasar dikejar oleh masyarakat,’’ tegasnya.
Kasek Suarya dan IGB Wiadnyana bertambah bahagia dan tersenyum saat melepas siswa kelas XII. Dari 328 siswa kelas XII yang dilepas berasal dari tiga program studi yaitu Akomodasi Perhotelan, Tata Boga, dan Multimedia, hampir 137 lulusan atau 50 persen lebih sudah diterima bekerja di hotel dan villa. Sementara sisanya 79 orang melanjutkan studi, dan 113 orang berwirausaha sekaligus sambil kuliah.
Ditekankan, lulusan SMK PGRI 4 Denpasar tak boleh bermental kerupuk. Sebaliknya harus bermental baja dengan berupaya membuka usaha mandiri. Lulusan SMK PGRI 4 Denpasar, kata Suarya, juga dikenal berkompetensi.
Buktinya, 50 persen lulusannya sudah diterima bekerja. Masa tunggu lulusannya juga tak lebih dari enam bulan setelah itu sudah bekerja. Untuk itu, lulusannya diminta untuk menjaga nama baik almamater dan menegakkan disiplin.
Apresiasi luar biasa disampaikan Ketua YPLP PGRI Kota Denpasar, I Nengah Madiadnyana. Ia menekankan, persekolahan PGRI di Kota Denpasar harus selalu ngegas. Artinya apa, pengelola dan pimpinan sekolah terus didorong berinovasi dan berbuat untuk kemajuan sekolah.
Menurut Madiadnyana, mengelola sekolah itu seperti naik sepeda. Untuk menjaga keseimbangan, kita harus terus bergerak. Keseimbangan yaitu bahwa agar kita bisa terus hidup secara normal atau balans maka kita harus terus bergerak alias bekerja. Ia menegaskan, saatnya sekolah PGRI kini fokus pada kualitas bukan lagi kuantitas. Ketika kualitas tercapai, saat itu kesejahteraan tercapai. tra























